Armadaberita.com, Medan –Universitas Negeri Medan (Unimed) menjadi tuan rumah pelepasan 10.000 mahasiswa relawan bencana dari berbagai perguruan tinggi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Ribuan mahasiswa itu dilepas secara simbolis oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) di Auditorium Unimed, Medan, Rabu (28/1/2026).
Para mahasiswa akan diterjunkan langsung ke wilayah terdampak bencana banjir bandang dan longsor di Sumatra untuk mendukung proses pemulihan masyarakat. Program ini menjadi salah satu upaya pemerintah memperkuat fase pascabencana yang selama ini kerap luput dari perhatian setelah masa tanggap darurat berakhir.
Dalam program bertajuk Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra, Unimed tercatat sebagai perguruan tinggi dengan jumlah proposal terbanyak dari Sumatra Utara. Berdasarkan data Kemdiktisaintek, Unimed mengirimkan tujuh proposal, disusul Universitas Sari Mutiara dengan lima proposal dan Universitas Sumatra Utara (USU) empat proposal.
Sejumlah perguruan tinggi lain, seperti Institut Kesehatan Deli Husada, Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU), dan Universitas Satya Terra Bhinneka masing-masing mengajukan tiga proposal. Sementara POLMED, UNPRI, dan IBKI mengirimkan dua proposal, serta belasan perguruan tinggi lainnya masing-masing satu proposal. Setiap proposal melibatkan sekitar 50 mahasiswa dengan pendampingan tiga hingga empat dosen.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menegaskan keterlibatan mahasiswa bukan sekadar aksi kemanusiaan jangka pendek, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang utuh. Mahasiswa didorong hadir sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani kebutuhan darurat dan pemulihan jangka panjang berbasis kapasitas lokal.
“Kita menyesuaikan jumlah mahasiswa dengan kebutuhan daerah terdampak. Penyebaran terbanyak ada di Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Tapanuli Selatan di Sumatra Utara, dan Kabupaten Agam di Sumatra Barat,” ujar Fauzan.
Ia menambahkan, salah satu kekuatan utama program ini adalah penerapan inovasi teknologi tepat guna hasil riset perguruan tinggi. Mahasiswa akan terlibat dalam berbagai bidang, mulai dari pemulihan ekonomi masyarakat, layanan kesehatan dasar, pendampingan psikososial, hingga penguatan ketahanan pangan melalui diversifikasi pangan lokal, pertanian pascabencana, dan sistem hidroponik di lahan terbatas.
Di sektor layanan dasar, mahasiswa juga akan membantu penyediaan air bersih, pencahayaan tenaga surya, hingga pemulihan akses listrik untuk fasilitas vital. Pendekatan yang digunakan mengadopsi model social impact challenge, yakni pemecahan masalah nyata di lapangan melalui kolaborasi lintas disiplin antara mahasiswa dan dosen.
Program ini, menurut Fauzan, selaras dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan menjadi bagian dari prioritas Presiden RI Prabowo Subianto dalam mendorong peran generasi muda bagi pembangunan nasional.
Rektor Unimed Prof. Baharuddin menyebut kepercayaan menjadi tuan rumah pelepasan mahasiswa relawan sejalan dengan komitmen Unimed sebagai kampus berdampak. Menurut dia, pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian tak terpisahkan dari Tridarma Perguruan Tinggi.
“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi upaya memastikan kolaborasi berkelanjutan dan manfaat nyata bagi masyarakat terdampak,” kata Baharuddin.
Pada 2026, program Mahasiswa Berdampak di Sumatra Utara melibatkan 18 perguruan tinggi dengan sekitar 2.000 mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan. Keterlibatan kampus negeri, swasta, politeknik, hingga institusi kesehatan dinilai menunjukkan pentingnya kolaborasi multidisipliner dalam pemulihan bencana.
Baharuddin juga berpesan agar mahasiswa menjadikan kegiatan ini sebagai ruang belajar kehidupan. Ia mendorong mahasiswa hadir di tengah masyarakat dengan empati, kerendahan hati, dan semangat kolaboratif.
“Kehadiran mahasiswa harus memberi arti dan harapan bagi masyarakat dalam proses pemulihan,” ujarnya.











