Jakarta, ArmadaBeritaCom – Remaja GKI Mangga Besar saat ini mengalami kesulitan baik dari segi Jemaat, maupun para pelayanan yang melayani di GKI Mangga Besar. Saat ini remaja GKI Mangga besar hanya memiliki jumlah jemaat 10-15. Jemaat di Komisi Remaja juga kurang mendapatkan ilmu yang tepat untuk melayani terutama di bidang public speaking.
Pada Program “How To Public Speaking” kami memprioritaskan anak-anak remaja di GKI Mangga Besar dengan range SMP 3 – SMA 3 dikarenakan memang kami menargetkan untuk anak-anak remaja yang dimana dalam umur masih mencoba banyak hal. Program tersebut berjalan dalam rentang waktu dari Mei 2022 hingga Juni 2022 dilakukan setiap hari minggu pukul 11:00-13:00 WIB.
Jumlah peserta yang kami ajar dalam program ini berkisar dari 6 hingga 12 anak. Tempat pembelajaran public speaking ini dilakukan di ruang komisi remaja GKI Mangga Besar, Ruangan tempat kami mengajar cukup luas, bersih dan nyaman.
Setelah kami melihat-lihat bahwa kami mendapatkan anak-anak remaja tersebut belum ada yang berani ataupun pernah mencoba berbicara didepan publik. Padahal, berbicara depan publik itu bisa dilakukan dengan memahami betul point materi, menggunakan bahasa tubuh, berdoa dll.
Untuk program ini, kami memfokuskan pembelajaran kami pada kemampuan public speaking. public speaking merupakan kemampuan yang harus dimiliki untuk menjadi pemimpin liturgi di ibadah remaja. Dengan begitu, kami membekali mereka dengan kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin liturgi yang baik di ibadah remaja.

Pada awalnya ada beberapa masalah yang kami hadapi dalam menjalankan program public speaking ini, dari anak remaja yang kurang interaktif dan malu-malu dalam berbicara didepan kami. Kami juga belum terbiasa dengan lingkungan baru sehingga membutuhkan waktu untuk berbaur terlebih dahulu. Selain itu, anak remaja yang datang tidak menentu jumlahnya dengan begitu beberapa anak remaja ada yang tertinggal beberapa sesi dari program yang kami lakukan.
Program kami ini dibagi menjadi 4 sesi pertemuan. Untuk pertemuan pertama kami memberikan materi mengenai public speaking seperti dasar-dasar dari public speaking hingga teknik-teknik dalam melakukan public speaking.
Selain penyampaian materi, kami juga mengajak remaja untuk mempraktikkan public speaking agar mereka semakin terbiasa dalam berbicara di depan umum. Setelah pemberian materi mengenai public speaking di pertemuan pertama selesai, di pertemuan kedua kami melakukan pelatihan mengenai tata liturgi ibadah remaja serta pembacaan alkitab di ibadah umum.
Kami membahas mengenai bagian apa saja yang menjadi tanggung jawab dari WL di ibadah remaja dan memberikan saran serta memberikan contoh mengenai pelaksanaannya. Selain itu, kami juga membahas mengenai cara membaca alkitab di kebaktian umum, kami memberikan saran seperti intonasi dalam membaca karena di ibadah umum GKI Mangga Besar rata-rata usia jemaatnya adalah usia 60 tahun ke atas.
Untuk pertemuan ketiga kami mengadakan praktik langsung sebagai liturgis. Untuk pertemuan keempat remaja praktik langsung sebagai liturgis di ibadah remaja. Tujuan utamanya untuk meningkatkan kemampuan dalam berbicara di depan orang banyak namun tetap menyenangkan bagi mereka.
Konsep mengajar yang kami terapkan adalah pertama kami akan menjelaskan terlebih dahulu dasar-dasar teknik public speaking, lalu ketika kelar menjelaskan kami membagi kelompok menjadi 2 kelompok yang dipimpin oleh Eric dan Nathan sebagai penanggung jawab kelompok tersebut.
Di Dalam kelompok tersebut kita membantu anak-anak untuk menulis materi yang akan dibawakan oleh mereka kedepan nanti. Setelah menyiapkan materi kita mulai melakukan tes berbicara didepan public.
Kami melihat secara umum mereka senang dengan adanya pelatihan public speaking ini. Walaupun beberapa remaja masih sedikit kurang percaya diri dalam public speaking mereka sangat senang dalam mengikuti pelatihan ini.
Hasilnya apa? Dengan adanya program ini kami dapat mengajarkan anak remaja untuk semakin percaya diri public speaking baik di dalam gereja maupun di luar kegiatan gereja.
Harapan kami dari program pelayanan komunitas, nantinya mampu mendorong remaja untuk melayani dan berani berbicara di depan publik. Dilanjutkan dengan dasar-dasar dan juga mental yang dibangun ketika latihan yang kami siapkan, serta kami berharap anak-anak yang kami didik dapat mendapatkan manfaat dari program ini. (*)
Naskah ini ditulis oleh Tim Mahasiswa Ukrida yang terdiri dari: Nathan, Klaysus, dan Eric.











