Armadaberita.com – Balai Bahasa Sumatera Utara dan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) menyambut baik agenda penerjemahan 50 judul buku cerita bergambar dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Batak Toba.
Penerjemahan buku tersebut dianggap penting karena bahasa daerah Batak Toba memiliki jumlah penutur yang banyak di Sumatera Utara. Selain itu, keberadaan komunitas atau masyarakat Toba yang mampu berkembang di antara komunitas lain seperti Melayu dan Jawa juga memberi pengaruh signifikan, termasuk sumbangsih Toba bagi sejarah kemerdekaan Indonesia.
“Pergerakan lahirnya bahasa Indonesia dari induk bahasa Melayu, tokoh utamanya itu juga ada dari pemuda Batak Toba yakni Sanusi Pane, yang telah kita usulkan agar menjadi pahlawan nasional,” kata Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara Dr. Maryanto dalam Lokakarya Penerjemahan Cerita Bergambar dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Batak Toba yang diselenggarakan oleh Let’s Read dari The Asia Foundation secara virtual via Zoom, Kamis (5/11).
Lebih jauh Maryanto mengatakan, posisi strategis bahasa Batak, keberadaan komunitas atau masyarakat Batak dan keragaman budayanya, sudah selayaknya bahasa Batak Toba dipromosikan ke di dunia internasional terutama di kawasan Asia dan Amerika.
Ia berharap, terjemahan buku-buku tersebut dapat diadaptasikan sesuai dengan keunikan komunitas bahasa dan budaya Batak agar dihasilkan terjemahan yang bagus dan berpihak pada anak. “Karena itu kami mengucapkan terima kasih atas inisiatif kawan-kawan dari Asia Foundation dan para relawan penerjemah,” imbuhnya.
Penerjemahan buku cerita anak berbahasa Batak Toba ini, kata Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU Dr. Budi Agustono, seperti meneguhkan kembali komitmen FIB USU untuk mempertahankan dan melestarikan bahasa-bahasa lokal yang ada di Sumatera Utara. Apalagi FIB USU memiliki program studi Sastra Batak.
“Penerjemahan buku ini memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya meningkatkan dan mereproduksi pengetahuan-pengetahuan lokal yang bisa dibaca oleh anak-anak kita kelak,” jelas Budi Agustono.
Hana A. Satriyo, Deputy Country Representative, The Asia Foundation menegaskan, penerjemahan buku cerita anak ini merupakan kontribusi Asia Foundation dalam mendukung gerakan literasi. Sebab peningkatan keterampilan literasi sangat penting bagi kehidupan generasi muda kita. “Semakin banyak anak Indonesia dengan kemampuan baca yang bagus, kemungkinan besar kualitas hidup mereka akan jauh lebih baik,” terangnya.
Eva Nukman, penerjemah dari Yayasan Litara menuturkan, penerjemahan buku ini penting untuk merawat masa depan anak-anak kita. Buku bagi anak, katanya, ada tiga fungsinya, yakni sebagai cermin, jendela dan pintu geser. Sebagai cermin, buku memberikan anak nilai untuk melihat gambaran dirinya.
Buku juga membuka wawasan anak lebih luas, persis seperti ia melihat ke luar rumah dari jendela yang terbuka. Dan sebagai pintu geser, anak-anak bisa masuk dan bertualang ke dalam cerita itu sendiri.
Menurut Eva, syarat utama sebuah buku cerita anak haruslah menyenangkan, agar tidak membosankan. Kemudian terjemahannya tepat sesuai fungsi dan sampaikan dengan bahasa yang indah. Baha yang indah bukan berarti mendayu-dayu, kaya kosakata serta sesuai dengan konteksnya. “Sebaiknya buku cerita itu sifatnya tidak menggurui, tetapi bercerita atau show not tell, jalan ceritanya jelas, alurnya jelas, tokohnya juga jelas,” pungkasnya. (Gun)











