WISATA  

Mengenang Kejayaan Pesta Danau Toba, Saat Parapat Hidup oleh Semangat Gotong Royong

Togi Samosir (kiri, mengenakan topi), Damayanti Sinaga (tengah), dan Tono Sinaga (kanan) berdiskusi mengenai sejarah penyelenggaraan Pesta Danau Toba di Parapat berdasarkan pengalaman dan ingatan para pelaku yang terlibat langsung pada masa kejayaannya.
Share

PARAPAT, ARMADABERITA – Jauh sebelum istilah sport tourism populer seperti sekarang, masyarakat Parapat telah lebih dulu mempraktikkannya melalui Pesta Danau Toba. Selama sepekan penuh, kota kecil di tepi Danau Toba itu berubah menjadi panggung budaya, olahraga, hiburan, sekaligus simbol kuatnya gotong royong masyarakat.

Kenangan itu masih tersimpan jelas dalam ingatan Tono Sinaga dan Togi Samosir, dua pelaku sekaligus saksi sejarah yang terlibat langsung pada masa kejayaan Pesta Danau Toba.

Menurut mereka, pesta rakyat berskala besar tersebut mulai digelar sekitar tahun 1985 pada masa kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar Tambunan. Meski digagas pemerintah, keberhasilannya sangat ditentukan oleh keterlibatan masyarakat Parapat.

“Kalau berdasarkan ingatan kami, sekitar tahun 1985. Pemerintah memang menjadi pencetusnya, tetapi ada tokoh-tokoh Parapat yang sangat berperan menggerakkan masyarakat,” kata Tono Sinaga.

Salah satu tokoh yang disebut memiliki peran penting adalah GM Panggabean, pemilik Hotel dan Restoran Hong Kong di Parapat. Selain itu, keluarga Tobali bersama para tokoh adat dan tokoh masyarakat ikut menjadi motor penggerak di lapangan.

“Mereka bekerja sama dengan pemerintah kelurahan dan kecamatan untuk mengajak masyarakat ikut terlibat. Yang bergerak bukan anak-anak muda saja, tetapi justru para orang tua dan tokoh masyarakat,” ujar Togi Samosir.

Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama yang membuat Pesta Danau Toba berkembang menjadi perhelatan besar. Warga tidak memikirkan keuntungan pribadi, melainkan kebanggaan melihat Parapat ramai dan budaya Batak dikenal luas.

“Orang-orang tidak berpikir soal uang. Semua hanya ingin Parapat hidup dan ingin menunjukkan budaya mereka kepada para tamu,” kenang Togi.

Pada masa awal penyelenggaraannya, pembukaan acara dipusatkan di kawasan Tiga Raja. Presiden Republik Indonesia bahkan pernah hadir membuka kegiatan dan menanam pohon beringin di kawasan Pelabuhan Tiga Raja.

Sementara itu, panggung hiburan malam berlangsung di Open Stage, sedangkan berbagai kegiatan lain tersebar di Benteng Belanda, Saritel, dan sejumlah titik lainnya di Parapat.

Pesta Danau Toba biasanya berlangsung selama satu minggu penuh dan rutin digelar setiap bulan Juni, sebelum anak-anak kembali memasuki tahun ajaran baru.

Rangkaian acaranya sangat beragam. Mulai dari lomba renang, perlombaan solu atau perahu tradisional, lari goni, permainan rakyat, parade budaya, pertunjukan seni, musik, tari, hingga penampilan artis nasional.

Tidak hanya itu, konsep wisata olahraga yang kini dikenal sebagai sport tourism ternyata telah menjadi bagian penting dari Pesta Danau Toba sejak puluhan tahun silam.

“Ada gantole, terjun payung, demonstrasi pesawat jet, sampai berbagai perlombaan olahraga air. Jadi sebenarnya sport tourism itu sudah ada sejak dulu,” tutur Tono Sinaga.

Besarnya skala kegiatan juga didukung oleh banyak perusahaan nasional yang menjadi sponsor. Nama-nama seperti Coca-Cola, Sampoerna, Djarum, Indofood melalui produk Indomie, Surya, dan sejumlah perusahaan besar lainnya turut ambil bagian.

Kontribusi mereka tidak hanya berupa dana, tetapi juga memeriahkan suasana dengan pemasangan ribuan umbul-umbul sepanjang jalur dari Girsang hingga Parapat.

Sebagai pengurus lapangan saat itu, Togi Samosir bertanggung jawab mengoordinasikan pemasangan berbagai perlengkapan sponsor, mengatur tenaga kerja, serta memastikan seluruh kebutuhan teknis berjalan lancar.

“Saya mengatur pemasangan umbul-umbul, mengoordinasikan pekerja, menjaga perlengkapan sponsor, hingga pembongkarannya setelah acara selesai,” ujarnya.

Menurut Togi, kunci utama kesuksesan Pesta Danau Toba bukan terletak pada besarnya anggaran, melainkan pada rasa memiliki yang tumbuh di tengah masyarakat.

“Pemerintah mendukung, sponsor ikut membantu, tokoh masyarakat bergerak, dan warga bekerja bersama. Semua merasa memiliki acara ini,” katanya.

Namun, ia menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu faktor yang membuat kejayaan Pesta Danau Toba perlahan memudar.

“Dulu orang bekerja demi kebersamaan. Sekarang banyak yang lebih dulu menghitung keuntungan pribadi. Padahal kekuatan terbesar Pesta Danau Toba ada pada rasa memiliki itu,” ungkapnya.

Meski demikian, Togi tetap optimistis kejayaan tersebut dapat kembali dihidupkan apabila semangat gotong royong yang pernah menjadi fondasi utama mampu dibangun kembali.

“Kalau semangat itu bisa dikembalikan lagi, saya yakin Pesta Danau Toba akan kembali menjadi kebanggaan Parapat dan Danau Toba,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *