Medan, ArmadaBerita.Com – Tekanan terhadap perekonomian Indonesia kian terasa seiring memburuknya indikator sektor riil dan pelemahan nilai tukar. Data terbaru menunjukkan aktivitas manufaktur nasional memasuki fase kontraksi, sementara nilai tukar rupiah hari ini, Senin (4/5/2026) terus tertekan mendekati level psikologis 17.400 per dolar Amerika Serikat.
Pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, menilai kombinasi faktor domestik dan global saat ini membentuk tekanan berlapis terhadap pasar keuangan Indonesia. “Kontraksi manufaktur yang tercermin dari PMI di bawah level 50 menjadi sinyal bahwa permintaan domestik maupun eksternal sedang melemah. Ini langsung tercermin pada tekanan terhadap rupiah,” ungkap Gunawan, Senin (4/5/2026).
Berdasarkan data S&P Global, (PMI) manufaktur Indonesia tercatat di level 49,1, menandakan aktivitas industri mengalami penurunan. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu sentimen utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak dalam rentang 17.330 hingga 17.380 per dolar AS, sebelum akhirnya ditutup melemah di posisi 17.365 per dolar AS. Menurut Gunawan, pelemahan ini terjadi meskipun terdapat sejumlah faktor penahan, seperti melemahnya indeks dolar AS ke level 98,18 dan surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar 3,3 miliar dolar AS.
“Secara teori, pelemahan dolar AS dan surplus perdagangan seharusnya menjadi bantalan bagi rupiah. Namun pasar saat ini lebih sensitif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi ke depan, terutama dari sektor manufaktur,” jelasnya.
Tekanan serupa juga tercermin di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali gagal mempertahankan penguatan sepanjang sesi perdagangan. Meskipun sempat dibuka menguat, IHSG beberapa kali berbalik arah akibat aksi ambil untung investor.
IHSG bergerak dalam kisaran 7.069 hingga 6.946 sebelum akhirnya ditutup naik tipis 0,22% di level 6.971,953. Sejumlah saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, serta emiten tambang seperti TINS dan ANTM, menjadi penopang utama indeks.
Gunawan menilai pergerakan IHSG yang cenderung fluktuatif menunjukkan adanya kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian global. “Ada anomali karena bursa Asia mayoritas menguat, tetapi IHSG justru tertahan. Ini menunjukkan investor domestik masih menimbang risiko yang lebih besar, terutama dari sisi nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Dari sisi makroekonomi, inflasi tahunan Indonesia yang turun ke level 2,42% pada April juga belum mampu memberikan dorongan signifikan ke pasar. Menurut Gunawan, inflasi yang rendah di satu sisi positif, tetapi juga dapat mencerminkan lemahnya daya beli masyarakat.
Di pasar komoditas, harga emas dunia tercatat melemah ke kisaran 4.588 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,57 juta per gram. Pelemahan emas terjadi di tengah penguatan harga minyak mentah global yang kembali mendekati 110 dolar AS per barel.
“Pergerakan ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi investor global ke aset yang lebih berisiko, seiring ekspektasi terhadap dinamika energi dunia. Namun bagi negara berkembang seperti Indonesia, kondisi ini justru menambah tekanan eksternal,” ujar Gunawan.
Ke depan, Gunawan memperkirakan volatilitas pasar masih akan berlanjut, terutama jika tidak ada katalis positif yang kuat dari dalam negeri. Ia menekankan pentingnya menjaga stabilitas sektor riil dan kepercayaan pasar.
“Pemerintah dan otoritas perlu memastikan stimulus yang tepat untuk mendorong kembali aktivitas manufaktur. Tanpa itu, tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan berpotensi berlanjut dalam jangka pendek,” tutupnya.











