LAKSMI gelisah karena celananya mulai kuyup. Darah telah merembes luas membasahi seluruh celananya. Sebagian menetes dari sadelnya. Lekas ia kebut sepedanya, menerobos kerumun orang yang berdiri di selasar kuil.
Melihat di depan ada kolam, Ia meloncat dari sepeda dan berlari kencang menuruni tangga. Sejurus kemudian, byurrr. Ia terjun ke dalam kolam. Orang-orang berkerumun melihatnya dan menertawakannya. Lelaki macam apa yang celanya berdarah-darah?
Dengan sedikit malu, ia bangkit dan pulang ke rumah. Namun Laksmi bukanlah lelaki bermental tempe. Kejadian “memalukan” kemarin sama sekali tidak menyiutkan nyalinya. Ia kembali bereksperimen. Makin gigih ia mencoba. Karet dalam bola ia kumpulkan lalu ia isi dengan darah kambing. Ia selimpkan darah itu di balik celana dalamnya yang telah dialasi dengan kapas pembalut buatannya. Lagi-lagi ia gagal.
Berulang kali ia mencoba. Berulang kali ia pula gagal. Namun, ia terus mencoba dan mencoba hingga akhirnya berhasil. Semua berawal dari kecintaannya pada sang istri, Gayatri.
Seperti Gayatri, banyak perempuan India, terutama yang berusia remaja menganggap menstruasi adalah aib untuk dibicarakan. Datang bulan harus disembunyikan dari siapapun. Bahkan di kalangan perempuan sendiri, itu tabu untuk dibahas. Perempuan yang haid bahka dilarang keras masuk ke tempat ibadah.
Sebagai pengantin muda, Laksmi begitu terpukul saat istrinya Gayatri menunjukkan sikap penolakan padanya, setiap kali ia menanyakan soal “rug”, potongan kain perca yang digunakan istrinya sebagai pengganti pembalut.
Tak hanya Gayatri yang menutup diri soal “menstruasi”, bahkan orangtuanya, para tetua adat dan masyarakat juga. Seluruh penduduk di India Utara menganggap, menstruasi adalah hal yang tabu. Sesuatu yang kotor. Tidak boleh dibicarakan. Tidak boleh dibahas. Dan setiap perempuan yang menstruasi harus jauh dari suami. Itu sebabnya, keberadaan perempuan yang sedang menstruasi harus dirahasiakan.
Bagi Laksmi, pandangan seperti itu konyol dan tidak masuk akal. Menurutnya, apapun yang dialami istrinya, ia berhak tahu dan ikut campur. Ia tidak terima, jika Gayatri, istri yang sangat dicintainya harus dijauhkan darinya saat menstruasi.
Laksmi menyadari ada persoalan besar yang sedang ia hadapi. Jika ia tak lekas bertindak, bisa-bisa istrinya, bakal terkena sakit penyakit. Penggunaan kain lap sebagai ganti pembalut sungguh tidak higienis, justru sumber penyakit. Namun, harga satu pembalut di apotik begitu mahal, sehingga tidak terjangkau oleh rakyat jelata. Angka kematian perempuan yang tinggi akibat penggunaan kain lap sebagai pembalut perempuan juga tidak menjadi perhatian pemerintah.
Maka tak ada cara lain, Laksmi bertekad menciptakan pembalut. Dengan segala cara ia tempuh. Ia bahkan rela meninggalkan istrinya dan kampungnya hanya demi menciptakan penemuan baru: pembalut dengan harga murah. Ia mencari profesor di kampus, namun usaha itu nyaris gagal. Ia rela menjadi pengasuh anak di rumah profesor itu demi bisa mempelajari cara mengekstrak kapas untuk bahan pembalutnya.
Anak si profesor yang masih remaja menjelaskan, segala hal tersedia di komputer. Nalar Laksmi nyala. Ia pun lekas mencari tau soal cara membuat mesin pencetak pembalut di komputer. Bingo! Ia ketemu. Ia pelajari dengan cermat.
Sebagai tukang las, tidak sulit baginya menciptakan satu mesin tepat guna. Dari tangan dinginnya, terciptalah mesin pencetak pembalut yang hebat. Ia akhirnya berhasil menciptakan pembalut yang bisa dijual sangat murah.
Penemuannya itu akhirnya mendapat penghargaan dari pemerintah India. Dan kemudian, dengan mesin buatannya itu, ia bisa memproduksi pembalut dalam jumlah besar dan bisa menjangkau lebih banyak perempuan India.
Tak hanya menyelamatkan perempuan yang menstruasi, Laksmi juga menolong perekonomian masyarakat. Ribuan perempuan yang pengangguran, termasuk ibu rumah tangga ikut terlibat dalam usaha penjualan pembalut. Dan hasil penjualan setiap pembalut menjadi tambahan penghasilan bagi keluarga mereka.
Ibu-ibu yang bekerja berjualan pembalut kemudian makin berdaya dalam menyekolahkan anak-anak mereka. Lingkaran dampak baik dari selembar pembalut yang diciptakan Laksmi terus membesar. Perubahan drastis terjadi di India utara. Laksmi pun didapuk sebagai Padman. Jika Amerika punya superhero sepasti Superman, Batman, Antman, atau Spiderman, India punya Padman (Manusia Pembalut).
Cinta yang begitu besar pada istrinya, itulah yang melecut seorang Laksmi untuk menciptakan sebuah teknologi tepat guna. Penemuan itu bukan saja menyelamatkan istrinya semata, tetapi turut berkontribusi bagi kebaikan, kesejahteraan dan kemajuan India.
Itulah cuplikan dari film Padman yang dibesut R Balki. Aktor utamanya Akhsay Kumar. Filem ini dirilis di Indonesia pada 2018. Diangkat dari kisah nyata aktivis Arunachalam Muruganantham yang bertekad menyediakan pembalut bagi kaum wanita miskin di pedesaan India Utara. (*)











