EKBIS  

Di Masa Darurat COVID-19, Omzet Pempek Nabil Malah Melejit Hingga 200 Persen

Share

WIDYAWATI kini berusia 37 tahun. Ia menamatkan pendidikan Sarjana Teknik Pertambangan dari Universitas Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan. Latar belakang pendidikannya tidak berhubungan sama sekali dengan bisnis kuliner yang digelutinya. Tapi darah Palembang yang mengalir di tubuhnya, cita rasanya terhadap kuliner pempek begitu kuat. Ia tahu cara membuat pempek yang paling enak.

Tahun 2015, Widyawati membuka usaha dengan brand Pempek Nabil. Ia merintis usaha ini dari rumah. Ia tidak memiliki toko sama sekali. Pempek Nabil, Ia pasarkan melalui online dengan memanfaatkan media sosial.

Pada awal usaha ini dimulai, Ia hanya bisa menjangkau teman-teman jaringan medsosnya. Wanita kelahiran 1984 ini awalnya hanya seorang ibu rumah tangga. Ia tidak diperbolehkan suaminya untuk usaha di luar rumah. Namun, karena ingin membantu ekonomi keluarga, ia mulai bisnis kuliner.

Widyawati sangat visioner. Dari awal memulai usaha, Ia sudah memilih sarana digital sebagai media jualannya. Ketika banyak pelaku UMKM baru belajar untuk beralih ke platform digital, Widyawati sudah terbiasa dengan cara berdagang online.

Widyawati, Pemilik Brand Pempek Nabil menunjukkan dua contoh produk olahan pempek dengan bahan ikan tenggiri

Tak pernah ia membayangkan kalau usaha Pempeknya bakal semaju sekarang ini, lantaran ia sama sekali tidak memiliki toko. Ia hanya menjadikan rumahnya sebagai rumah produksi. Dan mengandalkan sistem penjualan online. Namun digitalisasi telah membantunya untuk sukses meraup pundi-pundi rupiah.

“Selain karena suami saya nggak memperbolehkan keluar rumah, saya juga tidak punya modal. Di situ saya mikir bagaimana punya bisnis meski tidak ada modal. Saya pikir, saya harus bangun bisnis berbasis online,” ungkapnya.

Widy, sapaan wanita murah senyum itu mengaku memilih berjualan kuliner karena pernah merasakan letihnya berjualan pakaian sewaktu tinggal di Jakarta. Karena jualan baju saat itu tak membuatnya untung dan pakaiannya juga kurang laku, sehingga Widy dan keluarganya memilih bisnis kuliner. Itu ia lakoni sejak tinggal di Medan.

Widy memilih jualan kuliner karena meyakini permintaan terhadap makanan pasti selalu ada. Selain itu, ia juga meyakini kalau pempek bakal laku keras di Medan. Pasalnya, Medan terkenal sebagai kota gudangnya kuliner.

Dan berita baiknya, saat pandemi tiba, perilaku masyarakat berubah dalam hal belanja produk, yang tadinya membeli secara offline, sekarang menjadi online. “Nah ini kesempatan kita para UMKM untuk go digital. Mesti cepat adaptasi, membuka pasar digital seperti marketplace sosial media atau lainnya. Itu yang dilakukan Pempek Nabil,” kata Widyawati ditemui di kediamannya di Perumahan Menteng Indah Blok C2, No.40, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Jumat (22/10/2021)

Baru-baru ini, berkat restu suaminya, Nabil juga sudah mulai membuka kios offline dengan memanfaatkan rumahnya sebagai lapak jualan. Tetapi hanya menjual produk-produk kemasan, bukan makan di tempat.

Sekarang ini Pempek Nabil telah cukup populer dan memiliki banyak pelanggan. Dari usahanya itu, Widy membuka lapangan pekerjaan. Ia mempekerjakan 15 orang karyawan tetap dan dua karyawan magang. Widy, sapaan akrab wanita berhijab ini, pun membuat sistem kemitraan untuk mengoptimasi jualannya. Ia juga membuka agen reseller. Para resellernya bahkan telah membuka cabang di berbagai kota mulai dari Aceh, Subulussalam, Sibolga sampai Papua.

Digitalisasi Adalah Kunci

Widy mengaku, omzet penjualannya sejak pandemi melejit hingga 200 persen. Ia bisa menjual 8000-10.000 pack per bulan. Capaian itu tak lepas dari peran digitalisasi umkmnya. Digitalisasi Pempek Nabil dimulai sejak 2019. Perkenalan dengan Bank Indonesia menjadi pintu yang membawa UMKM Pempek Nabil menuju kesuksesan. Nabil bergabung dengan marketplace yang dibina BI. Dan ketika pelatihan dari BI, Nabil juga memperolah informasi tentang pentingnya mendaftarkan produk di sejumlah marketplace. Tokopedia, salah satunya.

Tak disangka, baru setahun bergabung di Tokopedia, omzet jualan Nabil melonjak. Rupanya, pasar digital sepasti Tokopedia sangat familier di masyarakat. Orang-orang sudah terbiasa belanja online dan mengenal banyak produk dari pasar digital. Mereka tidak ragu untuk belanja secara online. Apalagi di Tokopedia, ada pilihan free ongkir (bebas ongkos kirim) dan para pelapak bisa memberikan bonus dan diskon untuk memikat para calon pembeli. “Hal-hal semacam itu yang membuat orang-orang tertarik untuk belanja di toko kita di lapaknya, Tokopedia,” urainya.

Widy juga mengaku, sistem bagi hasil dengan Tokopedia juga menguntungkan. Soal harga barang yang diterakan, ada persenan potongannya. “Itu ada namanya biaya layanan, untuk perhitungan jelasnya saya nggak tahu berapa persen tapi itu enggak banyak kok sekitaran ada yang Rp 900 per transaksi, ada yang Rp2.500 gitu untuk pembayaran kita ke Tokopedianya,” jelasnya.

Selain itu banyak lagi keunggulan yang dirasakan Widy dalam memasarkan produknya di Tokopedia dibandikan dengan marketplace lain. Menurutnya, di Tokopedia itu lebih gampang diakses jadi lebih gampang daftar juga. Apalagi sewaktu mendaftar, toko yang didaftarkan bisa langsung aktif, kemudian untuk promonya bisa lebih gampang juga mengaturnya. Karena di Tokopedia, ia bebas memberikan promo karena banyak pilihannya.

“Jadi tergantung kita nih, kita mau promo apa. Di Tokopedia untuk pedagang memberikan promo kepada pasarnya gitu, ya jadi itu gampang diakses. Selain promonya banyak, kita para pedagang tuh dimudahkan sekali untuk membuat promo-promo, biar semakin laku toko kita di Tokopedia,” bebernya.

Widyawati dan karyawannya berfoto sambil memamerkan produk olahan makanan dengan brand Pempek Nabil.

Ciptakan 20 Item Produk Makanan

Hingga saat ini, Widy mengaku jika produk UMKM buatannya sudah ada sekitar 20 item yang tampil di lapak Tokopedia. Ada Pempek Lenjer, Pempek Adaan, Pempek Kapal Selam Kecil, Kapal Selam Besar, Pempek Keriting, Pempek Kulit Hitam, Pempek Lenggang, Bakso Tenggiri, Siomay Tenggiri, dan berbagai macam Dimsum. Kemudian ada menu pelengkap seperti Risol, Siomay, Nugget ada Bitterballen, dan banyak lagi.

Untuk meramaikan pembeli dan melirik pasar, Widy menargetkan kaum ibu yang tidak ada kerjaan di rumah. Syaratnya hanya punya ponsel Android. Biasanya kaum ibu yang tahu iklan yang dipromokan oleh Widy biasanya dari FB maupun sosial media lainnya. “Saya gak peduli mereka lulusan apa. Jadi mereka nanti akan saya satukan dalam group, dan saya bayar orang untuk konten. Maka itu saya targetkan emak-emak. Saat ini karena sudah banyak pelanggan, saya buat sistem kemitraan. Kita buka agen dan reseller,” tuturnya.

Optimasi Pasar Digital

Apa yang dirasakan Widy dengan UMKMnya yang go digital sejalan pernyataan Praktisi Digital Marketing, Evan Budi Iswandi Siregar. Menurut Evan, untuk meningkatkan omzet usaha, pelaku UMKM mesti mengoptimalkan pasar digital. Para UMKM akan mendapatkan pasar yang lebih luas mengenalkan produknya kepada masyarakat (calon pembeli) dengan lebih baik, sehingga produk maupun personal branding pemilik UMKM tersebut juga akan lebih cepat terbentuk.

“Para UMKM sekarang produknya sudah sangat bagus, namun kebanyakan dari mereka bingung bagaimana memasarkannya dan kepada siapa memasarkan produknya. Padahal, pasar digital ini sangat potensial,” pungkasnya. (Dedy Hutajulu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *