EKBIS  

Sumut Hadapi Ancaman Perlambatan di 2025, Ini Solusi Pengamat Ekonomi

Gunawan Benjamin, M.M
Share

ArmadaBerita.Com — Pengamat Ekonomi saat Sumatera Utara (Sumut) Gunawan Bemjamin menyampaikan, laju pertumbuhan ekonomi Sumut di tahun 2025 ini memiliki tantangan yang rumit. Sektor komoditas unggulan Sumut tengah berhadapan dengan melemahnya kinerja ekspor. Dimana dalam satuan berat (Ton) membukukan penurunan ril sebanyak 10.5%. Meskipun secara nominal alami kenaikan sebesar 3% untuk periode Januari – November 2024.

“Pertumbuhan eknomi Sumut sebesar 5.03% secara kumulatif di tahun 2024 sebenarnya banyak diuntungkan dari perhelatan PON yang menelan anggaran signifikan. Namun di tahun ini, tantangan untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di level yang sama dengan tahun 2024 terlihat sulit,” kata Gunawan kepada wartawan, Kamis (27/2/2025).

Gunawan menyebutkan, bahwa tantangan utama Sumut ada pada penghematan anggaran yang dilakukan oleh pemerintah pusat yang akan merembet pada melambatnya akselerasi belanja pemerintah di daerah termasuk Sumut. Ditambah lagi ancaman perlambatan ekonomi dunia, yang berpeluang menekan kinerja ekspor di wilayah Sumut.

Agar pertumbuhan ekonomi Sumut bisa diakselerasi di angka 5%, kata Gunawan, maka Sumut membutuhkan investasi tambahan setidaknya 3 sampai 4 triliun, di luar pertumbuhan investasi Sumut sekitar 8% sampai 12% yang masuk lewat dinas penanaman modal satu pintu.

“Saya memperkriakan ekonomi Sumut akan tumbuh sekitar 4.4% hingga 4.8% di tahun 2025,” ujarnya.

Dengan tambahan investasi tersebut, sambung Gunawan, ada akselerasi pertumbuhan PDRB sebesar 0.6% hingga 0.8%. Sehingga diproyeksikan Sumut masih mampu tumbuh lebih tinggi dari realisasi pertumbuhan 2024. Setidaknya pertumbuhan ekonomi Sumut bisa didorong ke level 5.2% hingga 5.4%.

“Untuk mendapatkan dana tambahan pembangunan, pemerinah provinsi dapat melakukan sejumlah upaya diantaranya adalah menerbitkan obligasi, mengajukan sindikasi pembiayaan ke Bank Daerah, atau mengejar sejumlah anggaran kementerian untuk sektor produktif,” saran Gunawan.

Angggaran tersebut, kata Gunawan, bisa dialokasikan untuk mengakselerasi program pemerintah pusat dalam menjaga ketahanan pangan, swasembada, kesehatan maupun pendidikan. Artinya, anggaran tersebut memberikan multiplier efek yang besar dalam menjaga belanja masyarakat, menopang program ketahanan pangan, menutup defisit APBD, hingga menjaga pertumbuhan ekonomi tetap dikisaran 5%.

“Karena dengan penghematan anggaran, diproyeksikan aka nada banyak daerah yang mengalami defisit anggaran yang dipicu oleh melemahnya sumber pemasukan ditambah dengan dengan potensi realisasi PAD di bawah target,” jelas Gunawan. (Asn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *