Sastra Hijau Guncang Tanjung Gusta: Pemuda Diajak Jadi Agen Perubahan Lingkungan Lewat Puisi dan Cerita

Kesadaran menjaga lingkungan kini tak hanya lewat aksi nyata, tapi juga bisa melalui karya sastra. Inilah yang dilakukan Tim Pengabdian Masyarakat Prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan (Unimed) lewat program Literasi Sastra Hijau atau Green Literature di Dusun III Desa Tanjung Gusta, Kecamatan Sunggal, Minggu (25/5/2025).
Share

Armadaberita.com |MEDAN – Kesadaran menjaga lingkungan kini tak hanya lewat aksi nyata, tapi juga bisa melalui karya sastra. Inilah yang dilakukan Tim Pengabdian Masyarakat Prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan (Unimed) lewat program Literasi Sastra Hijau atau Green Literature di Dusun III Desa Tanjung Gusta, Kecamatan Sunggal, Minggu (25/5/2025).

Program ini menyasar kalangan pemuda, khususnya Remaja Masjid Al Mutaqim, yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial di Medan. Mereka diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan, mengelola sampah, hingga menumbuhkan kecintaan pada alam lewat pendekatan sastra.

Menurut Ketua Tim, Dr. M. Oky Fardian Gafari, kegiatan ini penting untuk membangun kesadaran ekologis sejak dini. “Pemuda harus jadi agen perubahan. Dengan sastra hijau, mereka bisa menularkan pesan cinta lingkungan lewat kata-kata yang menyentuh hati sekaligus mendorong aksi nyata,” jelasnya.

Dua narasumber turut memberi penguatan. Nurul Azizah, M.Pd menekankan peran strategis pemuda dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sementara Muhammad Anggie J. Daulay, S.S., M.Hum menjelaskan, karya sastra seperti puisi dan cerpen bertema alam bisa menjadi senjata kampanye yang efektif karena mampu menggugah emosi dan empati pembaca.

Tak hanya mendengar materi, sekitar 50 peserta yang hadir juga terlibat aktif dalam diskusi. Mereka bahkan menyiapkan tindak lanjut berupa aksi nyata seperti penanaman pohon, gotong royong membersihkan lingkungan, hingga menghasilkan karya sastra hijau berupa puisi dan cerpen.

Kegiatan ini disambut hangat oleh Kepala Dusun Adi dan Ketua Remaja Masjid Ramdan. Mereka berharap program ini bisa berlanjut sehingga pemuda Tanjung Gusta benar-benar menjadi motor perubahan lingkungan di daerahnya.

Sastra hijau bukan sekadar tulisan indah, tapi gerakan yang menghubungkan kata dengan aksi. Lewat program ini, pemuda Tanjung Gusta diharapkan mampu membuktikan bahwa menjaga alam bisa dimulai dari hal sederhana: merangkai kata, menyentuh hati, lalu bergerak bersama. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *