EKBIS  

Pasar Modal di Indonesia Membaik, 60 Persen Investornya Dibawah Usia 30 Tahun

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Perkembangan Pasar Modal di Indonesia mencatatkan pergerakan membaik. Dimana salah satu penggerak pemulihan ekonomi Indonesia juga dari pasar modal dan UMKM.

Muhammad Touriq, selaku Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A OJK (Otoritas Jasa Keuangan) mengatakan, selama tahun 2022 perkembangan pasar modal mengalami perkembangan cukup baik. Total pengumpulan dana selama 2022 berhasil dikumpulkan Rp 172,73 Triliun. Terdapat lebih kurang 57.186 pasar modal yang berizin atau terdaftar di Indonesia. Dari situ juga terdapat 9,7 juta investor.

“Nah, jumlah Investornya itu 60 persen dibawah usia 30 tahun, paling banyak di Pulau Jawa dan kemudian di Sumatera, lalu Kalimantan dan lainnya. Perkembangan pasar modal 2017-2022 sudah pulih dan merangkak paling tinggi di 5 September 2022,” kata Muhammad Touriq dihadapan sejumlah awak media pada acara media gathring wartawan di JW Marriott Hotel Medan, Senin (3/10/2022).

Jadi, ungkap Touriq, dari 9,7 juta investor yang 60 persennya dibawah berusia 30 tahun, artinya potensi untuk berkembang akan lebih baik karena masih diusia produktif.

“Rekor tertinggi itu tercatat pada 15 September 2022 dan untuk syariah nya juga menunjukkan perkembangan yang cukup dengan tumbuh hampir 8%. Kalau yang konvensional sekitar 6%. Untuk UMKM yang sudah tersimpan melalui SCS investornya ada 1041 dan dana yang berhasil dihimpun oleh UMKM itu 16,23 nah ini kira-kira peta yang ada di Sumatera Utara,” paparnya.

Maka dari itu, sebut Touriq, dalam rangka merespon stabilitas pasar dan pemulihan untuk menjaga stabilitas pasar modal demi mendukung percepatan ekonomi, dilakukan dengan Lima cara.

Pertama adalah kebijakan dalam merespon dampak Covid-19, kemudian pengembangan UMKM, peningkatan Supply produk, peningkatan investornya dan pengembangan berkelanjutan.

Touriq juga mengatakan, OJK juga mendukung pengembangan UMKM untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Di bidang pasar modal juga memfasilitasi UMKM dengan penerbitan POJK terkait dengan kebijakannya kemudian bagi pelaku UMKM melakukan pinjaman.

“Sebab, kontribusi UMKM itu untuk pertumbuhan ekonomi sebanyak 61%. Secara nasional itu per 30 September 2022 sudah ada 11 platform siklus hidrostatik. Jadi kalau kita tadi melihat angka 9,7 juta investor tapi kalau dibandingkan dengan total jumlah penduduk itu baru sekitar hanya 3% saja dan dan sisi usia produktif hanya sekitar 5%, sehingga masih banyak sebenarnya potensi yang kita cari untuk mengembangkan investor di Indonesia,” terangnya.

Dalam pemaparannya, Touriq menjelaskan, pemodal investor kita sekarang ada 9,7 juta investor. Dari total pengumpulan data selama tahun 2022 sebesar Rp172,73 Triliun dan dari mulai Januari sampai dengan 30 September ini berasal dari 163 penerbitan efek, baik saham, obligasi dan lainnya.

“Untuk jumlah perusahaan baru yang masuk ke pasar modal di tahun ini ada 48 perusahaan. 41 perusahaan yang memberikan saham dan 7 perusahaan yang mendapatkan obligasi, jumlah modal ini tumbuh 30% secara fisik sudah 9,73 persen,” jelasnya.

Untuk itu, OJK berupaya melakukan peningkatan jumlah investor di pasar modal dengan melakukan edukasi dan sosialisasi, sharing baik kepada wartawan, masyarakat umum, akademisi, komunitas-komunitas kemudian juga profesi-profesi

“Selain itu kita juga melakukan upaya perlindungan kepada investor dengan upaya preventifnya dan upaya represifnya,” pungkasnya.

Kegiatan itu turut dihadiri sebagai nara sumber yakni, Sarjito selaku Kepala Departemen Pengawasan dan Perlindungan Konsumen OJK atau Diputi Komisioner EPK OJK, kemudian I Gede Nyoman selaku Direktur PT Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Antonius Herman Azwar selaku Direktur PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), serta dimoderatori oleh Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Kantor Regional 5 Sumatera Bagian Utara, Untung Santoso. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *