EKBIS  

BI Perkirakan Pembiayaan Defisit Fiskal Penanganan Covid-19 Capai Rp 1400 Triliun

Share

Jakarta, ArmadaBerita.Com

Bank Indonesia (BI) memperkirakan pembiayaan defisit fiskal untuk penanganan wabah Covid-19 akan mencapai Rp 1400 triliun.

“Untuk pembiayaan defisit fiskal, kurang lebih sekitar Rp 1.400 triliun,” demikian disampaikan Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam live streaming melalui Youtube Bank Indonesia Channel Link, Rabu (29/4/2020) pukul 08.30 WIB.

Dijelaskannya bahwa, pelebaran pembiayaan devisit bisa dipenuhi dari saldo kas pemerintah baik yang ada di bank sentral maupun di perbankan.

Selain itu, pemerintah juga bisa menggunakan dana BLU, pinjaman dari ADB, bank dunia, dan dari penerbitan obligasi di valuta asing (valas). Dengan sumber-sumber tersebut, mampu menutup sekitar Rp 500 triliun.

Dengan demikian ada sisa Rp 900 triliun dikurangi dengan anggaran yang sudah dialokasikan untuk tambahan belanja penanganan Covid-19 sebesar Rp 225 triliun terdiri dari anggaran untuk kesehatan Rp 75 triliun dan jaring pengaman sosial Rp 110 triliun, kemudian insentif bagi industri Rp 70 triliun.

“Dari sisa Rp 900 triliun, dan yang sudah dikeluarkan sekitar Rp 225 triliun, berarti ada lagi sisa Rp 675 triliun,” papar, Perry.

Kemudian dana Rp 675 triliun tersebut akan dianggarkan untuk pemulihan ekonomi sebesar Rp 150 triliun. Namun ia mengaku belum mengetahui anggaran pemulihan ekonomi akan didukung dari pasar atau tidak.

Kedua, dari kebijakan Giro Wajib Minimum (GWM) dari bank sentral yang diturunkan sehingga kemudian bank-bank akan membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar perdana.

Hal ini mampu menutup sekitar Rp 100 triliun. Lebih lanjut, pembiayaan defisit fiskal akan berasal dari sisa lelang yang akan digelar oleh pemerintah hingga akhir tahun. Apabila dari sisa lelang di sepanjang tahun ini, ditaksir mampu menutup hingga Rp 425 triliun.

“Target lelang yang diumumkan pemerintah Insya Allah cukup untuk memenuhi pembiayaan fiskal,” sebutnya.

Menurutnya, hal tersebut hanya dilakukan jika pasar tidak dapat menyerap. Di awal masa lelang pasar masih pada tahap learning, dan seiring waktu akan semakin belajar sehingga dapat menyerap lebih banyak.

Dengan demikian, tambahan pembelian SBN di pasar perdana oleh BI tidak akan banyak. Dana pembelian SBN dari pasar sekunder oleh Bl yang masuk ke perbankan merupakan MO atau base money/uang primer.

“Apabila dana tersebut disalurkan ke sektor riil, akan menjadi Ml dan M2, yang akan berdampak pada inflasi. Lag effect atau rentetannya pun akan panjang sehingga dampak tidak akan besar,” jelasnya.

Terkait dampak ke inflasi, terang Gubernur BI, tahun ini inflasi diperkirakan tetap rendah dan terkendali. Hingga saat ini BI mengaku belum melihat adanya tekanan inflasi ke depan.

“Namun tentunya akan dipantau dari bulan ke bulan. Nilai tukar pun diperkirakan akan menguat dipengaruhi oleh faktor fundamental yang menguat,” pungkasnya. (Nst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *