ArmadaBerita.Com
Sembari menunggu hasil perhitungan suara resmi oleh komisi pemilihan umum (KPU), namun versi perhitungan suara cepat atau quick count telah menentukan bahwa pasangan Capres 02 Prabowo – Gibran sebagai pemenangnya.
“Pada dasarnya, siapapun Capres yang menang dalam pemilihan presiden akan menghadapi tantangan pengendalian pangan yang kian rumit di tahun 2024, atau bahkan di tahun – tahun mendatang,” kata Pengamat Ekonomi asal Sumut, Gunawan Benjamin kepada wartawan, Jum’at (16/2/2024).
Dikatakannya, walaupun tanggung jawabnya baru akan dipikul nanti setelah secara resmi dilantik, akan tetapi sebaiknya Capres sudah memiliki kerangka kebijakan yang akan diambil untuk memitigasi kemungkinan buruk pengendalian harga pangan kedepan. “Salah satu yang paling mengejutkan adalah bahwa surplus neraca perdagangan di tanah air merealisasikan angka yang lebih rendah dari ekspektasi,” sebut Gunawan.
Gunawan memaparkan, berdasarkan rilis data neraca perdagangan pada bulan Januari sebesar $2.01 Milyar, atau lebih rendah dari perkiraan sebelumnya di kisaran angka $2.99 Milyar. Maka dari itu, bilang Gunawan, kita patut mewaspadai kemungkinan terjadinya pelemahan kinerja ekspor yang dipicu oleh memburuknya harga komoditas unggulan ekspor tanah air, ditambah dengan memburuknya kinerja ekonomi Negara tujuan ekspor.
“Belum lagi dampak dari perang yang meluas yang bisa mengakibatkan kenaikan harga pangan yang timbul akibat gangguan rantai pasok,” paparnya.
Disisi lainnya, neraca perdagangan yang melemah justru sangat berpeluang menekan kemampuan pemerintah dalam melakukan importasi kebutuhan pangan seperi beras. Serta menjadi ancaman kenaikan harga pangan olahan lainnya seperti mie instan, kebutuhan protein hingga tahu dan tempe.
“Karena neraca dagang yang defisit justru bisa memicu pelemahan Rupiah. Indonesia pernah menghadapi neraca dagang yang defisit pada periode tahun 2012 hingga 2014. Dimana mata uang Rupiah kala itu terdepresiasi dari kisaran 8.900 menjadi 12.580 per US Dolar di Desember 2014,” jelasnya.
Disebutkannya pulah bahwa ada pelemahan sekitar 41 persen yang tentunya harus jadi pelajaran bagi presiden terpilih nantinya. Mengingat kita saat ini dikelilingi dengan banyak sentimen negatif seperti cuaca yang tidak bersahabat akibat pemasanan global, alih fungsi lahan pertanian, pelemahan harga komoditas unggulan yang melemahkan ekspor, kebijakan proteksi Negara surplus pangan hingga geopolitik.
“Jika Surplus terus mengecil, jelas memicu pelemahan rupiah yang akan membuat harga barang impor mengalami kenaikan. Nah impor kita untuk bahan baku pembuatan kebutuhan pangan cukup tinggi. Mulai beras, kedelai, sapi bakalan dan daging sapi, susu, hingga bahan baku untuk pakan ternak dan banyak kebutuhan impor lainnya,” sebutnya.
Jadi kalau Rupiah terus melemah, terang Gunawan lagi, maka harga kebutuhan masyarakat akan sulit untuk dijaga stabilitasnya. “Jadi bagi Presiden Indonesia kedepan, lakukan upaya maksimal agar ekspor bisa terjaga dan kita punya ruang pengendalian harga pangan yang lebih leluasa,” pungkasnya. (ASN)











