NEWS  

Dampak Covid-19 Terhadap Perekonomian Dunia Bias ke Bawah

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Bank Indonesia merilis, terdapat 213 negara terdampak Covid-19 atau virus Corona. Dan penyebarannya terus meningkat. Sama halnya dengan di Indonesia.

Sejak pertama dilaporkan pada 2 Maret 2020, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Hingga 12 April 2020, sebanyak 4.241 orang di 34 Provinsi dinyatakan positif COVID-19. Penyebaran paling banyak terjadi di DKI Jakarta, diikuti Jabar, Jatim, Banten, dan Sulsel.

“5 Provinsi Dengan Kasus Positif Covid-19 terbanyak adalah, DKI Jakarta 2.044, Jawa Barat 450, JawaBarat 386, Banten 281, Sulawesi Selatan 222,” terang, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara, Wiwiek Sisto Widayat, melalui press rilise kepada wartawan di WAG Bank Indonesia Medan, yang disampaikan, Siska, Manager Fungsi Dan Komunikasi BI Sumut, Selasa (14/4/2020) siang.

Hal itu jelas berdampak bagi perekonomian dunia. Menurut BI, Pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan bias ke bawah.

Dengan risiko ke bawah yang tetap besar, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi global 2020 turun menjadi 2,5%, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi 2019 dan proyeksi sebelumnya sebesar 3,0%.

Dampak Covid-19 terhadap perekonomian lainnya yakni; Ekonom dunia menurunkan proyeksi ekonomi global tahun 2020. Aktivitas ekonomi global diprakirakan akan terhambat akibat lockdown yang terjadi di berbagai negara.

Lembaga internasional bahkan telah memprediksi pertumbuhan global negatif. Eskalasi penyebaran COVID-19 secara signifikan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi global. Berbagai lembaga internasional merilis proyeksi pertumbuhan global akan berada pada teritori negatif di tahun 2020.

“Bertambahnya kasus COVID-19 di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menjadi faktor penahan momentum percepatan pertumbuhan ekonomi Nasional 2020, melalui tiga saluran transmisi, yaitu perdagangan barang dan jasa, investasi, dan pendapatan,” katanya.

Sementara itu, jelas BI Sumut, aktivitas pariwisata terpantau menurun. Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia pada Februari 2020 turun 30,4% (mtm), sejalan dengan tingkat hunian hotel berbintang yang pada Januari 2020 juga tercatat turun 10,22% (mtm) dan 2,30% (yoy).

Dilain sisi, prospek ekspor diprakirakan juga menurun. Volume perdagangan dunia terkontraksi seiring perlambatan ekonomi global dan meluasnya wabah COVID-19, yang kemudian berdampak pada penurunan harga komoditas dunia, termasuk harga komoditas ekspor utama Indonesia (IHKEI).

Ketidakpastian pasar keuangan global meningkat. Pembalikan modal terjadi meluasnya Covid-19 meningkatkan ketidakpastian yang sangat tinggi terhadap pasar keuangan global, menekan banyak mata uang negara di dunia terutama Asia.

“Sehingga memicu terjadinya pembalikan modal kepada aset keuangan yang dianggap aman,” sebutnya.

Sementara itu, mata uang USD mengalami penguatan terhadap mata uang Asia termasuk Indonesia.

Seluruh Lapangan Usaha Menurun, Ekonomi Indonesia Lebih Rendah

Akibat meluasnya penyebaran Covid-19, kata Kepala BI Sumut, Wiwiek Sisto Widayat dalam pres rilise yang disampaikan, Siska, Manager Fungsi Dan Komunikasi BI Sumut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan lebih rendah dibandingkan sebelumnya.

Dalam skenario mild, Bank Indonesia memproyeksikan PDB Indonesia berada pada kisaran 4,2 – 4,6% (yoy). Dalam skenario terburuk, Kemenkeu memproyeksikan PDB Indonesia dapat mencapai -0,4 dengan seluruh komponen melambat. Konsumsi tumbuh di level sangat rendah, investasi tumbuh negatif, ekspor dan impor juga terkontraksi cukup dalam.

“Apabila perekonomian Indonesia terkontraksi, maka perekonomian Sumut juga akan melambat lebih dalam. Pertumbuhan ekonomi diproyeksi lebih rendah dibanding prakiraan sebelumnya,” katanya.

Dijelaskan bahwa, seluruh komponen permintaan diprediksi bias ke bawah. Sementara komponen LU utama akan melambat, terutama perdagangan dan pariwisata.

Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen melambat lebih dalam. Perlambatan terdalam akan dirasakan pada triwulan II 2020 dan akan meningkat pada triwulan berikutnya seiring dengan fase pemulihan akibat Covid-19.

“Pada kasus Covid-19 perlambatan dirasakan di sektor eksternal maupun domestik, untuk itu dibutuhkan upaya keras untuk menahan penurunan daya beli masyarakat melalui program jaring pengaman sosial melalui anggaran pemerintah,” sebutnya.

Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen melambat lebih dalam, namun demikian konsumsi pemerintah diperkirakan relatif tetap.

Dampak lainnya dari Covid-19 terhadap perekonomian Sumatera Utara adalah, nilai transaksi kartu ATM Debet menurun terutama untuk transaksi belanja. Bahkan nilai transaksi uang elektronik menurun drastis pada komponen belanja.

“Dampak Covid-19 ini, investor terbesar Sumut (10 investor) yang mendominasi total investasi senilai $363,071 ribu (96%), juga terdampak pandemi Covid-19 sehingga berpotensi mengganggu realisasi investasi PMA kedepannya,” paparnya.

Dari sisi eksternal, volume ekspor dan impor sudah menurun. Sampai Februari 2020, volume ekspor sudah menurun untuk beberapa negara mitra dagang utama seperti Tiongkok, Jepang, AS, dan India. Volume impor juga menurun utamanya dari Tiongkok, AS dan India.

Ekspor komoditas utama sudah terlihat menurun signifikan, terkecuali karet meningkat disinyalir digunakan untuk pembuatan gloves ditengah pandemi Covid-19.

Volume ekspor terutama untuk CPO dan barang manufaktur ikut menurun seiring dengan permintaan global yang menurun (tercermin dari PMI manufaktur mitra dagang utama).

“Secara sektoral, hampir seluruh lapangan usaha (LU) utama merasakan penurunan. LU PBE dan Penyediaan Akomodasi Makan Minum merasakan dampak langsung seiring menurunnya kegiatan pariwisata serta pembatasan aktvitas masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu, dampak Covid-19 terhadap perekonomian Sumatera Utara LU penyediaan akomodasi dan transportasi melambat terkonfirmasi pada beberapa indikator.

Kunjungan wisman mulai terlihat turun sejalan dengan penurunan penumpang angkutan udara internasional dan tingkat hunian kamar, sementara penumpang domestik masih meningkat hingga Februari 2020.

Untuk tingkat okupansi hotel di Provinsi Sumatera Utara mencatat penurunan tajam pada periode Maret, menyebabkan okupansi hotel anjlok hingga 80% dari kondisi normal.

Dampak ekonomi LU Penyediaan Akmamin akibat penurunan produktivitas dan margin diperkirakan sebesar 0,15% – 0,26% dari baseline penyebaran Covid-19 yang dirasakan mulai Maret menyebabkan Tingkat okupansi hotel anjlok hingga 80%.

“Salah satu Hotel bintang 5 di Medan telah merumahkan 75% karyawan namun dengan status cuti berbayar, sementara tenaga outsourcing sekitar 100 orang telah diberhentikan. Seluruh pelaku usaha pesimis terhadap perkembangan triwulan II dan menyatakan tingkat okupansi hanya akan normal ketika wabah Covid-19 berakhir,” ungkapnya.

BI Sumut juga menyebut, dampak Covid-19 terhadap perekonomian Sumatera Utara LU Industri mulai merasakan kendala logistik dan pasokan bahan penolong akibat lockdown negara lain.

Hal itu juga mulai dirasakan oleh pelaku industri pengolahan. Kendala yang dihadapi diantaranya keterbatasan logistik dan bahan baku impor akibat lockdown di negara eksportis/importir.

LU PBE juga melambat terindikasi dari penurunan transaksi non tunai. Pelaku usaha mengalami penurunan omset dan sebagian telah merumahkan karyawan bahkan melakukan PHK. Dampak ekonomi LU PBE akibat penurunan produktivitas dan margin diperkirakan sebesar 0.4%-0.7% dari baseline penjualan mengalami penurunan penjualan 40% – 70% (yoy).

Akibat dampak Covid-19 terhadap Inflasi Maret 2020 itu pula, Sumut mengalami deflasi yang tercatat -0,16% (mtm), lebih rendah dari bulan sebelumnya yakni tercatat 0,13% (mtm) serta lebih rendah dari Sumatera dan Nasional.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil deflasi paling besar didorong oleh penurunan harga cabai merah, minyak goreng danangkutan udara,” bebernya.

Sementara, terang, BI Sumut, komoditas penyumbang inflasi terbesar gula pasir dan emas perhiasan terkait dengan terbatasnya pasokan akibat keterlambatan impor serta permintaan yang tinggi pada komoditas emas sebagai aset lindung nilai.

“Sumatera Utara, terdapat komoditas strategis lain yang masih mengalami defisit antara lain bawang merah, bawang putih, gula pasir, dan daging ayam yang perlu terus menjadi perhatian karena membutuhkan supply dari luar,” tandasnya. (Nst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *