Perdagangan Sumut Bergantung China, Ekspor Beresiko Turun

Share

Sumut, ArmadaBerita.Com

Data BPS menunjukan bahwa ekspor Sumut secara nominal mengalami penurunan dibulan agustus 2023 jika dibandingkan dengan bulan juli 2023. Baik penurunan dari sisi nominal maupun kuantitas barang.

“Kalau dari sisi kuantitas atau berat bersih dalam satuan ton anjlok 21 persen. Sementara kalau dari sisi nominal terjadi penurunan sebesar 4.65 persen,” ujar Pengamat Ekonomi, Gunawan Benjamin kepada wartawan, Kamis (5/10/2023).

Menurut Gunawan, kalau dihitung berdasarkan tahun berjalan periode januari hingga agustus 2023, tren ekspor secara kuantitas justru mengalami peningkatan sekitar 20.9 persen, jika dibandingkan periode yang sama tahun 2022. “Dan secara nominal justru anjlok sebesar 21 persen. Artinya secara ril kinerja ekspor Sumut masih menunjukan peningkatan, meskipun pendapatan berkurang karena terjadi penurunan pada harga komoditas ekspor Sumut,” jelasnya.

Gunawan menjabarkan bahwa harga komoditass CPO di bulan juli rata-rata lebh tinggi dibandingkan dengan bulan agustus. Sehingga secara nominal ekspor Sumut mengalami penurunan. Harga CPO di bulan juli sempat menyentuh 4.170 ringgit per tonnya. Namun pada bulan agustus harga CPO justru bergerak turun dan capaian harga tertinggi CPO di agustus sebesar 4.000 ringgit per tonnya.

“Ekspor Sumut masih didominasi ke China, demikian juga untuk impornya juga didominasi China. Secara keseluruhan Sumut masih surplus atau diuntungkan berdagang dengan China sejauh ini. Namun ada sejumlah resiko yang menuntut kewaspadaan kita yakni perlambatan ekonomi China yang bisa saja menyeret perlambatan kinerja ekspor di Sumut,” ungkap Gunawan.

Dia menyebut, China pada bulan juli membukukan deflasi yang memicu kekuatiran bahwa negeri panda tersebut tidak akan mampu mempertahankan akslerasi laju pertumbuhan ekonominya. Sementara itu, perlambatan ekonomi China juga terus terjadi belakangan ini. Di kuartal kedua ekonomi china memang tumbuh 6.3 persen secara tahunan atau year on year.

Bahkan, lanjut Gunawan lagi, realisasi pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dari ekspektasi sebelumnya yang diatas 7 persen.

“Dan jika pertumbuhan ekonomi China melambat maka sangat potensial menekan ekspor Sumut ke China. Sementara itu, kita juga tengah dikuatirkan penerapan UU Deforestasi Eropa yang mungkin saja akan menekan ekspor Sumut selanjutnya. Jadi ada resiko yang tengah mengintai kinerja ekspor Sumut,” pungkasnya. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *