Medan, ArmadaBerita.Com – Di antara deretan paviliun kabupaten dan kota pada Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 Tahun 2026, stan Pemerintah Kabupaten Nias Selatan menghadirkan sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar produk unggulan daerah, melainkan warisan peradaban leluhur melalui replika Situs Megalitik Tetegewo yang diperkirakan telah berusia sekitar 5.000 tahun.
Sejak malam hari, replika susunan batu megalitik yang berasal dari Desa Hilisao’ötö, Kecamatan Siduaori, menjadi pusat perhatian pengunjung. Pelajar, mahasiswa hingga guru tampak bergantian mengamati setiap detail replika sambil mencari tahu kisah peradaban kuno yang pernah berkembang di kawasan tersebut.
“Situs Megalitik Tetegewo merupakan warisan peradaban leluhur yang banyak menarik perhatian pengunjung. Nilai sejarahnya sangat tinggi sehingga banyak yang bertanya mengenai asal-usulnya,” kata penjaga stan Pemkab Nias Selatan, Keszia Tara Christine Zebua, kepada wartawan di arena PRSU, Medan, Kamis (24/7).
Menurut Keszia, benda yang dipamerkan merupakan replika berukuran lebih kecil karena artefak aslinya berukuran besar dan berada di lokasi situs di Kabupaten Nias Selatan.
“Yang dipajang di sini memang replika. Bentuk aslinya berada di Desa Hilisao’ötö dan ukurannya jauh lebih besar,” ujarnya.
Tak hanya menghadirkan replika situs megalitik, paviliun Nias Selatan juga memperkenalkan kekayaan budaya lainnya, seperti pakaian adat Oholu yang dahulu dikenakan para raja Nias Selatan. Dinding paviliun turut dipenuhi foto-foto destinasi wisata unggulan, mulai dari Pantai Sorake, Pantai Lagundri, tradisi lompat batu, hingga rumah adat Bawomataluo yang telah berusia ratusan tahun.
Kehadiran replika Situs Megalitik Tetegewo di PRSU menjadi semakin relevan setelah Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution menyatakan komitmennya untuk merevitalisasi situs bersejarah tersebut.
Saat mengunjungi langsung Situs Megalitik Tetegewo bersama Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, pada 17 Juli lalu, Bobby menegaskan bahwa peninggalan berusia ribuan tahun itu harus dijaga sebagai warisan budaya sekaligus dikembangkan menjadi destinasi wisata sejarah unggulan di Kepulauan Nias.
Menurut Bobby, revitalisasi tidak hanya difokuskan pada pelestarian artefak dan penataan kawasan, tetapi juga diarahkan agar keberadaan situs mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui sektor pariwisata.
“Kita ingin membangun Nias. Peninggalan sejarah ini bukan hanya dijaga, tetapi juga harus mampu menjadi daya tarik wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Pemprov Sumut akan melakukan revitalisasi,” ujar Bobby.
Harapan serupa disampaikan masyarakat sekitar situs yang menginginkan peningkatan akses menuju kawasan Tetegewo tanpa menghilangkan nilai sejarah dan keaslian peninggalan leluhur tersebut.
Di tengah kemeriahan PRSU, replika Situs Megalitik Tetegewo bukan sekadar pajangan. Kehadirannya seolah mengajak setiap pengunjung menelusuri jejak peradaban kuno Nias yang telah bertahan selama ribuan tahun, sekaligus mengingatkan bahwa kekayaan sejarah daerah dapat menjadi kebanggaan sekaligus modal besar bagi pengembangan pariwisata Sumatera Utara. (MM/Red)











