Medan, Armada Berita – Banyak pihak telah menyalahkan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sebagai penyebab penurunan aktivitas ekonomi selama pandemi COVID-19. Pembeli dan penjual tidak lagi dapat berinteraksi dengan bebas, mengakibatkan berkurangnya omzet bisnis. Namun, kisah Pempek Nabil dan pemiliknya, Widyawati, membuktikan bahwa pandangan itu tidak selalu benar. Mereka berhasil meningkatkan omzet Pempek Nabil hingga 200 persen, bahkan tanpa bertemu pelanggan langsung. Mari kita telusuri rahasia kesuksesan Widyawati ini.
Widyawati, berusia 37 tahun, tidak memiliki latar belakang pendidikan dalam kuliner. Ia lulus sebagai Sarjana Teknik Pertambangan dari Universitas Sriwijaya. Tetapi, cintanya terhadap kuliner khas Palembang membawanya pada perjalanan mengesankan dalam dunia bisnis empek-empek.
Pada 2015, Widyawati memulai usahanya dengan brand Pempek Nabil. Namun, ia tidak memiliki toko fisik. Pempek Nabil dipasarkan secara daring melalui media sosial. Pada awalnya, jangkauan pasar Widyawati terbatas pada teman-teman di jejaring sosialnya. Saat itu, dia adalah seorang ibu rumah tangga yang awalnya tidak diizinkan oleh suaminya untuk berbisnis di luar rumah. Namun, dorongan untuk membantu ekonomi keluarganya membawanya kepada dunia kuliner.
Widyawati memiliki visi yang jelas. Sejak awal, dia memilih platform digital sebagai sarana berjualan. Saat banyak UMKM baru mulai belajar berdagang secara daring, Widyawati sudah mahir dalam bisnis online.
Saat memulai, Widyawati bahkan tidak memiliki modal yang cukup. Dia memutuskan untuk membangun bisnis berbasis online dengan sumber daya terbatas yang dimilikinya.
Keputusan ini membuktikan kunci kesuksesan Widyawati. Dalam sekejap, digitalisasi membantu bisnisnya meraih kesuksesan yang luar biasa, bahkan tanpa punya toko fisik.
“Widy,” sebagaimana dia akrab dipanggil, menjelaskan alasannya memilih bisnis kuliner. Sebelum memulai Pempek Nabil, dia merasakan kelelahan berbisnis di bidang pakaian saat tinggal di Jakarta. Namun, bisnis pakaian yang kurang berhasil membawa perubahan. Itu adalah saat Widyawati memutuskan beralih ke bisnis kuliner. Dia yakin akan selalu ada permintaan untuk makanan, terutama di kota kuliner seperti Medan.
Kemudian, pandemi tiba, dan perilaku masyarakat dalam berbelanja berubah. Mereka beralih dari belanja offline menjadi online. Inilah saatnya para UMKM beradaptasi dengan dunia digital. Widyawati dengan cepat mengambil peluang ini dengan membuka toko daring dan memanfaatkan media sosial dan marketplace untuk mempromosikan Pempek Nabil.
Baru-baru ini, dengan persetujuan suaminya, Nabil mulai membuka kios offline untuk bisnisnya. Namun, mereka hanya menjual produk dalam kemasan, bukan makan di tempat.
Saat ini, Pempek Nabil telah menjadi sangat populer dan memiliki banyak pelanggan setia. Bisnis ini telah membuka lapangan pekerjaan, dengan 15 karyawan tetap dan dua karyawan magang. Widyawati bahkan telah menciptakan sistem kemitraan dan mendorong agen reseller yang membuka cabang di berbagai kota, mulai dari Aceh hingga Papua.
Kunci utama kesuksesan Pempek Nabil adalah digitalisasi. Selama pandemi, omzetnya melonjak hingga 200 persen, menjual 8000-10.000 paket pempek per bulan. Memulai digitalisasi sejak 2019, Widyawati bergabung dengan marketplace yang dibina oleh Bank Indonesia, seperti Tokopedia. Dengan mengoptimalkan marketplace, dia dapat mencapai omzet yang mengesankan.
Salah satu keunggulan dari berjualan melalui Tokopedia adalah mudahnya akses dan pilihan gratis ongkir, yang menarik banyak calon pembeli. Widyawati merasakan keuntungan dari sistem bagi hasil dengan Tokopedia. Selain itu, pelanggan Tokopedia sudah terbiasa dengan berbelanja online.
Dalam pandemi, para pelaku UMKM harus memaksimalkan digitalisasi untuk meningkatkan omzet usaha mereka. Menjangkau lebih banyak pelanggan dan membangun merek pribadi dengan lebih baik melalui pasar digital adalah kunci kesuksesan. Widyawati, pemilik Pempek Nabil, telah membuktikan bahwa bisnis berbasis digital memiliki potensi besar dan mampu melewati tantangan-tantangan ekonomi dalam situasi seperti pandemi. (Dedy Hutajulu)











