Armadaberita.com | MEDAN — Di balik seragam kuliah dan tumpukan tugas di Universitas Negeri Medan (Unimed), ada cerita tentang perjuangan tanpa pamrih. Dani, mahasiswa semester akhir jurusan Pendidikan Akuntansi, membagi hari-harinya antara ruang kelas dan tempat kerja sebagai tukang potong ikan. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, Dani bukan sekadar mahasiswa — ia adalah tulang punggung keluarga.
Kehidupan Dani berubah sejak sang ayah wafat akibat stroke pada 2023. Ibunya tak bisa bekerja karena mengidap skizofrenia, sementara kakaknya baru lulus kuliah dan belum memiliki penghasilan. Dalam kondisi penuh keterbatasan itu, Dani memilih untuk bangkit, bukan menyerah.
Ia pernah menjadi barista, lalu beralih menjadi tukang potong ikan di Marindal. Setiap hari ia menyelesaikan hingga 50 kilogram ikan demi upah Rp115.000. Setelah bekerja dari pagi hingga malam, Dani masih menyempatkan diri kuliah dari pukul 08.00 sampai 15.00. Kantuk sering datang di kelas, tapi tekadnya tak goyah.
“Kalau saya menuruti gengsi, berarti saya egois dan tidak memikirkan kebutuhan keluarga di rumah,” ujarnya.
Meski letih, Dani aktif di akademik dan organisasi. Ia menjadi asisten dosen seminar tahunan, pernah magang di Direktorat Jenderal Pajak Medan Polonia, serta mengoleksi sertifikat bergengsi dari Google, Microsoft, Yale University, dan Stanford University.
Akhir pekan digunakan untuk belajar mandiri dan memperkuat keahlian. Baginya, masa depan dimulai dari setiap kerja keras hari ini. “Saya aktif untuk mengasah skill dan memperkuat CV, supaya nanti ketika lulus bisa langsung kerja,” kata Dani penuh semangat.
Dani bukan sekadar mahasiswa — ia adalah teladan. Dalam sunyi perjuangannya, ia mengajarkan arti tanggung jawab, dedikasi, dan cinta keluarga. Saat generasi lain sibuk mencari arah, Dani telah menemukan jalannya: menuju masa depan yang diperjuangkan dengan keringat, doa, dan keberanian.
Penulis: Reggi Ermila Fasila
NIM : 0603221030
Jurusan Ilmu Komunikasi, UINSU











