Orang-orang Penakut di Lantai Tiga

Share

Dalam bayang-bayang kami, mendengar kata pengobatan alternatif pasti tidak jauh dari asap hasil pembakaran bunga kemenyan yang mengepul di udara. Di sudut-sudut ruangan pasti bergantungan kepala-kepala hewan hasil perburuan liar. Wajah-wajah hewan itu akan tampak menyeramkan sebab matinya mereka sungguh tidak wajar. Barangkali dagingnya pun dimakan mentah oleh komplotan pemburu sebagai syarat untuk memperoleh ilmu kebal, tembus pandang, dan kemakmuran. Bau darah dari hasil pembantaian ayam-ayam kampung akan menguar memenuhi seisi ruangan.

Seorang kakek duduk di tengah persembahannya yang aneh. Mulut bacarnya berkomat-kamit membacakan jurus mandraguna. Dari gerakan cepat mulutnya itu terjiprat buih-buih ludah. Di depannya pasti sudah berjejer para pasien yang meminta kesembuhan. Itu sebabnyalah kami diminta datang subuh-subuh sekali. Mereka yang tiba, ada yang sudah berobat kemana-mana.

Ada yang putus asa sebab tak kunjung sembuh dari sakitnya. Ada yang sudah berobat keluar negeri pun tidak memberikan hasil. Ada yang sudah mencoba pengobatan alternatif lain tapi tidak cocok. Dari mana informasinya hingga mereka bisa tiba di pengobatan ini pun beragam. Kabarnya dari mulut ke mulut. Begitu juga kedatangan kami pun berdasarkan info dari kerabat yang sembuh dari sakit anehnya.

Hasil diagnosa dokter menunjukkan penyakit yang dideritanya cukup serius. Sementara obat yang diminumnya tidak mampu meredakan gejala sakit yang dialami. Malahan semakin hebat sakit yang dirasakan setelah minum obat. Akhirnya, kerabat kami itu sembuh setelah datang ke tempat kakek. Karena proses penyembuhan itu pun kebanyakan usahanya, apapun akan dilakukan untuk sembuh. Cocok atau tidak cocoknya itu, sebab penyakit datangnya rombongan. Perginya enggan. Tidak salah bagi kami untuk mencoba ke tempat kakek ini.

Sesampainya kami tiba di kampung Sadu, salah satu desa di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Kami dikejutkan dengan tampilan bangunan tempat kami akan rawat inap. Di luar bayangan kami yang sudah menghantui di sepanjang perjalanan jauh dari Sumatera Utara. Di depan kami berdiri balai pengobatan yang tegak dan megah. Bukan seperti pondok-pondok lapuk dan akan rubuh sewaktu-waktunya diterpa kentut tupai. Kami tercengang. Tidak ada bau kemenyan, patung-patung hewan dan aroma menyengir.

Semakin terhenyaknya kami saat melihat kakek berpenampilan seperti pegawai kantor lurah. Ia mengenakan kemeja yang sedang tren masa kini. Istilahnya ‘new arrival’. Rambutnya klimis dipoleskan minyak. Aroma tubuhnya menyiratkan parfum impor. Celananya berbahan bagus disetrika mati. Sepatunya keren di kalangan anak muda pe-basket. Kakek cocoknya jadi juragan gerobak bubur ayam Cianjur yang rame memenuhi seantero jagat Jawa Barat. Bikin orang silap.

Tidak ada sorban yang melilit lehernya, ditutupi janggutnya yang panjang. Juga blangkon di kepala membendung rambutnya yang panjang dan berantakan. Berpakaian hitam lengan panjang menutupi bulu-bulu tangannya yang bergidik dengan celana panjang hitam menggantung di atas mata kaki. Juga tidak mengenakan sendal bertali yang dipakai para pesilat senior.

Kami tidak mengira lagi kalau kakek seorang dukun. Dukun tidak memberikan obat kepada pasiennya. Sebab untuk sembuh, pasiennya tidak akan mengeluarkan kocek dalam-dalam. Berbeda dengan pengobatan alternatif versi kakek ini. Si pasien harus rawat inap dulu untuk ‘ditotok’ selama waktu yang ditentukannya. Kemudian si pasien wajib minum jamu herbal hasil penyulingan ribuan akar, daun, dan batang. Kategori jamu pun disesuaikan dengan kemampuan si pasien. Kualitas jamu super yang paling mahal harganya.

Kami merasa lega. Berobat ke dukun memang cepat, tapi lama waktunya untuk melepaskan diri dari jeratan setan yang menyembuhkan penyakit kita. Mereka bisa hinggap di tubuh kita bertahun-tahun dan keluar dalam wujud ikan berukuran besar dari pergelangan tangan. Ada juga yang tinggal di genteng kita. Seperti cerita orang tua dulu yang susah matinya sebelum dilakukan ritual pengangkatan jimat.

Kakek menyambut kami dengan ramah. Bahkan mempersilahkan kami tinggal selama sebulan di balainya tanpa ditagihkan biaya inap per malam. Namun, kakak merasa tidak nyaman untuk tinggal di balai itu. Ia mendengar suara radio terlalu kuat dinyalakan. Barangkali ada kegiatan di atas. Pikirku.

Kata orang-orang, pasien kakek dari dulu sudah banyak. Mereka yang datang berobat ke tempat kakek bisa dari provinsi mana saja. Dari Ambon, Papua, Kalimantan, dan Sumatera. Sangking melubernya, para pasien dititipkan di rumah tetangga kakek untuk rawat inap. Oleh karena itulah kakek menaikkan bangunan balai hingga dua lantai. Setiap lantainya memiliki sepuluh kamar. Jikalau pasien kakek datang dari luar kota, kamar yang dihuni terlebih dahulu di lantai dasar. Sekarang kebanyakan pasien kakek di Jakarta sehingga kakek harus ke sana dua kali seminggu. Karena mayoritas pasien kakek adalah pekerja kantoran, tidak memungkinkan mereka datang ke balai untuk rawat inap. Bangunan yang luas pun terbengkalai dan terlihat sepi.

Akhirnya karena mempertimbangkan hemat biaya, kakak mau mendampingiku tinggal di balai. Seminggu sudah terlalui. Kakak masih merasa tidak nyaman. Seminggu sudah radio di lantai atas mengudara.

“Aku penasaran dengan aktivitas di lantai atas. Sepertinya ramai sekali,” kata kakak.

Cuman kami berdua yang tinggal di bawah. Namun, ramainya suara itu seperti di pasar malam. Suara radio itu terus membahana selama dua puluh empat jam. Sesekali penghuni lantai atas turun. Kami mengira sungguh ada orang di atas sana.

“Mengapa radio itu tidak dimatikan saja saat tidur. Apa mereka tidak takut korslet atau gimana?” Celetukku.

“Lagian di saat jam tidur juga. Suara radionya tidak dikecilkan. Sama aja seperti di siang hari. Sungguh aneh”, tambah kakak.

Kami semakin tidak nyaman dengan kehadiran radio itu. Seperti ada yang tidak beres dengan bangunan ini. Kami pun menanyakan hal itu kepada penjaga balai. Kata si akang, radio itu berada di lantai dua dan sudah menyala sebulan lebih juga penghuninya berada di lantai tiga. Tujuannya agar bangunan ini tidak sepi. Kami takut mendengarnya sekaligus geli. Bagaimana mungkin bangunan di pinggir jalan besar ini terkesan sepi. Begitu penakutnya penghuni lantai tiga itu.

Terdengar dangdut kedaluwarsa didendangkan. Hantu-hantu di atas pasti enggan mendengarnya. Setiap malam lantunan ayat-ayat rohani sayup-menyayup. Entah kepada siapa rapalan itu ditujukan. Kami pun mendengarnya cukup terganggu. Tapi begitupun itu, kami masih lebih bersyukur lagu dan ramalan itu dikumandangkan daripada sesi percakapan antara laki-laki dan perempuan. Kami yang mendengarnya seperti merasa mereka benar-benar ada di atas, sedang sibuk bercokol ria di jam-jam setan keluar. Kami mendengarnya merinding. Aku sampai minta ditemani oleh kakak ke kamar belakang saat tengah hari. Kakak pun malah menggunakan kamar mandi orang untuk menyelesaikan urusan hajatnya. Kumpulan orang-orang aneh yang terjerembab dalam satu gedung.

Ternyata penghuni lantai tiga masih kerabat dekat kakek. Mereka membuat bisnis sewa baju pengantin di atas. Tetapi sepenglihatan kami, tidak pernah ada orang yang naik untuk cocok-pas. Kami penasaran. Suatu ketika kami tersontak dengan suara gedebuk. Seorang balita jatuh setelah menaiki beberapa anak tangga. Ia menangis kesakitan. Kami terkesiap dan berusaha menolong. Namun, dengan cepatnya ibu itu membawa anaknya dan lari ke atas. Sungguh teledor ibunya membiarkan anak sekecil itu menaiki tangga sendiri. Orang-orang itu memiliki anak kecil tapi tidak khawatir saat suara radio itu bisa mengganggu jam tidur malam mereka.

Akhirnya, kami pun berinisiatif untuk memadamkan radio itu. Namun, tak lama kemudian radio itu kembalikan dinyalakan. Bahkan, suaranya dinyalakan lebih kuat dari sebelumnya. Kami jadi jengkel.

“Sudah bisa kakak tebak, siapa yang penakut disini?” sahutku.

Kami pun memutuskan untuk memeriksa keadaan di lantai dua yang tidak dihuni itu. Beberapa ruangan terisi barang sisanya dibiarkan kosong terbengkalai. Pandanganku tertuju pada salah satu ruangan. Di dalamnya terpajang sebuah bingkai gambar sepasang kekasih yang mengenakan baju pengantin. Kamar itu terkunci namun bisa terlihat dari luar seisi ruangan karena sebuah jendela kaca kamar yang tak bertirai. Beberapa kain putih berserakan di lantai di sekitar gambar yang sudah usang itu. Lampu-lampu setiap kamar dibiarkan menyala hingga masing-masing lampu kamar mandinya.

Kami bertanya-tanya mengapa lantai tiga yang dihuni bukan lantai dua. Arsitektur tangganya pun juga sangat rawan. Sebab untuk menuju ke lantai tiga sangat berjarak tipis dari rongga jalur tangga lantai satu ke lantai dua. Kami pun takut menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Seharusnya dibuat pembatas yang berjarak dari lantai dua ke lantai tiga. Atau tiang dan pegangan pemisah anak tangga dengan lantai. Sepertinya anak tangga lantai tiga didesain tidak melewati kamar-kamar di lantai dua. Atau melihat desain tangga yang belum dilengkapi pegangan itu memang sengaja agar orang-orang enggan ke atas. Penguni lantai tiga bukannya membersihkan kondisi lantai dua padahal selalu mereka lewati. Ruangan memang tampak menyeramkan jika tidak dibersihkan.

***

BEBERAPA HARI kemudian sebelum kepulangan kami dari balai, penghuni lantai tiga menurunkan barang-barangnya ke lantai dasar. Beberapa perabot rumah tangga juga mesin jahit.

Saat kami tanya pada Akang pembuat jamu, penghuni lantai tiga memutuskan untuk pindah. Alasannya, tangga bangunan menuju lantai tiga terlalu curam dan berbahaya dinaiki. Karena pemindahan barang dilakukan cepat-cepat, kami pun tidak sempat bertegur sapa.

Namun, semenjak kepergian mereka, tidak ada lagi terdengar suara radio dinyalakan. Barangkali radio itu telah dibawa pindah oleh penghuni lantai tiga. Suasana balai menjadi sangat sepi sebab kami merasa hanya berdua saja menghuni bangunan semegah ini. Kakek selalu kembali ke rumahnya setelah melayani pasien.

Sementara akang membantu kakek saat melayani pasien dengan membuat jamu saja. Jikalau menjaga pun saat hendak menyalakan lampu dan menutup tirai jendela dan kembali pulang ke rumah.

***

DINI HARI sebelum kepulangan kami dari balai, tiba-tiba aku terbangun mendengar suara radio dari lantai atas. Siaran yang mengudara saat itu adalah dangdut berbahasa Jawa. Aku mafhum dan bergumam tak sadar siapa juga yang mau berjoget di jam tiga pagi ini (*)

 

Soreang, 12 Oktober 2023

Karya ini mendapatkan prestasi sebagai ‘Penulis Terpilih’ dalam lomba cipta puisi dan cerpen nasional 2023 diselenggarakan PT Bara Pustaka Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *