EKBIS  

Cita Rasa Tebu Kampung Sampali, Diminati Penjual Es Tebu

Share

Percut, ArmadaBerita.Com

Dimusim cuaca terik, petani tebu sedikit lebih diuntungkan. Sebab tanaman tebuh lebih manis dihasilkan. Imbasnya, pedagang es tebu laris, seiring permintaan konsumen di cuaca panas yang banyak dilanda dahaga.

M. Daud (46) salah satu petani tebu di kawasan lahan Eks PTPN yang dinamakan Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI) Kampung Sampali di Jalan Afnawawi Noeh, Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan.

Lahan tebu seluas ± 3 Hektar yang dikelolanya itu sering didatangi para pedagang es tebu. Tebu miliknya ditanam dengan jarak setengah meter dari tebu lainnya membuat kumpulan tebu-tebu miliknya subur dan tubuh panjang dengan ruas besar.

Saat panen, M. Daud bisa melayani beberapa orang pedagang es tebu dalam seminggu. Untuk per batang, tebu miliknya yang siap panen dihargai Rp 1000.

Karena hasil tebunya cukup manis, panjang dan lumayan besar, membuat beberapa pedagang es tebu datang kesana.

“Air tebunya manis sekali, makanya kami ngambil tebunya selalu dikawasan Laud Dendang atau Kampung Sampali ini,” kata, Ilham (43) dan Sari (38) pasangan suami istri, pedagang es tebu, Minggu (26/1/2020) sore.

Selama setahun berlangganan pembelian tebu milik M. Daud, omset penjualan es tebu miliknya lumayan banyak. Kualitas tebu yang ditanam M. Daud tak membuatnya letih meski jauh-jauh harus datang ke lokasi tanaman tebu milik M. Daud.

“Kami seminggu sekali datang ke tanaman tebu bang Daud, soalnya kami punya ladang tebu juga sedikit di kawasan Jalan Setia Jadi Medan. Setiap kali ngambil di lahan bang Daud sebanyak 200 sampai 700 batang,” kata, Ilham.

Ilham dan Sari membuka usaha es tebu di Simpang Pelita I, Kecamatan Medan Timur. Usaha es tebu yang bernama “Sari Es Tebu” milik mereka bisa menghasilkan lebih 100 gelas (4 Termos), dari 150 batang tebu yang diperasnya menggunakan mesin gilingan.

“Karen tebunya cukup manis, kami gak perlu pakai gula apalagi pemanis buatan. Pembeli jadi sehat. Karen sari tebu ini juga bagus untuk dikonsumsi,” timpal, Sari yang sudah memulai jualan es tebu selama 2 tahunan.

 

Harga penjualannya juga cukup terjangkau. Pembeli hanya mengeluarkan kocek Rp 3 ribu/gelas jika minta ditambahkan es. Namun jika murni tanpa tambahan es, hanya dihargai Rp 4 ribu.

Meski tak sehebat pedagang besar dan pedagang warung pada umumnya, usaha es tebu miliknya mampu menopang kehidupan ekonomi keluarga mereka.

“Saya dan istri saya hanya pedagang pinggiran jalan. Tapi alhamdulillah, dapat memenuhi kebutuhan, termasuk membayar sewa tempat jualan,” imbuhnya, pasangan yang baru memiliki 1 orang anak berusia 11 tahun ini.

Dalam menjual es tebu, menurut Pasutri itu tak terlalu rumit. Mereka hanya mengandalkan Betor yang telah dimodif dengan mesin penggiling (pemeras tebu) dan mesin air.

“Kami mulai jualan dari jam 10 pagi sampai jam 6 sore. Penghasilan kami sekeluarga ya dari sini. Istri saya yang membantu, karen dia buka usah jeruk peras juga di situ,” pungkas, Ilham sembari terlihat ikut memanen tebu bersama M. Daud dan dibantu istrinya mengangkut tebu yang dipanen ke becak barang milik mereka. (Nst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *