Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, memahami betul peran besar mereka. Dalam sebuah kegiatan bakti sosial di Lapangan Merdeka, ia menyampaikan pesan sederhana namun kuat: perubahan besar tidak selalu dimulai dari kantor megah atau ruang rapat elite, tetapi dari mereka yang bekerja di garis terdepan.
Kegiatan bakti sosial yang digagas Komunitas Mawar Sharon Peduli itu menghadirkan ratusan petugas dari berbagai kecamatan dan perangkat daerah. Mereka datang bukan hanya untuk menerima bantuan sembako, tetapi juga untuk merasakan penghargaan atas kerja keras yang sering tak terlihat. Rico Waas berharap bantuan ini bukan sekadar paket logistik, melainkan dorongan moral agar semangat mereka tetap terjaga.
Di tengah acara, Rico juga menceritakan upaya pemerintah menangani banjir yang melanda beberapa wilayah, termasuk Medan Marelan. Lumpur dibersihkan, drainase dinormalisasi, dan alat berat dikerahkan. Bahkan pengurusan dokumen kependudukan yang rusak akibat banjir dipermudah. Semua langkah ini kembali memperlihatkan bahwa petugas lapangan memegang peran penting dalam memulihkan kota—merekalah yang pertama datang dan terakhir pergi.
Satu hal yang menonjol dari suasana acara tersebut adalah kedekatan antara Wali Kota dan para petugas. Setelah sambutan, banyak petugas berebut untuk berswafoto. Ada senyum lelah namun bangga di wajah mereka, seolah-olah kehadiran Wali Kota menjadi pengakuan bahwa pekerjaan mereka berarti.
Acara juga dihadiri berbagai tokoh dari kepolisian, perangkat daerah, hingga pimpinan komunitas gereja. Semua berkumpul dengan satu tujuan: menunjukkan kepedulian sosial dan memperkuat kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan para petugas lapangan.
Melihat semua itu, terasa jelas bahwa kota tidak hanya dibangun oleh kebijakan, tetapi oleh manusia-manusia yang menjalankannya. Mereka bekerja dalam diam, tetapi kontribusinya besar. Karena itu, ajakan Rico Waas agar kolaborasi seperti ini terus berlangsung memiliki makna yang dalam: semakin kuat kepedulian terhadap para petugas lapangan, semakin cepat pula perubahan baik akan terjadi di Medan.
Esai ini pada akhirnya mengingatkan kita bahwa kemajuan kota bukan hanya soal infrastruktur atau anggaran, tetapi tentang rasa saling menghargai. Ketika mereka yang berada di garis terdepan mendapat perhatian dan dukungan, mereka akan bekerja dengan hati. Dan dari sanalah perubahan besar biasanya bermula.
Penulis: Lindung Silaban











