Oleh: Arvin Syahputra Nasution
Di tengah obrolan santai sekelompok anak muda di Medan, perhatian Mustofa Husein Nst sesekali terlepas dari percakapan. Ia menunduk, menatap layar ponselnya. Bukan pesan masuk, bukan pula media sosial.
Di sana, sebuah grafik bergerak naik, turun, lalu kembali naik. “Kalau turun, ya ditahan,” katanya ringan. “Kalau naik, baru dipikirkan.”
Teman-temannya, Hendri, Putra, dan Hendro mendekat. Rasa penasaran menggeser arah obrolan. Layar ponsel itu kini menjadi pusat perhatian. Bagi Mustofa, grafik tersebut bukan sekadar angka. Ia adalah cara membaca kemungkinan tentang untung, rugi, dan keputusan yang tak selalu pasti.
Berangkat dari Rasa Ingin Tahu
Mustofa Husein, pelaku usaha grosir sembako di Bogor, tidak tumbuh dari latar belakang keuangan. Ia pernah menempuh pendidikan di pesantren sebelum melanjutkan studi di bidang komputer di Medan.
Kini, sebagai ayah satu anak, kesehariannya diisi dengan mengelola usaha sekaligus mengatur keuangan keluarga. Dari aktivitas berdagang itu, ia terbiasa menghitung untung-rugi.
Kebiasaan itu yang perlahan membentuk cara pandangnya saat mulai mengenal investasi.
“Awalnya hanya coba-coba. Dari ajak teman, dapat bonus. Dari situ mulai tertarik,” ujarnya.
Namun langkahnya tidak berhenti di sana. Ia mulai mencari tahu tentang produk, risiko, hingga legalitas.
Bagi Mustofa, langkah awal investasi bukan soal seberapa besar uang yang dimiliki, melainkan seberapa jauh memahami risiko, produk, dan keamanan platform yang digunakan.
Ia memastikan platform yang digunakan terdaftar resmi. Ia membaca, membandingkan, lalu mencoba memahami. “Kalau tidak paham, itu bukan investasi. Itu spekulasi,” bilangnya.
Ia pun menyadari, tanpa pengetahuan dasar, investasi mudah berubah menjadi sekadar ikut-ikutan yang berisiko.
Memilih Jalan yang Masuk Akal
Dari berbagai pilihan instrumen, Mustofa memulai dari reksa dana.
Dalam edukasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), reksa dana merupakan wadah untuk menghimpun dana masyarakat yang dikelola oleh manajer investasi ke dalam portofolio efek.
Dari sinilah Mustofa mengenal reksa dana sebagai pintu masuk yang lebih aman untuk memahami dunia investasi.
Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai langkah itu realistis. “Bagi pemula, reksa dana adalah pintu masuk. Dikelola oleh profesional, sehingga risikonya lebih terukur,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Bagi investor pemula, pendekatan ini menjadi cara paling rasional untuk mulai berinvestasi tanpa harus memahami pasar secara mendalam sejak awal.
Dengan modal kecil, mulai dari puluhan ribu rupiah, Mustofa membangun investasinya secara bertahap. Dari ratusan ribu, kini berkembang hingga jutaan.
“Tidak perlu besar di awal. Yang penting jalan dulu,” imbuhnya.
Pasar Uang: Stabil untuk Pemula
Di tahap awal, Mustofa memilih reksa dana pasar uang. Instrumen ini berinvestasi pada deposito dan surat utang jangka pendek, sehingga relatif stabil dan minim fluktuasi.
Dalam praktiknya, reksa dana pasar uang menjadi solusi paling praktis dan relatif terpercaya bagi pemula, karena dikelola profesional serta memiliki tingkat risiko yang lebih stabil dibanding instrumen lain.
Karakteristik tersebut membuatnya cocok untuk tujuan jangka pendek maupun dana darurat. Meski imbal hasilnya tidak setinggi saham, risikonya juga lebih rendah.
Dari sini Mustofa memahami prinsip dasar investasi: semakin tinggi potensi keuntungan, semakin besar pula risiko yang harus siap dihadapi. Prinsip inilah yang menjadi bekal penting bagi investor muda dalam mengambil keputusan secara lebih bijak.
Belajar Menahan Diri
Perjalanan investasi tidak selalu mulus. Ada masa ketika nilai investasinya turun. Grafik yang biasa ia pantau berubah arah. Di titik itu, keputusan menjadi lebih berat. Menjual dan menerima rugi, atau bertahan dalam ketidakpastian. Mustofa memilih menahan. Keputusan sederhana, tetapi tidak mudah.
Kepala Perwakilan Bursa Efek Indonesia Sumatera Utara, Pintor Nasution, menyebut fase ini sebagai bagian penting dalam proses belajar investor. “Kerugian adalah bagian dari investasi. Yang penting evaluasi, tidak panik, dan terus meningkatkan pemahaman,” sebutnya.
Bagi Mustofa, kerugian bukan sekadar angka yang berkurang, melainkan pengalaman yang membentuk cara berpikir.
Di Balik Ledakan Investor Muda
Apa yang dialami Mustofa mencerminkan fenomena yang lebih luas.
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar modal Indonesia mengalami lonjakan jumlah investor, didominasi generasi muda.
Kemudahan teknologi membuat investasi kini dapat diakses hanya melalui ponsel.
Namun di balik pertumbuhan tersebut, tantangan literasi tetap menjadi perhatian. “Kesalahan yang sering terjadi adalah ikut-ikutan, tidak memahami produk, dan tidak disiplin,” kata Gunawan.
Ia menegaskan pentingnya memahami tujuan, risiko, serta mengenali profil diri sebelum berinvestasi.
Reksa Dana Semakin Digandrungi
Data OJK menunjukkan, hingga April 2026 nilai aktiva bersih reksa dana mencapai Rp711,89 triliun.
Jumlah investor pasar modal pun telah menembus 26 juta orang. Angka ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap investasi terus meningkat.
“Reksa dana tetap diminati, bahkan di tengah volatilitas pasar,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi saat konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK April 2026 yag digelar di Jakarta dan disiarkan melalui Zoom, Selasa (6/5/2026).
Menjaga Kepercayaan
Pertumbuhan tersebut diiringi pengawasan ketat. Sepanjang 2026 hingga April, OJK telah menjatuhkan sanksi administratif dengan total denda mencapai Rp132,88 miliar kepada pelaku industri keuangan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga pasar tetap sehat, transparan, dan berintegritas. “Penegakan hukum ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan publik,” tegas Hasan.
Menunggu dengan Sabar
Kini, rutinitas Mustofa terbilang sederhana. Membuka aplikasi, memantau grafik, lalu kembali pada aktivitasnya.
Di sela kesibukannya mengelola usaha grosir, ia menyempatkan diri memeriksa pergerakan investasinya. Sebuah kebiasaan kecil yang perlahan menjadi bagian dari kesehariannya sebagai pelaku usaha sekaligus investor pemula.
Tidak selalu benar. Tidak selalu untung. Namun selalu belajar. Ia hanya menggunakan dana yang tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari. Semua itu berawal dari satu hal sederhana, memahami dasar sebelum melangkah.
Di layar ponselnya, grafik itu terus bergerak. Dan dari garis-garis yang tak pasti itu, Mustofa memahami satu hal penting. Dalam dunia investasi, bukan yang paling cepat yang menang, melainkan yang paling sabar bertahan.











