Mengenal dan Menghargai dalam Bingkai Kebhinekaan

Share

Indonesia lahir dengan sebuah filosofi yang menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sering disebut dengan pancasila. Dengan semboyan yang di junjung tinggi maknanya di negara yang terbentuk dari berbagai macam jenis perbedaan.

Bhineka Tunggal Ika menjadi sebuah nilai ampuh memberikan kedamaian dan persatuan indonesia. Kebudayaan yang ramah serta keberagaman yang berbudi luhur telah lahir di Indonesia jauh sebelum kemerdekaan dari tangan penjajah. Jajahanan Belanda maupun Jepang.

Seperti Keragaman agama, kerajaan Majapahit yang semula menganut ajaran Hindu namun setelah datangnya Islam, kerajaan ini bisa hidup berdampingan tanpa memandang perbedaan sebuah keyakinan.

Begitu pula dengan para pahlawan Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan semata- mata tidak untuk melindungi hak saudara seagama dan seras. Maka sebagai generasi penerus bangsa menyambung semangat perjuangan dan menjaga persatuan adalah kewajiban yang harus di junjung tinggi titah serta keberadaannya.

Ketuhanan yang Maha Esa yang mengandung makna bahwa seluruh warga negara Indonesia diwajibkan mengakui bahwa adanya Tuhan yang Esa sebagai seorang manusia yang berketuhanan. Memberikan kebebasan bagi setiap individu untuk memiliki kepercayaan masing- masing serta menjalankan aktifitas keagamaan dengan rasa aman karena telah dilindungi oleh undang- undang dan sila pertama.

Kebebasan diartiakan dengan tidak ada keterpaksaan, tidak terganggu dan tidak mengganggu. Tetapi bagaimana dengan suatu kaum yang menjalankan tradisi keagamaannya lalu mendapat ujaran- ujaran kebencian, Inikah yang di namakan kebebasan?

Untuk menerima suatu perbedaan dalam kebebasan kita seharusnya menarik keadaan ini pada diri kita sendiri. Seperti seorang lelaki yang berjalan dengan menggunakan sandal sebagai sebuah style yang menurutnya bagus, Ini merupakan kebebasan untuk menentukan pilihan terhadap penampilan.

Tetapi jika style seseorang mendapat ujaran- ujaran kebencian maka tidak akan ada yang dapat mengekspresikan keinginannya. Setiap orang akan berhadapan dengan pilihan bertahan dengan ketidaknyamanan atau merubah keinginan lalu menyesuaikan dengan apa yang orang lain anggap baik.

Ini merupakan gambaran kecil dari kebebasan yang kita anut selama ini. Jika terus di biarkan maka kebebasan tidak akan memberi kedamaian namun akan mengekang keinginan. Solusi yang dapat kita lakukan hanya dengan hal yang sederhana, menarik suatu keadaan kepada diri kita yang membutuhkan kebebasan.

Dimulai dari diri sendiri yang akan menjadi contoh langsung dalam mengedukasikan kebebasan dalam beragama. Mengenali dan menghargai, menjadi dasar untuk memberikan kebebasan dalam menjalankan tradisi sebuah keagamaan. suatu kesenjangan terjadi karena adanya perbedaan.

Perbedaan yang tidak pernah berakhir jika tidak saling mengenal. Interaksi sosial merupakan jembatan penghubung dari kesenjangan, sebagai cara mengenal sebuah perbedaan. Sama seperti yang dikatakan Nalson Mandela jika kamu ingin berdamai dengan musuhmu, kamu harus bekerja dengan musuhmu maka ia menjadi teman.

Oleh karena itu dengan mengenali suatu perbedaan kita akan temukan beberapa persamaan yang akan mendamaikan kesenjangan lalu merubah permusuhan menjadi sebuah pertemanan. Dengan mengenali berbagai perbedaan tentu akan tumbuh sikap saling menghargai.

Penulis adalah Mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sumatera Utara stambuk 2017 yang kini tengah menjalani masa pengabdian masyarakat dalam kelompok KKN 96.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *