PALUTA, ARMADABERITA – Institut Teknologi dan Sains Padang Lawas Utara atau ITS Paluta mengambil langkah strategis mendukung program swasembada pangan nasional. Bersama Koperasi Produsen Aek Nabundong, ITS Paluta resmi menandatangani Memorandum of Understanding atau MoU dan Implementation Agreement atau IA untuk memperkuat pengembangan pertanian dan peternakan berbasis riset serta teknologi.
Penandatanganan kerja sama berlangsung di Lapangan Bola Desa Huta Pasir, Kecamatan Simangambat, Kabupaten Padang Lawas Utara, Minggu malam, 30 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M.
Kolaborasi ini menjadi langkah awal untuk membawa hasil riset perguruan tinggi lebih dekat kepada masyarakat. Tidak hanya sebatas dokumen kerja sama, program tersebut akan dilanjutkan dengan observasi lapangan, pengambilan sampel tanah, penelitian, pendampingan teknis hingga pengembangan pertanian dan peternakan terpadu.
Koperasi Produsen Aek Nabundong sendiri menjadi wadah masyarakat Desa Huta Pasir dan Desa Mandasip, Kecamatan Simangambat. Melalui koperasi tersebut, masyarakat berupaya mengembangkan potensi pertanian dan peternakan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan perekonomian desa.
Rektor ITS Paluta Prof. Dr. Sri Rahayu, S.Pd., M.Pd., hadir langsung dalam penandatanganan kerja sama bersama jajaran pimpinan dan sivitas akademika ITS Paluta.
Sementara dari pihak koperasi, hadir Ketua Koperasi Produsen Aek Nabundong Abbas Nasution bersama pengurus dan anggota koperasi yang berasal dari masyarakat Desa Huta Pasir dan Desa Mandasip.
Ada sejumlah agenda penting yang menjadi ruang lingkup kerja sama tersebut. Di antaranya observasi dan pengambilan sampel tanah sebagai dasar penyusunan program swasembada pangan, pengembangan budidaya tanaman padi terpadu serta pengembangan peternakan sapi sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu yang berkelanjutan.
ITS Paluta nantinya memberikan dukungan melalui riset, kajian ilmiah dan pendampingan teknis. Mulai dari identifikasi kondisi lahan, analisis kesuburan tanah, rekomendasi pemupukan, pemilihan komoditas hingga penyusunan model pengembangan pertanian dan peternakan.
Pendekatan berbasis riset ini diharapkan membuat pengembangan sektor pangan tidak dilakukan secara coba-coba. Kondisi lahan dan potensi wilayah terlebih dahulu dikaji sebelum masyarakat menentukan pola pengembangan yang paling sesuai.
Ketua Koperasi Produsen Aek Nabundong, Abbas Nasution, menyebut kerja sama dengan ITS Paluta sebagai langkah penting untuk memperkuat kelembagaan koperasi sekaligus meningkatkan manfaat bagi masyarakat.
“Kolaborasi ini menjadi awal penguatan kelembagaan koperasi bersama perguruan tinggi. Kami berharap hasil penelitian dan pendampingan yang dilakukan ITS Paluta dapat meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Huta Pasir dan Desa Mandasip yang tergabung dalam Koperasi Produsen Aek Nabundong,” ujarnya.
Rektor ITS Paluta Prof. Dr. Sri Rahayu menegaskan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kerja nyata bersama masyarakat.
“Melalui kerja sama ini kami ingin memastikan bahwa riset dan inovasi dapat diterapkan secara langsung untuk mendukung swasembada pangan, meningkatkan produktivitas pertanian, dan mengembangkan potensi peternakan di daerah,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Pengarah kegiatan sekaligus Pendamping Hukum Koperasi Produsen Aek Nabundong, Madayan Hasibuan, S.H., M.H., mengatakan MoU dan IA tersebut merupakan pijakan awal untuk menjalankan program yang terukur dan berkelanjutan.
Menurut Madayan, kerja sama tersebut bukan hanya mempertemukan perguruan tinggi dan koperasi, tetapi juga menjadi bentuk kolaborasi bersama masyarakat Desa Huta Pasir dan Desa Mandasip.
“Dengan dukungan seluruh pihak, kami optimistis program ini akan menjadi model pengembangan pertanian dan peternakan berbasis riset yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung swasembada pangan nasional,” jelasnya.
Kerja sama ITS Paluta dan Koperasi Produsen Aek Nabundong diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. Tahapan penelitian, pemetaan potensi lahan, pengembangan tanaman pangan serta peternakan sapi akan menjadi bagian penting dari proses selanjutnya.
Jika berjalan sesuai rencana, kolaborasi tersebut dapat menjadi salah satu contoh bagaimana perguruan tinggi, koperasi dan masyarakat dapat membangun sistem pertanian terpadu dengan mengandalkan ilmu pengetahuan, potensi lokal dan kebutuhan masyarakat.
Dari Desa Huta Pasir dan Desa Mandasip, upaya mendukung swasembada pangan nasional mulai dibangun dari tingkat masyarakat melalui kolaborasi, riset dan pengembangan potensi lokal.











