Medan, ArmadaBerita.Com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah di tengah masyarakat. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui kegiatan edukasi keuangan syariah bagi santri dan santriwati di Pondok Pesantren Usman Syarif, Kota Medan, Selasa (10/3/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kampanye nasional Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) yang digelar di berbagai daerah selama bulan Ramadan. Program ini bertujuan memperluas pemahaman masyarakat tentang prinsip, produk, serta layanan keuangan syariah.
Kepala OJK Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien, mengatakan peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah merupakan salah satu prioritas OJK dalam mendukung penguatan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia.
Ia mengungkapkan, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan konvensional tercatat mencapai 66,46 persen, dengan tingkat inklusi sebesar 79,71 persen. Sementara itu, literasi keuangan syariah tercatat sebesar 43,42 persen dan inklusi keuangan syariah baru mencapai 13,41 persen.
Menurut Khoirul, data tersebut menunjukkan peluang pengembangan keuangan syariah di Indonesia masih sangat besar.
“OJK akan terus memperkuat program edukasi serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah semakin meningkat, sekaligus mendorong pemanfaatan produk dan layanan keuangan syariah secara lebih luas,” ujarnya.
Melalui berbagai program edukasi dan sinergi dengan berbagai pihak, OJK berharap tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat—baik konvensional maupun syariah—terus meningkat, sehingga hasil survei berikutnya pada 2026 dapat menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Dalam momentum Ramadan tahun ini, kampanye GERAK Syariah juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pelaku usaha jasa keuangan syariah, asosiasi industri, kementerian dan lembaga terkait, hingga tokoh masyarakat dan penggerak literasi keuangan syariah.
Pimpinan Pondok Pesantren Usman Syarif, Hamzah Fanshuri Saragih, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan edukasi tersebut di lingkungan pesantren. Menurut dia, kegiatan ini memberikan tambahan wawasan bagi para santri terkait pengelolaan keuangan sesuai prinsip syariah.
Kegiatan edukasi tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai lembaga, di antaranya OJK, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sumatera Utara. Para pemateri memberikan pemaparan mengenai literasi keuangan, peran penjaminan simpanan dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, serta pengenalan berbagai produk dan layanan keuangan syariah.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan pula penyerahan simbolis pembukaan rekening Simpanan Pelajar Syariah (SimPel iB) kepada sejumlah santri yang difasilitasi oleh BPD Sumatera Utara.
Program ini diharapkan dapat mendorong peningkatan inklusi keuangan syariah di kalangan pelajar, khususnya santri dan santriwati, sekaligus menumbuhkan kebiasaan menabung sejak dini melalui akses layanan keuangan yang aman, mudah, dan sesuai prinsip syariah.
Pesantren dinilai memiliki posisi strategis dalam mendukung penguatan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah nasional. Selain menjadi pusat pendidikan keagamaan, pesantren juga memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat.
Melalui kegiatan edukasi ini, para santri diharapkan tidak hanya memahami prinsip keuangan syariah, tetapi juga mampu menjadi agen literasi keuangan yang menyebarkan pemahaman tersebut di tengah masyarakat.











