EKBIS  

Jelang Ramadhan, Masyarakat Harus Diedukasi Untuk Menahan Demand Agar Harga Stabil

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Harga beberapa kebutuhan pangan pokok seperti beras, daging ayam dan bawang putih mengalami kenaikan belakangan ini di Kota Medan. Sementara untuk minyak goreng, cabai merah, dan cabai rawit mengalami penurunan.

“Dari pantauan PIHPS, harga beras kualitas bawah rata-rata di Kota Medan naik 150 rupiah per Kg. Harga beras kualitas bawah saat ini dijual dikisaran 10.150 hingga 10.350 per Kg nya,” ulas Ketua Tim Pemantauan Harga Pangan, Gunawan Benjamin, MM kepada wartawan, Rabu (15/3/2023).

Sementara daging ayam saat ini dijual dikisaran Rp 29.500 per Kg, lebih mahal dibandingkan dengan harga daging ayam selama februari akhir yang berada dikisaran Rp 28.500 per Kg. Bahkan selama bulan Maret ini, harga daging ayam sempat diperdagangkan dikisaran Rp 31.100 per Kg nya. Dan untuk bawang putih, saat ini dijual dikisaran rata rata Rp 29.800 per Kg. “Tren harga bawang putih sendiri mengalami kenaikan sejak September yang sempat ditransaksikan dikisaran 20 ribu per Kg nya,” urai Gunawan.

Untuk sejumlah harga yang mengalami penurunan yakni Cabai Merah yang berada dikisaran 31.200 per Kg. Lebih murah dibandingkan dengan harga di bulan februari yang pernah menyentuh 44 ribuan per Kg. Untuk Cabai Rawit harganya di Kota Medan turun dari posisi 40 ribu per Kg saat januari, menjadi 29.200 per Kg saat ini. “Dan minyak goreng curah juga mengalami penurunan dari 15 ribuan per Kg menjadi 14 ribu per Kg belakangan ini,” bilang Gunawan.

Untuk kenaikan harga Beras, Daging Ayam dan Bawang Putih, ujar Gunawan, faktor pemicunya adalah kenaikan harga jual barang tersebut yang banyak dipengaruhi oleh kenaikan biaya input produksi, harga pembelian dari Negara asal serta fluktuasi nilai tukar rupiah.

Sementara untuk penurunan harga Cabai Merah dan Cabai Rawit ini lebih dipengaruhi oleh produktifitas tanaman cabai yang meningkat. Sementara untuk harga Minyak Goreng turun dikarenakan sejumlah upaya pengendalian harga yang dilakukan pemerintah.

“Menjelang Ramadhan ini, permintaan atau demand kerap mengalami kenaikan. Jika selama ini kita selalu berupaya untuk memenuhi pasokan agar harganya bisa dikendalikan. Tetapi sebenarnya ada cara lain yang bisa dilakukan dengan menjaga demand supaya tidak naik, yakni dengan mengedukasi masyarakat untuk berperilaku bijak dan hemat,” sarannya.

Tren permintaan kerap mengalami kenaikan yang tinggi saat menjelang perayaan keagamaan, seperti Ramdahan dan Idul Fitri, serta Natal dan Tahun Baru. “Yang menjadi pertanyaan saya selama ini adalah kenapa harus ada kenaikan. Kenapa kita tidak bisa makan dan minum dalam jumlah yang sama dengan hari biasa. Dan selalu ada kenaikan konsumsi saat perayaan keagamaan?” ucapnya.

Sebagai contoh, lanjut Gunawan, pada hakekatnya puasa justru memang melatih kita untuk menahan lapar. Jadi ada budaya yang berkembang dan menjadi kebiasaan dimana kita lebih banyak menghabiskan uang untuk makan dan minum selama perayaan keagamaan. “Dan saya meyakini bahwa budaya tersebut bukan lahir dari ajaran agama. Mungkin ada yang berpendapat bahwa dengan banyak konsumsi maka banyak pelaku usaha yang hidup, dan ekonomi berputar,” sebutnya.

Hal tersebut, kata Gunawan, benar adanya. Tetapi perlu dikaji lagi plus minusnya dengan pola konsumsi seperti itu. Karena pada dasarnya berhemat akan membuat orang berpeluang memiliki investasi dan tabungan yang lebih banyak. Dan konsumsi pangan yang naik dalam waktu yang pendek. “Ini kerap tidak bisa diimbangi dengan peningkatan produksi dari petani atau peternak Sehingga inflasi tak terelakkan, dan jika diakumulasi akan memicu kenaikan bunga acuan, dan bisa memicu penambahan angka kemiskinan,” tandasnya. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *