Jagung Merah Asal Dairi Varietas yang Terancam Hilang, Hadir di PRSU 2026

Jagung Merah asal Dairi dalam pameran UMKM pada ajang Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 Tahun 2026. (Ist)
Share

Medan, ArmadaBerita.Com – Varietas jagung merah lokal asal Kabupaten Dairi yang kini mulai terancam hilang menjadi salah satu daya tarik dalam pameran UMKM pada ajang Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) ke-50 Tahun 2026 di Jalan Gatot Subroto, Kota Medan. Komoditas pertanian khas dataran tinggi itu dipamerkan di Paviliun Kabupaten Dairi sebagai upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan plasma nutfah lokal yang mulai jarang dibudidayakan masyarakat.

Jagung berwarna merah cerah tersebut memiliki ukuran tongkol yang besar dengan susunan biji yang rapat hingga ke ujung tongkol. Selain tampil berbeda dari jagung pada umumnya, varietas lokal ini juga dikenal memiliki batang yang kokoh serta sistem perakaran yang kuat sehingga mampu bertahan saat diterpa angin kencang.

Debora Sinaga, petugas di Paviliun Kabupaten Dairi, mengatakan tinggi tanaman jagung merah rata-rata mencapai sekitar 170 sentimeter dan memiliki daya tahan yang baik terhadap cuaca ekstrem.

“Batangnya rata-rata sampai 170 sentimeter tingginya dan tidak mudah patah kalau kena angin yang kencang,” ujarnya saat ditemui di Paviliun Kabupaten Dairi, Senin (13/7/2026).

Menurut Debora, salah satu keunikan jagung merah Dairi adalah benihnya tidak diperjualbelikan secara bebas di toko pertanian. Selama ini, benih hanya diperoleh dari hasil panen sebelumnya yang kemudian ditanam kembali secara turun-temurun oleh masyarakat.

“Ini unik jagungnya, warnanya kemerahan dan bibitnya tidak diperjualbelikan di toko-toko,” katanya.

Meski memiliki banyak keunggulan, keberadaan jagung merah Dairi kini semakin jarang ditemukan. Minimnya pengembangan budidaya dan belum tersedianya sistem produksi maupun industri pengolahan membuat sebagian petani mulai meninggalkan varietas lokal tersebut.

Ester Tarigan menjelaskan, jagung merah memiliki butiran yang lebih keras dibandingkan jagung biasa. Karakteristik itu membuatnya berpotensi diolah menjadi tepung berkualitas serta bahan baku pakan ternak seperti ayam, babi, dan ikan.

“Butiran yang keras ini dapat diolah menjadi tepung, pakan ternak ayam, babi maupun ikan. Sebenarnya jagung ini memiliki banyak manfaat, namun karena belum ada sistem produksinya, pengembangannya mulai berkurang,” terang Ester.

Keunggulan lainnya, benih jagung merah dapat digunakan kembali untuk musim tanam berikutnya tanpa harus membeli bibit baru. Biji dari tongkol yang telah tua tetap dapat ditanam berulang kali sehingga lebih hemat dan mempertahankan kemurnian varietas lokal.

Melalui kehadirannya di PRSU 2026, Pemerintah Kabupaten Dairi berharap jagung merah lokal semakin dikenal masyarakat luas sekaligus membuka peluang pengembangan budidaya dan hilirisasi produk. Dengan dukungan berbagai pihak, varietas khas Dairi tersebut diharapkan dapat terus dilestarikan dan tidak hilang di tengah maraknya penggunaan benih jagung hibrida. (AS/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *