ArmadaBerita.Com – Abrasi pesisir di Provinsi Riau kian mengkhawatirkan. Hampir seperempat dari garis pantai sepanjang 2.090 kilometer telah terkikis (DLHK Riau, 2024). Di Kelurahan Mundam, Kota Dumai, ancaman itu terasa nyata. Jarak antara pemukiman warga dan garis pantai yang dulu sekitar 250 meter, kini tinggal lima meter. Setiap kali gelombang pasang datang, warga hidup dalam kecemasan, khawatir rumah dan lahan mereka tersapu air laut.
Fenomena di Mundam mencerminkan tantangan nasional. Peta Mangrove Nasional 2023 mencatat Indonesia memiliki 3,4 juta hektare hutan mangrove—terluas di dunia. Namun, sekitar satu juta hektare di antaranya telah hilang dalam dua abad terakhir, setara dengan 13 kali luas Singapura (Ilman, 2016). Kehilangan mangrove ini memperparah risiko abrasi dan menimbulkan kerugian ekonomi besar, terutama di sektor perikanan dan pariwisata.
Menjawab kondisi kritis tersebut, Universitas Pertamina (UPER) berkolaborasi dengan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU II Dumai dan Pemerintah Kota Dumai meluncurkan Gerakan Penanaman Mangrove di sepanjang pesisir Mundam, Rabu (29/10/2025). Program ini melibatkan mahasiswa, pelajar, dan masyarakat setempat, memperkuat semangat kolaborasi lintas sektor dalam menjaga ekosistem pesisir.
Wakil Wali Kota Dumai, Sugiyarto, menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam upaya ini. “Inisiatif ini bukan hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membentuk karakter generasi peduli. Kolaborasi sektor pendidikan, industri, dan pemerintah diharapkan menciptakan pesisir yang tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari komitmen pendidikan berkelanjutan, dosen dari Program Studi Manajemen, Teknik Sipil, dan Kimia UPER merancang materi edukasi tentang abrasi dan pemeliharaan mangrove. Kegiatan edukasi diikuti oleh warga Mundam, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Dumai, serta siswa SMP Negeri 20 Mundam.
Namun, tantangan masih besar. Ombak yang kuat dan kondisi tanah berlumpur membuat sebagian bibit mangrove sulit bertahan. Menyadari hal itu, tim Agent of Change (AOC) KPI RU II Dumai memperkenalkan solusi inovatif: pemecah ombak dari limbah ban mobil untuk melindungi bibit muda dari terjangan gelombang.
“Gelombang harus diredam lebih dulu agar bibit mangrove punya kesempatan tumbuh optimal,” jelas Syahril Aditya Ginanjar, Ketua Tim Pelaksana AOC KPI RU II Dumai.
Puncak kegiatan ditandai dengan penanaman ratusan bibit mangrove secara serentak di sepanjang lima kilometer pesisir Mundam. Masyarakat, mahasiswa, dan siswa bahu-membahu menanam mangrove, menciptakan pemandangan kolaborasi lintas generasi yang sarat makna dan simbol nyata harapan untuk pesisir yang lebih kuat dan lestari.
Ketua pelaksana sekaligus dosen Manajemen UPER, Arif Murti Rozamuri, Ph.D., menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar kegiatan seremonial. “Mangrove adalah benteng alami yang melindungi warga dari abrasi sekaligus menopang ekonomi lokal. Dengan pendekatan lintas disiplin, kami memastikan kontribusi UPER berlanjut melalui pendidikan, penelitian, dan pendampingan masyarakat,” sebut Arif.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata implementasi misi kampus dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Universitas Pertamina berkomitmen menjadi bagian dari solusi bagi tantangan bangsa, termasuk krisis lingkungan. Melalui kolaborasi seperti ini, kami ingin menyiapkan generasi muda yang bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan bumi,” tutup Prof. Wawan. (Asn)











