Siantar, ArmadaBerira.Com
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematang Siantar sudah over kapasitas.
Sampah-sampah plastik dan lainnya semakin menggunung dan terurus bertambah.
Pantauan awak media ini di lokasi, Sabtu (25/3/2023) pukul 15.00 WIB, sampah tampak menggunung di sejumlah titik.
Terlihat pula sejumlah ekskavator memindahkan sampah-sampah tersebut ke tumpukan sampah yang masih rendah.
Di lokasi, juga terlihat banyak truk pengangkut sampah yang hendak membuang muatannya.
Truk tersebut mengantri, selebihnya mereka langsung membuang muatannya di pinggir gunungan sampah.
Selain itu, tampak beberapa ekor binatang anjing berada di tumpukan sampah yang menggunung.
Bahkan banyak pemulung memilah sampah yang masih bisa dimanfaatkan untuk menjadi rupiah dan perekonomian mereka.
“Lebih 30 truk keluar masuk setiap hari. Satu mobil bisa datang pulang balik sampai 3 kali,” ujar petugas TPA marga Sinaga saat ditemui di lokasi.
Dia mengatakan sampah yang masuk setiap hari hanya dibiarkan.
Selama ini, kata dia, tidak ada pengelolaan terhadap sampah yang menggunung tinggi itu.
“Begini saja, masih dibiarkan. Tidak ada pengelolaan sampah, makannya numpuk ini banyak sampai tinggi, ” ujarnya.
Dia menuturkan, sejumlah pemulung yang memilah sampah biasanya bisa mengurangi volume sampah yang ada.
Namun, sampah yang berkurang tidak begitu signifikan.
“Mereka ambil sampah plastik. Seandainya tidak diangkut sama pemulung, mungkin tambah numpuk,” ungkapnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pematang Siantar Dedi T Setiawan mengatakan, sampah menggunung akibat daya dukung dan daya tampung TPA itu sendiri.
“Makannya, ini kita masih proses pengadaan lahan. Mudah-mudahan rencana pengadaan lahan selesai tahun ini yang akan dilanjutkan dengan pembangunan TPA,” kata Dedi.
Dedi mengaku, masalah pengelolaan sampah adalah pelayanan publik yang tidak hanya berbicara keuntungan.
Justru, bagaimana pengelolaan sampah dan kebersihan itu sendiri, pada akhirnya akan mengurangi dampaknya.
Dampak pengurangan sampah termasuk menjadikannya ke berbagai olahan, misalnya untuk keperluan orang-orang.
“Seperti kompos, briket arang, dan budi daya maggot. Dan kita juga berusaha agar dapat memanfaatkan sampah ini, sehingga bernilai ekonomis dan menambah PAD,” jelasnya.
Soal teknis pengelolaan sampah kata Dedi, nanti akan dilaksanakan berlokasi di pengelolaan sampah skala kota di tanjung pinggir. (Hay)











