Bos Yang Menuruti Perkataan Bawahannya

Share

Oleh: Pretty Luci Lumbanraja

Di dalam forum diskusi yang sangat hangat, hanya satu pernyataan yang diingat dan akan selalu terngiang-ngiang di kepala Riqi. Kunci menjadi sukses adalah berani memberikan pekerjaan pada atasannya sendiri.

Saat Riqi menerima penugasan untuk menghadiri sebuah forum untuk kaum milenial, sungguh ia ingin benar-benar mengumpat. Jika bukan mengingat-ingat masa percobaan untuk kedua kalinya setelah menerima surat peringatan dari bagian personalia, Riqi lebih baik bertengger lama-lama di depan pekerjaannya.

Riqi bergabung ke kantor di divisi IT lantaran kerabat dari pamannya. Karena sikap perfeksionisnya itulah yang menyulitkannya untuk mendapat pekerjaan. Terakhir ia berani menghardik atasannya lantaran ketidakadilan yang diterima. Persaingan di dunia pekerjaan memungkinkan terjadinya sikut-sikutan antar rekan kerja. Semuanya mengerikan soal urusan periuk nasi.

Apapun dijilat. Pantat periuk, pantat aquarium, hingga pantat atasan. Alih-alih melakukan hal yang sama, Riqi lebih baik mundur dari parkiran. Padahal tinggal beberapa langkah lagi baginya untuk setara menjadi supervisor. Ia tidak mengangguk-angguk takjim pada hal yang menyalahi integritas diri. “Lebih baik aku mengenakan arloji kodian Bung, daripada berlagak prajurit terakota seperti kau. Wasalam!!” tegasnya.

Orang-orang disitu merasa bergejolak. Apa yang dilakukan Riqi sudah tepat. Namun, bagaimana lagi. Bekerja di bawah tekanan besar masih gemar dicintai. Semuanya anak dan istri. Riqi cukup mengerti dan memaklumi. “Cukup kabari saja aku jika kau sudah sukses“ sapanya dengan tawa kecil yang sumbang.

Diambung asap perapian, Riqi menikmati masa-masa rehatnya. “Sudahlah paman. Bukan aneh bin ajaib. Nasi jinggo pun bisa kumakan. Tidak usah mengkhawatirkanku.”

“Bukan begitu, aku mengkhawatirkan ibumu. Bagaimana masa depanmu jika kau tidak memiliki pekerjaan. Bergabunglah di tempat kerabat paman. Cari pekerjaan di masa-masa ini sangat sulit.”

Setelah dalam diskusi yang panjang, Riqi tidak sanggup berjibaku melawan. Titik kelemahannya itu adalah ibunya. Sikapnya seperti pada begundal yang tidak bergabung dalam kaum bramacorah. Tidak jelas. Ia diminta untuk mengabaikan semua cara-cara lama. Dan seolah-olah menjadi budak belian, demi ibunya. Hidup di kota memang kejam tak berperi tapi lebih mengerikan lagi hidup di desa dengan hati ketar-ketir. Di desa tidak menyediakan apa-apa.

***

Dalam pertemuan virtual secara rutinan, mulut pemimpinnya itu tidak perai mengoceh. Seorang perempuan. Ia tidak melihat darimana Riqi berasal. Sesuai janji pamannya itu yang cukup mengintervensi sampai masuk ke perusahaan. Soal di bagian mana di tempatkan, Riqi tidak mau tahu menahu.

Dia tidak menunjukkan seluruh kemampuannya. Takutnya, kemampuannya itu dimanfaatkan tanpa adanya apresiasi yang sesuai. Seperti merangkak, pekerjaan kecil dianggap seperti perkara yang runyam.

“Astaga, untuk pekerjaan seperti ini, gua mesti ngasih waktu dua hari sama lu, Riq. Parah lu ya. Divisi mana yang mau nerima lu selain gua, Riq. Itu semua karena gua yakin sama lu, Riq. Lu pasti bisa.”

Sejurus kemudian, setelah dengan kegemparan itu, Riqi terhenyak dengan seraut wajah yang pias. Bingung apakah ia perlu terharu di tengah huru-hara rongsokan berkas. Tak lama setelah itu, ia menerima secarik kertas berisikan surat peringatan. Sebagai kesempatan dari bosnya untuk memperbaiki kinerjanya itu dengan mengunjungi cabang-cabang terpencil. Uang muka perjalanan dinas juga dibatasi. Ia harus menyusun strategi bak pencatur kelas ayam. Ia menunduk tafakur seperti pernyataan yang ia pernah dia dengar saat forum itu.

***

Langit biru merajai angkasa. Matahari masih tampak merekah. Debur ombak kuat merebak. Namun, bau anyir menguar. Beberapa kapal teronggok centang perenang di pinggir pelabuhan. Untuk mendapatkan hikmah yang membuatnya kalah mental tersuruk-suruk, ia harus sampai ke Kabupaten Tuban.

Kepala cabangnya amat ramah dan tampak tulus. Di tengah banyak anak-anak yang menggerung-gerung riang, ia banyak bercerita. Semenjak harga bahan bakar naik, para nelayan kesusahan melaut. Pendapatan pun menjadi rendah dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan.

“Bagaimanapun Ibu Leni gitu-gitu, tampaknya jemawa. Tapi hatinya sangat tulus. Mas, jangan buat dia susah ya. Kalo bukan karena perjuangan dia, kami yang kecil-kecil ini telat bergaji. Turun ke lapangan belum tentu dapat nasabah. Belum lagi nasabahnya telat bayar kredit. Mau makan apa anak istri kami, Mas.

Pasir pantai Tuban membuat langkahnya sempoyongan. Ia tidak sadar bahwa dirinya itu memiliki mentalitas menyerah. Posisi bisa bekerja di kantor pusat di dalam gedung yang menjulang tinggi dengan segala kenyamanannya tidak mengartikan apa-apa. Ia banyak merenung, bukan soal hikayat di warung kopi. Lebih dari itu.

Ia tidak menyangka, perjuangan bosnya itu mempertaruhkan kesehatan dan masa depannya sendiri. Namun, ia tidak mengeluh dan tegar. Untuk kali ketiga, bosnya itu kehilangan bayi dengan perjuangan bayi tabung. Karena kedegilannya itu, selama ini ia telah membuat bosnya marah tingkat apokaliptik.

Sepulang dari perjalanan dinas itu, Riqi memantapkan hati untuk berubah. Banyak hal yang diambil menjadi pembelajaran hidup. Pengorbanan dan kesabaran. Sepanjang hari pekerjaan selesai tepat waktu. Ia menerima arahan dengan cepat dan inisiatif bertindak. Leni yang biasa dengan omelan merembet-rembet kini diam membungkam. Riqi sudah bisa mandiri bekerja. Semua persoalan dapat dipecahkannya. Jati dirinya yang terpendam selama ini terus terpancar.

Leni termangu-mangu tidak paham. Setan laut apa yang merasuki pendatang dakocan surabaya dadakan. Ritme pekerjaannya mulai ringan. Ia mengangguk-angguk takzim semua ide dari Riqi. Lambat laun Riqi mulai dipercayakan memimpin tim. Ia bertekad sukses dan mendatangkan perubahan yang baik di pekerjaannya (*)

Penulis seorang cerpenis dan bergiat dalam komunitas Perkamen (Perhimpunan Suka Menulis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *