Medan,ArmadaBerita.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara menyampaikan bahwa kondisi inflasi di Sumatera Utara hingga Juli 2026 masih berada dalam kondisi terkendali. Hal tersebut disampaikan Statistisi Ahli Utama BPS Sumut, Drs. Misfarudin, M.Si, dalam rilis resmi statistik Senin 3/08/2026.
Pada Juli 2026, Sumatera Utara mengalami inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,19 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (Januari–Juli 2026) mencapai 1,09 persen dan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 4,20 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar, disusul kelompok transportasi.
Komoditas yang paling banyak mendorong inflasi Juli 2026 antara lain cabai rawit, beras, tomat, bensin, dan daging ayam ras. Sementara itu, komoditas yang menahan inflasi atau mengalami penurunan harga adalah bawang merah, cabai merah, angkutan udara, telur ayam ras, dan kentang.
Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil sekitar 2,4 persen.
BPS mencatat Kota Gunungsitoli menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi di Sumatera Utara, sedangkan inflasi cabai rawit paling tinggi terjadi di Kota Medan.
Selain inflasi, Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Utara pada Juli 2026 tercatat 156,95, naik 0,52 persen dibandingkan Juni 2026. Kenaikan ini dipengaruhi meningkatnya harga komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, karet, dan kakao.
Di sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Sumatera Utara pada Juni 2026 mencapai US$1,245 miliar, meningkat 21,70 persen dibandingkan Juni 2025. Secara kumulatif Januari–Juni 2026, ekspor juga tumbuh 12,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, nilai impor Juni 2026 mencapai sekitar US$551,6 juta, meningkat sekitar 15,84 persen dibandingkan Juni tahun sebelumnya. Impor masih didominasi bahan baku dan barang penolong.
Pada sektor pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Sumatera Utara pada Juni 2026 tercatat 23.129 kunjungan. Angka tersebut meningkat dibanding Mei 2026, namun masih lebih rendah dibandingkan Juni 2025. Wisatawan terbanyak berasal dari Malaysia, diikuti Singapura, Tiongkok, Australia, dan Prancis.
BPS juga mencatat tingkat penghunian kamar hotel berbintang mengalami peningkatan dibanding bulan sebelumnya. Aktivitas transportasi udara melalui Bandara Kualanamu pada Juni 2026 juga menunjukkan peningkatan, baik untuk penumpang domestik maupun internasional dibandingkan Mei 2026.
Secara keseluruhan, BPS Sumatera Utara menilai kondisi ekonomi daerah hingga pertengahan 2026 masih menunjukkan kinerja yang positif dengan inflasi yang tetap terkendali, daya beli petani yang membaik, serta pertumbuhan ekspor yang terus meningkat.(Bakhtiar)











