NEWS  

Viral, Ibu Pedagang Cabai dan Anak Perempuannya Dipukuli 4 Preman, Satu Pelaku Ditangkap Polsek Percut

Share

Percut, ArmadaBerita.Com

Seorang pria tegap yang disinyalir sebagai preman diamanahkan Polsek Percut Sei Tuan dari salah satu rumah makan di Pasar 10 Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang Senin (6/9/2021) malam.

Pria itu bernama, Benny Sitepu. Ia diamanahkan polisi setelah menindaklanjuti laporan pengeroyokan san penganiayaan dengan nomor laporan STTLP /1739/IX/2021/SPKT Percut Sei Tuan pertanggal 5 September 2021.

Korbannya adalah wanita pedagang Cabai bernama, Liti Wari Iman Gea (37) warga Jalan Persatuan, Gang Ramlan, Dusun 2 Tembung, Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan dan anaknya bernama, Tiara Ratna Sari (13).

Ibu dan anak itu dikeroyok dan dipukuli hingga babak belur saat menjajakan jualannya di Pajak Gambir Pasar 8, Desa Tembung, Kecamatan Percutian Sei Tuan, Minggu (5/9/2021) sekiranya pukul 09.00 WIB.

Video kejadian itu pun sempat diviral salah seorang warga ke media sosial. Sementara korbank langsung mendatangi Mapolsek Percutian Sei Tuan guna membuat laporan.

Kapolsek Percut Sei Tuan, AKP Janpiter Napitupulu membenarkan diamankannya salah satu pelaku pengeroyokan dan penganiayaan terhadap seorang ibu pedagang cabai dan anak perempuannya yang sempat viral tersebut. Polisi dengan cepat menindaklanjutinya laporan korban

“Salah satu pelaku berinisial BS sudah kita amankan saat sedang nongkrong di salah satu warung tempat dia biasa nongkrong di Pasar 10 Tembung,” kata Kapolsek, Selasa (7/9/2021).

Sementara kedua korban saat ini, Selasa pagi, kembali mendatangi Kapolsek Percut Sei Tuan, guna menjalani serangkai pemeriksaan dalam hal mengambil keterangan. Dari amatan wartawan di Mapolsek Percut, korban turut didampingi pengacara, bahkan beberapa elemen masyarakat serta solidariti dari para suku Nias.

“Kami datang untuk mendukung dan mendampingi korban. Kita berharap polisi segera meringkus semua pelaku penganiayaan terhadap ibu dan anak perempuannya ini, karena aksinya juga diketahui orang banyak dan sudah viral. Aksi pengeroyokan dan penganiayaan ini cukup keji,” kecam salah seorang pria mengenakan seragam Laskar Merah Putih (LMP) yang datang bergerombol menemui korban di kantor polisi.

Aksi penganiayaan itu diduga karena Benny Sitepu bersama tiga teman prianya hendak meminta uang kepada korban selalu pedagang. Namun, uang yang diminta tak jelas arahnya sehingga diangap pungutan liar (pungli).

“Mereka ada empat orang, satu ldiantaranya saya kenal bernama, Benny Sitepu. Mereka sudah sering meminta uang sama kami para pedagang, kalau sama saya selalu enggak saya kasih karena uanggnya gak jelas untuk apa,” kata Liti Wari Iman Gea yang turut didampingi suaminya, Hato Ada Hura alias Pak Endang Hura (40).

Karena sering tak memberi, Benny CS datang lagi. Saat itu, Liti Wari Iman Gea dan anak perempuannya yang masih berusia 13 tahun bernama, Tiara Ratna Sari tengah sibuk berjualan. Para terduga pelaku langsung menghardik mereka. “Hai orang Nias, ngapain kalian jualan-jualan disini, buat macet aja,” hardik para preman seperti yang diturak korban.

“Mereka tiba-tiba datang minta uang Rp 500 ribu. Saya tanyak uang apa, kenapa minta sama saya dan saya bilang sudah bayar sama pemuda setempat untuk jualan saya, lalu mereka memaksa dan marah-marah,” ungkap korban sembari menjelaskan bahwa para terduga pelaku mengaku dari Forum Pasar di sekitar lokasi.

Perdebatan itupun menyulut emosi para preman. Mereka seperti kesetanan langsung meninju wajah, Liti Wari Iman Gea. Wanita itu langsung kesakitan dan meronta. Pelaku kembali menjambak rambut wanita itu lalu menghajarnya hingga jatuh ke tnah (aspal). Dalam kondisi jatuh dan kesakitan, para pria bertubuh kekar itu lantas menginjak korban hingga berulang-ulang.

“Ngeri kali kalau ku ingat itu, aku sampai ketakutan sekali. Perutku dipijak-pijak mereka sampai pendarahan aku. Sudah teriak aku kalau perutku ini bekas oprasi melahirkan. Mereka terus memukuli aku dan anakku. Warga dan pedagang lain yang mau membantu juga ikut dipukul,” ucap korban sambil menitikkan air mata.

“Mereka minta uang, tapi nggak jelas uangnya. Kami pun bingung, sementara bayar lapak kami sudah. Mereka juga sering memalak pedagang lain,” bebernya.

Disaat itu, Tiara Ratna Sari berusaha melerai agar para pria tegap itu berhenti memukuli ibunya. Namun para pelaku tak menggubris dan malah tega menghajar bocah perempuan yang masih berusia 13 tahun itu.

Dengan ganasnya para pelaku juga sekang menjadikan bocah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) kelas VI itu seperti lawan tarungnya. Pelaku memukul korban, menendang, hinggak menjambaknya sampai lengan korban saat ini susah digerakan lantaran bengkak dan terkilir.

“Mereka memukuli dan memijak-mijak mamakku. Mereka juga memukuliku. Rambutku dan rambut mamakku dijambak lalu kepala kami diantukkan, lalu mereka meludahi kami. Tanganku ini juga bengkak dan terkilir,” tutur Tiara yang terus memegang lengan kanannya karena kesakitan.

Korban pun berharap agar pelaku pengeroyok dan penganiaya itu dapat semua tertangkap dan dihukum seberat-beratnya.

“Saya hanya pedagang cabai, bawang di pinggiran, kenapa kami yang orang kecil ini diganggu. Aku enggak bisa melawan karena mereka laki-laki dan besar-besar badannya. Yang buat aku sedih, sepertinya aku udah mati saat itu. Sampai sekarang terauma juga aku, sampai pendarahan. Saya berharap supaya ditangkap semua mereka dan dihukum semua,” harapnya. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *