Medan, ArmadaBerita.Com
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) Triwulan II 2020 tercatat -2,3% (yoy) untuk pertama kalinya sejak krisis 1998. Meski demikian, kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat, dibandingkan dengan Nasional dan daerah lain di Sumatera, pertumbuhan di Sumut masih lebih baik.
“Kontraksi dipengaruhi penurunan permintaan domestik seiring dengan pembatasan sosial untuk mengurangi penyebaran Covid-19,” kata Wiwiek, kepada wartawan di Gedung BI Perwakilan Sumatera Utara, Lantai III, Selasa (6/10) pukul 10.00 WIB.
Selain itu, kata Wiwiek, penguncian wilayah di negara – negara mitra dagang turun dan menurunkan permintaan eksternal. Seluruh Lapangan Usaha (LU) utama terdampak hingga kontraksi, kecuali LU Pertanian.
Dalam mengatasinya, upaya stimulus fiskal menanggulangi dampak Covid-19 mengakselerasi pertumbuhan konsumsi pemerintah dan menahan penurunan ekonomi lebih lanjut.
“Namun pertumbuhan ekonomi Sumut yang memiliki Pangsa 24,35% masih lebih baik dari beberapa provinsi lain di Sumatera seperti, Riau, Lampung, Jambi, Sumbar, Babel, Bengkulu, dan Aceh,” sebutnya.
Di Triwulan III 2020, papar Wiwiek, pertumbuhan perekonomian Sumut mulai pulih meski terbatas. Untuk sesi permintaan yakni; konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, ekspor bergerak naik (Q2’20 – Q3’20;%YOY). Hanya saja di Impor mengalami penurunan. Sedangkan di Pertanian, Industri Pengolahan, Konstruksi, Perdagangan, dan Transpor & Pergudangan, juga mengalami kenaikan.
Kepala BI Sumut menyatakan, Konsumsi Rumah Tangga (RT) mulai pulih ditopang oleh pendapatan. Sejalan dengan kembali bekerjanya pekerja terdampak Covid-19. Pada massa adaptasi kebiasaan baru, beberapa perusahan kembali beroprasi, terutama pada sektor perhotelan.
“Sebanyak 13.933 pekerja dari 378 perusahaan terdampak Covid-19, kecuali sektor pertanian, dan industri pengolahan hasil perkebunan. Kemudian sebanyak 3. 228 pekerja dari 86 perusahaan telah kembali bekerja pasca adaptasi kebiasaan baru,” jelasnya.
Perbaikan konsumsi rumah tangga juga turut ditopang oleh pencairan intensif dari program kartu pra kerja. Perbaikan konsumsi rumah tangga pada Triwulan III 2020 juga dari beberapa indikator dari survei konsumen, dan survei penjualan eceran, serta global mobil itu report.
Selain itu, papar Wiwiek, Investasi lebih baik di triwulan sebelumnya didorong oleh investasi swasta yang bergerak di bidang kelapa sawit dan turunannya. Kemudian Net Ekspor membaik. Didukung pula harga CPO dunia yang menopang ekspor sawit. Sementara perbaikan barang ekspor dari karet dan turunannya juga lebih baik.
“Kecuali Jepang dan Brazil, ekspor karet ke negara utama mulai membaik. Perbaikan terutama dipicu oleh mulai bergeraknya aktifitas di negara tersebut pasca lockdown beberapa bulan sebelumnya,” ungkap Wiwiek.
Sementara itu, pelaku usaha pariwisata yang paling terasa terdampak Pandemi, terus memfokuskan strategi pada upaya bertahan (survival) hingga Pandemi berakhir.
Meski begitu, sebut Wiwiek, perlambatan ekonomi Sumut masih tertahan harga komoditas dan penyaluran PEN. “Seluruh komponen permintaan diprediksi bias ke bawah, sementara komponen LU utama akan membaik, terutama perdagangan dan pariwisata,” pungkasnya. (Nst)











