Krisis Ekonomi di Tengah Pandemi

Share

Dunia tengah gamang dilanda musibah yang bernama Coronavirus disease 2019 atau dikenal dengan sebutan Covid-19. Tiongkok sebagai negara asal muasalnya virus ini yang juga dianggap sebagai salah satu poros ekonomi dunia pun telah mengalami kemerosotan perekonomian yang tentunya hal tersebut berdampak kepada sektor perekonomian global.

Virus Covid-19 bisa menulari siapapun, ia tak pilih kasih, mau tua atau muda, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, anak-anak atau dewasa, semua dalam ancaman bahayanya, sebab sudah terhitung 188 negara di dunia telah terjangkit oleh virus ini, karenanya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi global.

Melansir akumulasi perhitungan data dari Worldometers.info per tanggal 14 Agustus 2020 tercatat Coronavirus cases mencapai 21,080,357 dengan kasus kematian menyentuh angka 753,467.

Semua orang takut Corona, rakyat terus menuntut kebijakan dari pemerintah, pemerintah juga sedang kocar-kacir memikirkan apa langkah jitu untuk menanggulangi pesebaran virus tersebut. Pada awal Maret lalu, wabah ini mulai menjalar ke Indonesia.

Kedatangannya mulai menghantam sektor kesehatan, banyak nyawa yang dibikinnya menggelepar, tenaga medis sebagai garda terdepan pun sudah banting tulang. Selain itu, sektor lain yang juga mendapat hantaman kerasa dari dampak yang ditimbulkan Corona yakni sektor ekonomi.

Pemerintah melalui kebijakannya yang dinamai pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dengan maksud untuk menekan persebaran virus agar sektor kesehatan bisa diselamatkan, ternyata disisi lain sektor ekonomi yang dibuat lumpuh, sebab segala aktivitas masyarakat dirumahkan, secara otomatis ruang gerak publik dibatasi hal ini akan berpengaruh pada penurunan permintaan (agregat supply) dalam aktivitas ekonomi yang berdampak pada penurunan jumlah produksi.

Belum lagi banyak pekerja yang terpaksa harus di-PHK (pemutusan hungan kerja) akibat perusahaan yang gulung tikar, sehingga tidak bisa menggaji pekerjanya, ketiadaan lapangan kerja tersebut tentu berimplikasi terhadap kemiskinan.

Berpegang dari data Badan Pusat Statistik (BPS) ketika menyebutkan penduduk miskin di Indonesia per Maret 2020, jumlahnya mencapai 26,42 juta jiwa, naik 1,63 juta jiwa dari kondisi pada September 2019. Jika peluang untuk keluar dari kemelut Corona ini dirasakan menemui jalan buntu, bukan tidak mungkin angkanya menyentuh 34 juta jiwa penduduk miskin.

Krisis ekonomi akibat Corona benar-benar membombardir hebat, para pelaku bisnis UMKM (unit usaha kecil menengah) pun menjadi sasaran empuk terkena dampaknya.

Pasalnya UMKM bisa menyumbangkan sebessar Rp2.394,5 triliun atau 65 % dari PDB (produk domestik bruto) nasional, namun karena dampak dari pandemi global ini membuat UMKM bukan lagi penyelamat ekonomi Indonesia melainkan yang harus diselamatkan agar keberadaannya tetap ada di Indonesia.

Tak terhenti sampai disitu, baru-baru ini publik dihebohkan dengan desas-desus Indonesia yang diambang resesi ekonomi atau yang dapat dimaknai sebagai penurunan secara signifikan akan kegiatan ekonomi suatu negara, biasanya terjadi selama dua kuartal berturut-turut.

Berdasarkan catatan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, ekspor dan impor mengalami kemerosotan yang cukup dalam pada kuartal kedua tahun 2020. Bahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini pun telah memasuki zona negatif pada triwulan kedua sebesar 5,32 persen.

Pemerintah melalui Menteri Keuangannya mengatakan bahwa pemerintah terus berusaha supaya perekonomian pada kuartal ketiga tumbuh 0 persen atau positif sehingga Indonesia terhindar dari resesi teknis.

Presiden Jokowi mesti menyadari betul perlu penanganan serius untuk mengatasi krisis kesehatan dan ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19. Oleh karenanya prioritas Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020 digelontorkan untuk mendukung penangangan pandmei global ini.

Kita tidak pernah tahu dan meminta virus ini tetap ada di dunia, di Indonesia khususnya. Berhenti untuk bersikap skeptis, walaupun sudah berjalannya new normal (kenormalan baru) sebagai bentuk upaya agar kegongan ekonomi tidak semakin menjadi, tapi tetap patuhi protokol kesehatan selama menjalani aktivitas.

Agar kita bisa sama-sama berjuang menghadapi kemelut Covid-19 terkhusus dari segi krisis kesehatan dan krisis ekonomi. Kita harus optimis Indonesia bisa keluar dari peliknya situasi sekarang ini, mari bersatu lawan Corona!

Penulis adalah Mahasiswa jurusan Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumatera Utara stambuk 2017 yang kini tengah menjalani masa pengabdian masyarakat dalam kelompok KKN 135.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *