Medan, ArmadaBerita.Com
Komitmen pemerintah untuk serius meningkatkan UMKM hingga naik kelas, terus dilakukan dengan berbagai program dan gagasan. Seperti program Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (BI Sumut) yang terbukti optimal dalam pengembangan UMKM yang sudah dimulai dari tahun 2024 dan akan terus dijalankan di Tahun 2025.
Program pengembangan UMKM itu dipaparkan Kepala BI Sumut IGP Wira Kusuma dan juga Indra Kuspriyadi selaku Kepala Divisi Implementasi KEKDA Sumut pada pertemuan bersama wartawan di Gedung BI Sumut Lt 6 Medan, Kamis (19/12/2024).
Beberapa program pengembangan UMKM yang telah dilaksanakan yaitu, Pertama, UMKM Pangan Strategis. Dimana program peningkatan produktivitas klaster pangan, digitalisasi pertanian (digital farming), serta program hilirisasi klaster pangan.
“Saat ini sudah terdapat 3 klaster pangan yang berhasil mengalami peningkatan hingga 45 persen khususnya Cabai Merah di Kabupaten Karo,” kata Kepala BI Sumut, IGP Wira Kusuma yang turut didampingi Deputi Kepala BI Sumut, Suharman Tabrani dan Iman Gunadi.
Kedua, UMKM Go Export. BI turut memfasilitasi UMKM untuk business matching dengan buyer LN, pengiriman sampel ke luar negeri, pembuatan marketing kit bilingual khusus ekspor, pendampingan ekspor oleh pakar, dan fasilitasi pameran dalam negeri dan luar negeri. “Saat ini sudah terdapat penambahan 5 UMKM yg berhasil ekspor dengan total transaksi lebih dari Rp30 miliar,” terang Wira.
Ketiga, UMKM Go Digital. Hal ini dilaksanakan melalui program onboarding UMKM dan pelatihan digital marketing bersama top brands e-commerce yang dikuti oleh 389 UMKM.
Keempat, UMKM Hijau. BI mendorong pengembangan UMKM hijau melalui pilot project beberapa kelompok yang meliputi 3 tahap pengembangan: eco-adopter, eco-entepreneur, eco-innovator. “Salah satu yang sudah berhasil di tahap eco-entepreneur adalah Gapoktan Sri Karya dengan komoditas beras organik di Kabupaten Serdang Bedagai,” sebut Wira.
Ke lima, Akses Keuangan. Akses keuangan ini dilakukan melalui perluasan penggunaan aplikasi SIAPIK bekerjasama dengan universitas, IWAPI, APINDO, dan pemerintah, business matching pembiayaan dgn perbankan, serta survei database UMKM potensial dibiayai.
Ke enam, Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah: penguatan program GNPIP di pesantren (greenhouse INFRATANI, program ketahanan pangan halal, dan program pangan halal), penguatan ekosistem produk halal (fasilitasi pengembangan halal center di 4 perguruan tinggi (UINSU, UMA, UNPAB, UMSU), sertifikasi halal produk, dan sertifikasi RPH/RPU), serta penguatan ekonomi dan pembiayaan syariah.
Sementara itu, Indra Kuspriyadi menegaskan bahwa di tahun 2025 BI Sumut akan fokus kepada pengembangan UMKM ke arah digital dan UMKM Hijau. “Untuk kedua hal ini latar belakangnya tentu saja kita melihat bahwa digitalisasi ini untuk peningkatan dari pada produksi pemasaran, sehingga UMKM itu naik kelas,” tambah Indra.
Maka dari itu, Indra menyebut bahwa BI Sumut akan mendorong digitalisasi baik dari platform sistem pembayaran maupun dari pemasaran dan juga dari sisi lainnya. “Seperti yang disampaikan Pak Wira, kita juga mengembangkan yang namanya digital farming. Di tahun 2025, kita akan jadwalkan mengajak Bapak/Ibu (media) untuk mengunjungi beberapa UMKM yang memang sudah mengimplementasikan digital farming,” imbuh Indra.
Selain itu, Indra menambahkan bahwa nantinya juga akan dibarengi melihat UMKM lainnya yang sedang dipersiapkan menuju ke arah UMKM hijau. Dimana UMKM hijau itu memiliki tiga (3) tahapan, yang pertama Eco Adopter. Kedua, Eco Entrepreneur dan yang ketiga Eko Inovator.
“Nah pada saat sampai di tahap Eko inovator nanti akan kami ajak rekan media sekalian untuk mengunjungi supaya melihat bagaimana UMKM itu dikembangkan bersamaan antara digital dan juga ekonomi hijau itu yang akan kita lakukan di 2025,” pungkasnya. (Asn)











