DI ANTARA momen-momen besar dalam sejarah suatu bangsa, keberadaan fotografer sering kali terabaikan. Namun, dalam kasus proklamasi kemerdekaan Indonesia, ada dua sosok fotografer yang memiliki peran besar dalam mengabadikan momen bersejarah tersebut dan menyebarkannya melalui media surat kabar. Mereka adalah Alex Mendur dan Frans Mendur, dua kakak-beradik yang memiliki andil luar biasa dalam sejarah proklamasi.
Dalam keadaan genting pasca-proklamasi, tentara Jepang berusaha menghalangi penyebaran informasi tentang kemerdekaan Indonesia. Mereka memburu duo Mendur yang telah memotret momen penting tersebut. Tentara Jepang berambisi merebut dan menghancurkan foto-foto proklamasi agar rahasia kemerdekaan tidak tersiar ke publik. Namun, masa depan Indonesia telah ditentukan oleh Tuhan, dan keberpihakan-Nya untuk kemerdekaan negara ini.
Frans Mendur dengan cepat menyembunyikan kameranya di bawah pohon di halaman kantor Harian Asia Raya, sehingga hasil bidikannya selamat dari upaya perampasan. Namun, sayangnya, kamera Alex Mendur berhasil dirampas dan beberapa foto yang diambilnya rusak. Kini, kita hanya bisa menikmati karya-karya bidikan Frans sebagai saksi bisu dari momen bersejarah tersebut.
Perjuangan duo Mendur tidak hanya berakhir dengan proklamasi. Dengan kamera sebagai senjata perjuangan, mereka terus berjuang membela Republik yang baru lahir dengan cara mereka sendiri. Untuk memantapkan langkah perjuangan, mereka bahkan mendirikan kantor berita dan galeri foto independen yang diberi nama Indonesian Press Photo Service (IPPHOS). IPPHOS bukan hanya menjadi kantor berita foto nasional pertama, tetapi juga menjadi wadah bagi idealisme, profesionalisme, dan semangat kemerdekaan.
Kisah Mendur bersaudara dimulai dari daerah penghasil kacang tanah di Kawangkoan, Minahasa, Sulawesi Utara. Alex lahir pada tahun 1907, sedangkan Frans lahir pada tahun 1913. Frans, yang pada awalnya nekat merantau ke Surabaya, akhirnya menjadi fotografer handal di Jakarta berkat bimbingan kakaknya. Mereka tidak hanya dihormati di kalangan wartawan asing, tetapi juga menciptakan karya-karya foto yang menjadi saksi bisu sejarah.
Untuk mengenang jasa besar Mendur bersaudara, keluarga mereka mendirikan “Tugu Pers Mendur,” sebuah monumen yang mencakup patung Alex dan Frans serta bangunan rumah adat Minahasa. Indonesia berhutang budi kepada duo Mendur ini karena telah menjaga dan mengabadikan sejarah kemerdekaan dengan penuh dedikasi. Sebagai dua putra terbaik bangsa, mereka telah membantu mengukir jejak penting dalam sejarah Indonesia yang patut dihargai dan dikenang oleh generasi mendatang. (Dedy Hutajulu)









