EKBIS  

Arus Peti Kemas PMT Naik 6% hingga Mei 2026, Kuala Tanjung Jadi Motor Pertumbuhan

Arus pertumbuhan Peti Kemas PT Prima Multi Terminal (PMT). Ist
Share

Belawan, ArmadaBerita.Com – MPT Prima Multi Terminal (PMT) mencatat pertumbuhan arus peti kemas sebesar 6% secara tahunan (year on year/yoy) selama Januari–Mei 2026. Di tengah perlambatan perdagangan global, peningkatan tersebut ditopang oleh kuatnya distribusi domestik dan mulai pulihnya aktivitas ekspor dari kawasan industri di Sumatera.

Hingga Mei 2026, total arus peti kemas yang dikelola PMT di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung mencapai 286.195 TEUs. Kinerja ini menunjukkan aktivitas logistik di wilayah barat Indonesia tetap bertumbuh meski dunia usaha masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global.

Direktur Utama PT Prima Multi Terminal Rudi Susanto mengatakan, pertumbuhan tersebut didorong oleh distribusi barang dalam negeri yang tetap kuat serta meningkatnya ekspor komoditas dan produk hasil hilirisasi dari kawasan industri di Sumatera.

“Distribusi domestik masih menjadi penopang utama, sementara aktivitas ekspor mulai menunjukkan peningkatan, terutama dari sektor industri pengolahan dan komoditas. Hal itu mendorong kenaikan arus peti kemas di terminal yang kami kelola,” ujar Rudi dalam keterangan tertulis yang disampaikan Sekretaris Perusahaan PMT, Ritim Karo Sekali, Minggu (28/6).

Kontributor terbesar pertumbuhan berasal dari layanan peti kemas internasional di Terminal 2 Kuala Tanjung. Hingga Mei 2026, volume peti kemas internasional mencapai 15.734 TEUs atau melonjak 220% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Secara keseluruhan, arus peti kemas di Terminal Kuala Tanjung meningkat 12% menjadi 30.057 TEUs.

Menurut Rudi, peningkatan tersebut didukung oleh bertambahnya arus ekspor dan impor serta tetap terjaganya distribusi bahan baku industri, barang konsumsi, dan kebutuhan manufaktur yang masih ditopang aktivitas industri nasional.

Tak hanya peti kemas, aktivitas bongkar muat barang nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung juga menunjukkan lonjakan signifikan. Hingga Mei 2026, volumenya mencapai 389.114 ton atau meningkat 155% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya distribusi komoditas curah dan kebutuhan industri dari kawasan hinterland Sumatera,” kata Rudi.

Sementara itu, Terminal 1 Belawan Domestik masih menjadi penyumbang volume terbesar. Selama Januari–Mei 2026, terminal ini menangani 256.138 TEUs atau tumbuh 5% secara tahunan.

Peningkatan tersebut didorong oleh naiknya distribusi barang antarpulau untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi, serta bertambahnya pengiriman komoditas dan produk olahan dari Sumatera ke berbagai wilayah Indonesia.

Di sisi lain, PMT menilai sektor kepelabuhanan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perubahan jaringan pelayaran internasional, pergeseran jalur logistik global, hingga dampak ketegangan geopolitik yang memengaruhi biaya distribusi dan waktu pengiriman.

Karena itu, perusahaan terus menggenjot efisiensi operasional agar daya saing pelabuhan tetap terjaga.

Hingga Mei 2026, rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan tercatat sebesar 86,26%. Adapun Terminal Kuala Tanjung membukukan rasio ET/BT sebesar 74,83% untuk layanan internasional dan 65,45% untuk layanan domestik.

Untuk mempertahankan kinerja tersebut, PMT melakukan optimalisasi peralatan bongkar muat, penataan lapangan penumpukan, serta memperkuat koordinasi operasional dengan pengguna jasa dan antarterminal.

Perusahaan juga memperkuat implementasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melalui inspeksi berkala, standardisasi peralatan operasional, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja guna mempertahankan target nihil kecelakaan kerja.

Rudi menilai keandalan layanan pelabuhan akan semakin menentukan daya saing industri nasional. Efisiensi operasional diyakini dapat menekan biaya logistik, memperlancar distribusi barang, sekaligus mendukung peningkatan daya saing ekspor Indonesia.

Dengan posisi strategis di jalur perdagangan internasional Selat Malaka, Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung diproyeksikan terus memainkan peran sebagai simpul logistik utama di wilayah barat Indonesia seiring berkembangnya kawasan industri dan program hilirisasi di Sumatera. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *