Oleh Arvin Syaputra Nasution
Ia meyakini, lewat pesantren, harapan impian anak-anak yatim-piatu dan kaum duafa bisa terjaga. Karena mereka juga diajarkan agama. Bukan saja agar anak-anak marjinal itu bisa terbebas dari jerat narkoba tetapi lebih besar dari itu. Ia ingin membantu anak-anak itu agar tetap memilihi harapan hidup (hope). Bahwa anak-anak itu tidaklah berjuang sendirian. Ada dirinya yang siap sedia mendukung mereka untuk tumbuh dan meraih mimpi.
Tiga tahun sudah Irfansyah menggeluti dan mengurusi pondok pesantren rintisannya itu. Awalnya dinamai pondok pesantren Darul Tahfiz Assairun. Namun seiring waktu, ayah tiga anak ini sedikit demi sedikit akhirnya mampu mengembangkannya menjadi yayasan Assairun. Yayasan ini mengelola pondok pesantren sekaligus Rumah Yatim Duafa. Lokasinya masih berada di areal kediaman Irfansyah di Jalan Perjuangan, Gang Cempaka, Dusun XIX, Desa Kelambir V, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumut.
Tugas sebagai polisi memang tidak main-main. Begitu juga dengan mengurus yayasan. Agar kedua tugas itu bisa berjalan beriringan tanpa ada satu yang terlantar, Irfansyah memanajemen waktunya dengan baik.
“Saya kan berangkat dinas pagi sampai pukul 5 sore. Setelah itu, langsung pulang dan mengajar anak-anak di pesantren sampai pukul 8 malam. Lalu Sholat isya selesai, balik lagi ke rumah,” kata pria yang akrab disapa ustaz Irfan ini.
Dengan membagi waktu secara tepat, Irfansyah bisa menjalankan sekaligus menikmati bertugas sebagai polisi dan sebagai pendidik di pesantren. Bahkan, ia tetap bisa dekat dengan anak dan istrinya. Alhasil tanggung jawabnya sebagai seorang polisi tetap amanah.
Irfansyah adalah sosok polisi muda yang cekatan. Pun murah senyum. Ia berdinas di Polda Sumatera Utara. Pangkatnya sekarang Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda). Ia bertugas sebagai staf perencanaan dan administrasi bidang hukum. Begitu sibuknya ia tiap hari. Walau begitu, ia selalu mencurahkan perhatiannya terhadap pengembangan dan pemajuan pesantrennya. Bahkan, jumlah santri yang mondok di pesantrennya terus bertambah.
“Alhamdulillah sekarang santri kita sudah ada 31 orang. Mereka mulai dari 8 sampai 17 tahun,” kata Irfansyah saat diwawancarai wartawan, Selasa (18/10/2022).
Dalam mengelola pesantren, Irfansyah tidak sendiri. Ia merekrut sejumlah guru. Salah satunya Ustazah Astri sebagai pengasuh anak-anak di Pondok Assairun. Guru pengajar di pondoknya itu dijaring dari rekan ustaz lainnya. “Guru-gurunya saya dapat dari kawan-kawan di pesantren lain. Jadi tak ada mengganggu tugas pokok kepolisian, saya dibantu dengan pengasuh dan guru-guru yang saya datangkan dari luar atau freelance,” ungkapnya.
Mengapa pesantren dan rumah yatim yang dia bangun makin berkembang? Irfansyah punya jawaban yang menohok. “Saya senang berbagi kasih pada anak-anak yatim dan dhuafa,” ujarnya.
Irfansyah percaya, di masa depan, anak-anak yang diasuhnya itu menjadi manusia bermanfaat bagi orang lain. Dan ia sangat berharap, kelak terlahir ulama besar khususnya di kota Medan dan Deli Serdang dari pondok pesantren yang ia dirikan.
Metode dan proses belajar yang diajarkan di pondok ternyata sangat diminati para santri. Ditambah, semangat untuk menjadi orang berguna terus ditanamkan. Uniknya, beberapa santri yang awalnya hopeless (hidup tanpa pengharapan), kini jadi punya cita-cita, sepasti dirasakan Muhammad Ilham Ridho (12 tahun). Remaja asal Kecamatan Patumbak ini awalnya nyaris putus sekolah karena keterbatasan dana. Namun berkat pendidikan gratis dan mondok di Pesantren Assairun, kini ia lebih giat belajar, khususnya membaca Al-Qur’an. Ia bahkan betah tinggal di Pondok. “Saya senangnya baca Al-Qur’an. Tapi saya juga suka masak. Saya mau jadi koki,” tutur Ridho.
Hopeless juga sempat dialami santri wanita bernama, Putri Dhuana Berampu. Gadis remaja 13 tahun asal Sidikalang ini nyaris tak bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMP. Hal itu lantaran orang tuanya sudah tak mampu membiayai pendidikannya. Atas persetujuan keluarganya, Ustaz Abdul Azis kemudian memboyongnya ke Pondok Assairun. Di pondok ini, Putri kembali bisa melanjutkan pendidikannya dan ia sangat berprestasi. “Sudah setahun saya belajar dan mondok. Alhamdulillah sudah dapat satu juz. Prestasi selama di pondok juara 1 tingkat kecamatan lomba MTQ dan harapan 1 tingkat kabupaten,” tutur Putri bangga.
Seperti Ridho, Putri juga sangat bersemangat meraih impiannya. Ia ingin menjadi dokter agar bisa menyelamatkan banyak nyawa. “Saya ingin jadi menjadi hafizah dan dokter,” ucap Putri malu-malu.

Berawal dari Niat
Awal berdiri, pesantren ini masih kecil. Jumlah santri juga masih hitungan jari. Mereka belajar mengaji di sebuah lesehan. Tempat itu terbilang luas. Ditaksir seluas 19×12 meter persegi. Lesehan itu berupa ruangan terbuka, dengan lantai ubin. Sebenarnya, lesehan ini seperti hanya bagian dari teras rumah. Namun, didesain khusus menjadi satu pemondokan pesantren.
Irfansyah menjelaskan nama pondok Tahfiz Assairun bukanlah sembarangan. Irfansyah meminjam nama ayahnya untuk disematkan pada pondoknya sebagai bentuk rasa cinta dan penghormatannya kepada almarhum ayah yang telah mewariskan nilai-nilai kebaikan sejak dari kecil.
Karena itu pula, terang Irfansyah, pondok pesantren ini khusus diperuntukkan bagi anak-anak yatim-piatu dan kaum dhuafa. Supaya mereka bisa belajar mengaji, sholat dan solawat secara gratis.
Niatnya untuk membantu anak-anak yatim-piatu dan kurang mampu itu makin mengental. “Saya cerita ke istri tentang niat saya. Dan saya minta pendapatnya, bagaimana kalau kita membuka tempat pendidikan gratis,” imbuhnya.
Ternyata niat baiknya itu didukung sang istri, Ummi Cici. Beberapa rekan, Ustaz juga merespon positif idenya itu. Dengan uang tabungan dan menjual beberapa ternak peliharaan, Irfan pun mulai menyulap lahan seluas 8 rante di areal bangunan tempat tinggalnya itu untuk membangun pesantren. Sedikit demi sedikit ia mencicil bahan bangunan hingga memiliki sebuah tempat belajar dan beberapa tempat tinggal bagi santri.
“Alhamdulillah, masih seperti ini jadinya Bang, karena nyicil membangunnya dan saya tak mau hasil membangunnya dibilang dari meminta-minta,” ujar lelaki yang murah senyum itu.
Saat sekarang ini, para santri sudah mengenyam pendidikan di Pondok Tahfiz Assairun. Mimpi anak yatim-piatu dan kaum duafa itu pun serasa terang dan terselamatkan. Bagi Irfansyah, banyaknya keperluan untuk mendidik para santri tanpa dipungut biaya membuatnya ikhlas menyumbangkan gaji polisinya.
Selain menjadi polisi, Irfansyah juga mengelola pangkalan penjualan gas elpiji. Meski kecil-kecilan. Keuntungan dari penjualan elpiji ini cukup untuk menghidupi ekonomi keluarganya. “Tapi saya selalu membagi waktu, agar bisa berkumpul dengan anak dan istri,” pesannya.
Menurutnya, semua yang dilakukannya itu berharap bisa jadi bekal amal jariyah di hadapan sang Khalik. Meski terbilang baru merintis, dia berharap, pesantren gratis yang dibangunnya ini mampu menjangkau lebih banyak anak-anak yatim-piatu dan kaum dhuafa.
Irfansyah mengaku pekerjaannya sebagai polisi tak menyulitkannya memberi pendidikan agama gratis terhadap kaum duafa dan yatim-piatu. Bahkan ia mengaku sudah mendapat restu dari atasannya. Untuk itu ia berterima kasih kepada Kapolda Sumut Irjen RZ Panca Putra dan juga Kepala Bidang Hukum Kombes Andrey Setiawan yang terus mendukungnya serta seluruh jajaran Polda Sumut yang sangat mendukung.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Kapolda Sumatera Utara. Saya informasikan ke atasan saya, pak Andrey, bahwa saya dirikan Tahfiz Assairun dengan biaya gratis untuk anak yatim-piatu dan duafa. Beliau menjawab lanjutkan perjuanganmu Fan, kiranya amal jariahmu lebih baik. Itu pesan beliau,” ungkapnya. (*)











