Quarter Life Crisis: Alarm Bahaya yang Diam-Diam Menghantam Generasi Z

Share

Oleh Ayu Yunita Sihotang, Mahasiswi USU

Akhir-akhir ini, kata “quarter life crisis” kerap muncul di media sosial, obrolan kampus, bahkan curhatan tengah malam. Istilah ini terdengar keren, tapi sebenarnya menggambarkan fase hidup yang penuh kegelisahan, kebingungan, dan tekanan—terutama bagi generasi Z yang kini sedang menapaki usia 20–30 tahun.

Bayangkan saja: di rentang usia ini, banyak anak muda mulai mempertanyakan jati diri, masa depan, karier, hingga hubungan asmara. Apalagi ketika tuntutan keluarga, tekanan lingkungan, dan godaan media sosial datang bersamaan. Rasanya seperti ikut lomba maraton padahal kita bahkan belum tahu rute tujuannya.

Masalahnya, quarter life crisis sering kali diam-diam jadi penghambat perkembangan diri. Riset menunjukkan 98 persen anak muda pernah merasakan fase ini. Lebih parahnya, jika dibiarkan, fase ini bisa merembet menjadi stres berat bahkan depresi.

Apa pemicunya?

Pertama, hobi membandingkan diri. Suka membandingkan diri dengan orang lain, bikin capek. Misalnya, lagi scroll Instagram atau TikTok, terus lihat teman sudah lulus, kerja di perusahaan keren, atau liburan ke luar negeri. Langsung saja muncul pikiran, “wah, aku ketinggalan jauh.” Padahal, setiap orang punya jalannya masing-masing. Sibuk membandingkan hidup kita dengan orang lain malah bikin kita lupa menghargai pencapaian kita sendiri.

Kedua, ekspektasi setinggi langit. Banyak mahasiswa merasa tertekan karena keluarga berharap mereka cepat sukses. Ditambah lagi, lingkungan sering menilai seseorang dari seberapa cepat ia bisa mencapai standar itu. Akibatnya, mahasiswa yang belum sampai di titik tersebut sudah merasa gagal, padahal perjalanan mereka baru saja dimulai.

Ketiga, krisis identitas. Krisis identitas itu terjadi saat seseorang bingung dengan dirinya sendiri—tidak tahu apa yang benar-benar diinginkan, belum paham bakat yang dimiliki, atau belum punya tujuan hidup yang jelas. Akhirnya, hidup terasa seperti berjalan tanpa arah, dan setiap langkah pun terasa kosong.

Bagaimana melawannya?

1. Kenali diri – Eksplorasi minat dan bakat. Gunakan tes kepribadian atau ikuti kursus untuk menemukan potensi terbaik.

2. Cari dukungan sosial – Bicara dengan keluarga, sahabat, atau mentor. Dukungan moral bisa jadi vitamin mental yang ampuh.

3. Fokus pada diri sendiri – Berhenti membandingkan, mulailah memperbaiki skill dan kualitas hidup.

Quarter life crisis bukanlah akhir, tapi pintu menuju versi terbaik dari diri kita. Generasi muda, termasuk mahasiswa, perlu melihat fase ini bukan sebagai bencana, melainkan sebagai sinyal untuk berhenti sejenak, mengatur napas, dan merancang ulang langkah.

Hidup bukan perlombaan, tapi perjalanan. Dan setiap orang punya waktunya masing-masing untuk sampai di tujuan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *