MEDAN, ARMADA BERITA – Siang itu, udara di aula Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santo Thomas, Jalan Setiabudi Tanjung Sari, Medan, terasa begitu padat oleh butiran-butiran air mata dan isak tangis yang tertahan.
Puluhan orang tua mahasiswa penerima KIP Kuliah duduk bergeming, menyerap setiap detik momen yang sarat akan emosi. Di antara kerumunan itu, berdiri di depan seorang wanita tegar bernama Wahyuni, seorang ibu beranak dua yang juga pernah berjuang keras sebagai pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta sambil membawa anak, di mana ia pernah mendapatkan hadiah motor dari Erick Thohir pada tahun 2023 silam.
Dengan suara bergetar, napas yang terengah-engah menahan tangis, dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, Wahyuni maju ke depan untuk meluapkan seluruh isi hatinya.
Perjuangan hidupnya yang berat bekerja siang dan malam di jalanan demi menyambung hidup sekaligus merawat orang tua yang sakit cuci darah dua kali seminggu, terbayar sudah ketika melihat masa depan adik-adiknya mulai menemukan titik terang.
Di hadapan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dr Sofyan Tan, Wahyuni menumpahkan rasa syukur yang mendalam atas uluran tangan yang menyelamatkan masa depan keluarganya.
“Pekerjaan saya ojek online di Jakarta dan orang tua saya sakit cuci darah dua kali seminggu. Jadi saya balik ke Medan unyuk orangtua dan adik-adik saya. Pada siang hari ini, saya mengucapkan sangat-sangat terima kasih buat Bapak Sofyan Tan.
Bahwasanya kami sempat-sempatnya berjumpa dan bersimpuh sama Bapak. Terima kasih banyak, Pak, atas perjuangan Bapak, atas aspirasi Bapak bagi kami yang susah, biarpun kami susah, bisa kami memperjuangkan anak-anak kami, adik-adik kami untuk cita-citanya,” ucap Wahyuni dengan isak tangis yang membuat seluruh ruangan ikut terenyuh.
Keharuan di ruangan tersebut semakin menjadi ketika satu per satu orang tua mahasiswa maju menyampaikan testimoni mereka yang begitu mengoyak hati.
Siti Aminah orang tua dari Rahmat Hidayat, seorang ibu dari keluarga petani yang tidak memiliki tanah dan hanya mengandalkan upah serabutan, menceritakan betapa beratnya jalan yang harus ia tempuh demi pendidikan sang buah hati.
“Pertama anak saya mau kuliah, bilang, ‘Mak, saya harus kuliah.’ Saya bilang, ‘Nak, masih ada adik-adikmu di bawahmu, masih ada tiga yang bersekolah semua. Belum mampu Mamak sama Bapak menyekolahkan kau. Kerja dulu, Nak, satu tahun biar kumpul modal,” tutur Siti Aminah dengan derai air mata.
Namun berkat kegigihan anaknya tersebut lalu mendapatkan informasi dari Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan, akhirnya membuahkan hasil. Tak pernah terbayang sedikitpun bagi mereka sebelumnya, bisa melihat anaknya berkuliah.
Suasana kian syahdu tatkala Angri Sembiring, ibu dari Christian Silaban yang berasal dari Fakultas Kesehatan, turut membagikan kisah perjuangannya.
Sebagai seorang ibu yang hanya bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan kecil sekali untuk menghidupi tiga orang anak setelah ditinggal sang suami, ia sempat merasa tidak mungkin bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi.
“Berkat pertolongan Tuhan dan bantuan Pak Sofyan Tan, anak saya bisa kuliah di UNIKA,” ungkap Angri dengan isak tangis yang mencerminkan betapa besarnya mukjizat pendidikan bagi keluarganya.
Menanggapi gelombang emosi, rasa syukur, dan air mata dari para orang tua, Sofyan Tan memberikan penguatan penuh semangat. Ia berpesan agar anak-anak yang telah mendapatkan kesempatan emas melalui program KIP Kuliah ini benar-benar memanfaatkannya untuk belajar dengan sungguh-sungguh, membalas pengorbanan luar biasa orang tua mereka dengan prestasi, serta tidak pernah menyerah dalam mengejar cita-cita. (*)











