Pemerintah Tak Perlu Khawatir, Jelang Imlek Harga Kebutuhan Pangan Stabil

Hiasan Lampion di jalanan kota Medan menjelang perayaan Imlek. (Dok.ABC)
Share

ArmadaBerita.Com

Menjelang Hari Raya Imlek yang jatuh pada 10 Februari mendatang, harga sejumlah kebutuhan pangan masih stabil.

Hal tersebut disampaikan Pengamat Ekonomi asal Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin kepada wartawan, Selasa (6/2/2024).

Gunawan menjelaskan, jika di bulan Januari kita melihat ada beberapa kenaikan pada harga sejumlah kebutuhan pangan strategis, seperti minyak goreng, gula pasir dan beras, maka di bulan Februari ini, khususnya jelang perayaan Imlek harga sejumlah kebutuhan pangan pokok relatif stabil.

“Dari hasil pemantauan papan harga melalu PIHPS (pusat informasi harga pangan strategis), banyak kebutuhan masyarakat yang nyaris tidak mengalami perubahan selama bulan februari,” bilangnya.

Dia merinci, rata-rata harga Cabai Merah masih bertahan di kisaran Rp35 ribuan per Kg, Cabai Rawit Rp39 ribu per Kg, Daging Ayam Rp31 ribu per Kg, Bawang Merah di angka Rp30.700 per Kg, Bawang Putih Rp36.600 per Kg.

Kemudiam, Beras bergerak dalam rentang Rp13.850 hingga 14.850 per Kg (medium ke super), Daging Ayam Rp31 ribu per Kg, Daging Sapi Rp135 ribu per Kg, gula pasir 17.600 per Kg, dan minyak goreng curah berada di level 15.700 per Kg nya.

“Ditambah lagi harga Telur yang juga bertahan di angka yang sama Rp1.600 per butir ukuran sedang, dan harga tomat yang turun dikisaran 13 hingga Rp16 ribu per Kg. Secara keseluruhan harga kebutuhan pangan srategis di bulan Februari bergerak stabil dan bahkan cenderung membentuk deflasi,” rinci Gunawan.

Menuritnya, hari besar Imlek memang selama ini kerap tidak menjadi pemicu kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis. Trennya setiap tahun kerap seperti itu, dan memiliki kecenderungan stabil untuk kinerja inflasi selama imlek. “Saya menilai pemerintah tidak perlu mengkuatirkan dampak dari perayaan Imlek terhadap pembentuka harga di pasar,” saran Gunawan.

Alasannya, kata Gunawan, dikarenakan jumlah masyarakat yang merayakan Imlek jauh lebih sedikit dibandingkan dengan masyarakat yang merayakan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, atau masyarakat yang merayakan Natal dan Tahun Baru.

“Saya menilai belanja kampanye selama Januari – Februari ini justru lebih besar memberikan kontribusi perubahan harga, ketimbang perayaan Imlek itu sendiri,” imbuh Gunawan. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *