Pengabdian Mahasiswa Ukrida, Tentang Pentingnya Digital Marketing Dalam Peningkatan UMKM

Share

Jakarta, ArmadaBerita.Com

Coffix Coffee merupakan usaha yang bergerak di bidang food and beverage. Menu utamanya adalah minuman kopi. Usaha ini berlokasi di Ruko Grand Puri Niaga, Blok K6 No. 2A, Jalan Puri Kencana Raya, Puri, Jakarta Barat.

Coffix Coffee merupakan tempat yang dapat dinikmati baik oleh kalangan muda maupun orang dewasa. Coffix Coffee didirikan pada 2019 oleh Randy Kurnia. Randy menciptakan coffee shop ini dengan harapan, pelanggan dapat menikmati kopi dengan suasana nyaman.

Coffix Coffee termasuk ke dalam kategori UMKM yang dalam menjalankan usahanya juga mengalami kendala-kendala, salah satunya, soal marketing. Hal tersebut menjadi landasan kami untuk menjalankan program dalam menganalisis kendala UMKM di Coffix Coffee.

Program ini dilaksanakan dalam 5 pertemuan, dimana pada pertemuan pertama kami menganalisis kendala yang terdapat di Coffix Coffee. Kami mengidentifikasi bahwa terdapat kendala yang berfokus pada Digital Marketing. Definisi Digital Marketing yang disampaikan Ayu et al. (2020) menurut American Marketing Association (AMA) adalah proses aktivitas dan institusi yang dilakukan dengan menggunakan teknologi digital dalam menyampaikan, menciptakan, dan mengkomunikasikan kepada konsumen dan pihak yang memiliki kepentingan lainnya.

Hal tersebut menjelaskan, Coffix Coffee memiliki kendala dalam mempromosikan produknya, sehingga tidak dapat menjangkau konsumen yang relevan.

Setelah kami cari tahu lebih lanjut, kurangnya promosi disebabkan karena akun sosial media yang tidak aktif khususnya Instagram. Oleh karena itu, kegiatan yang kami lakukan yaitu membuat konten berisikan promosi produk-produk dari Coffix Coffee.

Setelah mengidentifikasi masalah, pada pertemuan kedua, kami mulai membuat konten untuk ditayangkan di Instagram Coffix Coffee. Konten tersebut berisikan tentang update seputar Coffix Coffee. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk meninjau jumlah viewers dalam jangka waktu seminggu.

Pada pertemuan ketiga, kami membuat konten yang berisi tentang cara menyajikan kopi. Konten ini bertujuan untuk memberikan kesan kepada konsumen tentang penyajian kopi di Coffix Coffee. Pada pertemuan keempat, kami membuat konten tentang nuansa menikmati hidangan yang disajikan di Coffix Coffee. Konten tersebut bertujuan sebagai daya tarik viewer untuk datang ke Coffix Coffee.

Pada pertemuan kelima, kami mengamati konten yang telah diunggah ke Instagram, memantau peningkatan pendapatan dan mengevaluasi program kami.

Pengamatan terhadap konten dilakukan dengan meninjau peningkatan account reached dan engagement rate pada sosial media instagram. Account reached merupakan media untuk mengukur efektivitas dari suatu konten, dalam hal ini account reached berguna untuk mengetahui jumlah pengguna akun sosial media yang melihat konten yang sudah dibuat. Sedangkan engagement rate merupakan matriks dasar untuk mengukur kinerja sebuah konten pada media sosial, dalam hal ini engagement rate dapat dilihat dan diukur dengan interaksi pada akun sosial media seperti likes, comment, share, views, dan repost.

Berdasarkan account reached, diketahui adanya peningkatan jumlah non follower yang berkunjung ke halaman Instagram Coffix Coffee yaitu sebanyak 5.446. Hal tersebut menjelaskan ada kenaikan pengunjung pada sosial media instagram dibandingkan dengan bulan lalu yang tidak menyentuh angka 1000.

Berdasarkan engagement rate, diketahui adanya peningkatan jumlah likes pada konten di Instagram Coffix Coffee. Dalam hal ini engagement rate yag diperoleh meningkat namun tidak siginifikan. Kami membandingkan data account reached dan engagement rate terhadap data bulan lalu saat sebelum dilakukan program kami.

Pengamatan terhadap peningkatan pendapatan dilakukan dengan meninjau jumlah pelanggan baru di Coffix Coffee. Diketahui bahwa peningkatan pendapatan sebesar 5-10 persen. Dalam hal ini, kami melakukan evaluasi terhadap program yang telah kami jalankan.

Kami dapat melakukan identifikasi yang lebih spesifik terhadap kendala yang dihadapi pelaku UMKM. Dalam melakukan pengamatan, kami meninjau lebih banyak aspek yang dapat mempengaruhi peningkatan persentase. Kami dapat memperbaiki kualitas konten yang dibuat.

Dalam melaksanakan program ini, kami terkendala jarak. Hal tersebut dikarenakan jarak tempat tinggal setiap anggota kami yang jauh mengakibatkan waktu yang kami miliki terbatas dan informasi yang kami peroleh pun tidak maksimal. Akan tetapi kami tetap bisa menjalankan program ini dengan lancar dengan melakukan beberapa perencanaan secara online.

Dengan adanya program kami, owner merasa terbantu di bidang Digital Marketing dan kami juga bisa mempelajari ilmu baru di bidang marketing.

Harapan kami untuk program ini nantinya dapat mengedukasi para pelaku UMKM untuk menggiatkan sarana promosi dalam meningkatkan pendapatan mereka. (*)

Artikel ini ditulis oleh Tim mahasiswa Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida) Kampus I, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Jakarta Barat yang terdiri dari Steven Nathanael, Muhammad Hafiz Al Faqih, dan Jeremy Aditya Cahaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *