Jakarta, ArmadaBerita.Com – Tantangan penyakit kronis seperti kanker dan autoimun di Indonesia kian mendesak. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan kasus autoimun telah mencapai sekitar 2,5 juta penduduk, sementara kanker masih menjadi penyebab kematian tertinggi keempat dengan lebih dari 400 ribu kasus baru setiap tahun.
Menjawab tantangan tersebut, dosen Ilmu Komputer Universitas Pertamina (UPER), Dr. Meredita Susanty, M.Sc., bersama kolaborator internasional mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) BiCaps-DBP untuk mempercepat penemuan kandidat obat kanker dan penyakit autoimun.
BiCaps-DBP dirancang untuk mengidentifikasi protein pengikat DNA (DNA-binding proteins/DBPs)—protein kunci yang berperan dalam regulasi gen, perlindungan materi genetik, dan perbaikan DNA. Gangguan fungsi protein ini diketahui berkontribusi terhadap munculnya berbagai penyakit serius, termasuk kanker dan autoimun.
Selama ini, identifikasi DBPs dilakukan melalui eksperimen laboratorium yang memakan waktu hingga belasan tahun dengan biaya sangat besar, mengingat tubuh manusia memiliki jutaan jenis protein. BiCaps-DBP hadir sebagai solusi komputasi yang mampu menyaring protein paling potensial secara cepat dan akurat sebelum diuji di laboratorium.
“BiCaps-DBP berfungsi sebagai teknologi penyaring awal untuk membantu peneliti fokus pada kandidat protein yang benar-benar relevan,” terang Dr. Meredita di Jakarta baru-baru ini. Dengan pendekatan ini, waktu, biaya, dan sumber daya riset dapat ditekan secara signifikan.
Dalam pengembangannya, Dr. Meredita berperan memastikan keandalan analisis komputasi, termasuk validitas argumen ilmiah serta visualisasi data agar mudah dipahami peneliti lintas disiplin. Hasilnya, BiCaps-DBP mampu meningkatkan akurasi prediksi hingga 1,05%–5,79% dibandingkan metode sebelumnya, menjadikannya lebih presisi dalam menyaring kandidat protein.
Riset ini telah dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi Computers in Biology and Medicine (Elsevier) dan menegaskan pentingnya kolaborasi antara ilmuwan komputer, ahli biologi, dan pakar medis dalam pengembangan biofarmasi modern.
“Meskipun tidak menggantikan eksperimen laboratorium, model komputasi seperti BiCaps-DBP berpotensi mempercepat riset diagnosis dini, terapi presisi, dan pengembangan obat di masa depan,” tambah Dr. Meredita.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menilai inovasi ini sebagai bukti bahwa riset Ilmu Komputer dapat memberikan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat.
“Kami mendorong pembelajaran yang tidak hanya teknis, tetapi juga menghasilkan solusi konkret bagi persoalan global. Pemanfaatan AI dalam riset kesehatan ini sejalan dengan kontribusi perguruan tinggi terhadap pencapaian SDGs 3: Good Health and Well-being,” ujarnya.
Melalui Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Pertamina mengajak generasi muda untuk terlibat dalam pengembangan AI dan teknologi komputasi yang berdampak langsung bagi kemanusiaan. Informasi pendaftaran dapat diakses melalui pmb.universitaspertamina.ac.id. (*)











