Istri Meninggal Diduga Karena Diterlantarkan, Suami Pasien RSUD Panyabungan Tolak Uang Santunan: “Saya Bukan Cari Duit, Saya Cari Keadilan”

Share

Armadaberita.com | MANDAILING NATAL— Duka mendalam dirasakan Sairin Rangkuti, seorang warga Kecamatan Batang Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Ia kehilangan istrinya yang meninggal dunia setelah diduga tidak mendapat penanganan medis yang layak di RSUD Panyabungan.

Dengan suara lirih dan wajah sedih, Sairin menceritakan bagaimana istrinya yang mengalami sesak napas sempat tidak mendapatkan oksigen saat dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Bahkan, ia sempat cekcok dengan pihak rumah sakit karena merasa pelayanan terhadap istrinya sangat lambat.

“Jangankan perawatan intensif, minta oksigen saja saya harus adu mulut dengan pihak IGD saat istri saya sesak napas,” ucap Sairin kepada wartawan, Senin (19/5).

Sairin mengaku sangat menyesal membawa istrinya ke RSUD Panyabungan. Bukannya mendapat pelayanan maksimal, ia malah merasa istrinya diterlantarkan. Bahkan, ketika ia ingin mengklarifikasi penanganan istrinya, Direktur RSUD Panyabungan, dr. Rusli Pulungan, dan Dewan Pengawas Sahminan justru menyebut-nyebut soal kematian istrinya.

“Aku nggak mau bahas soal kematiannya, karena istriku takkan kembali. Aku hanya ingin tahu kenapa penanganannya seperti itu,” tutur Sairin.

Lebih mengejutkan, Sairin mengaku sempat ditawari amplop berisi uang oleh Direktur RSUD Panyabungan. Uang itu disebut sebagai santunan untuk anak Sairin yang masih kecil dan kini telah kehilangan ibunya. Namun, Sairin dengan tegas menolak.

“Saya bilang, saya ke sini bukan untuk cari uang. Saya cuma ingin tak ada lagi pasien lain yang diperlakukan seperti istri saya,” tegasnya.

Ia juga mengungkapkan, pihak rumah sakit, termasuk dokter spesialis yang menangani istrinya, dr. Sapran, telah mengakui adanya kelalaian dan meminta maaf langsung kepadanya. Namun, Sairin masih mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum.

“Mereka sudah minta maaf dan mengakui kelalaiannya. Tapi saya masih pikir-pikir apakah akan membawa ini ke jalur hukum. Yang saya ingin, mereka berubah dan tidak lagi ulangi kesalahan yang sama kepada pasien lain,” ucapnya penuh harap.

Sairin sempat mendampingi istrinya selama empat hari di rumah sakit. Pada Rabu (14/5), istrinya sempat kesakitan hebat dan akhirnya meninggal dunia sekitar pukul 15.00 WIB. Ia lalu membawa jenazah istrinya pulang untuk dimakamkan.

Ironisnya, pihak RSUD Panyabungan terlihat tertutup soal kejadian ini. Ketika dikonfirmasi melalui WhatsApp, dr. Rusli Pulungan hanya menjawab singkat bahwa peristiwa itu kemungkinan besar hanyalah “miskomunikasi”. Setelahnya, ia sulit ditemui untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Kasus ini menambah daftar panjang sorotan terhadap pelayanan rumah sakit daerah yang dianggap lalai dalam memberikan hak dasar pasien: keselamatan dan penanganan medis yang cepat dan tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *