Oleh: Arvin Syahputra Nasution
Namanya Widyawati (37 tahun). Ia seorang ibu domestik. Saban hari, ia mengasuh anak semata wayangnya, sedang suaminya bekerja di Aceh, sebagai abdi negara di beacukai. Selain mengasuh anaknya, Widy, begitu ia disapa, sibuk mengelola bisnis kulinernya, yang kini sedang jaya-jayanya. Brand “Pempek Nabil” sangat terkenal di jagad maya.
Tidak hanya di media sosial sepasti Facebook dan Instagram, produk makanan Pempek Nabil juga dipajang di sejumlah lokapasar. Uniknya, bisnis kuliner yang satu ini sama sekali tidak memiliki toko offline. Semua serba online. Sejak dirintis, Pempek Nabil sengaja memilih berbasis digital untuk menjangkau pangsa pasar yang lebih besar.
“Alhamdulillah, sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia, omzet kita malah naik 200 persen lebih. Dari usaha ini, saya bisa mempekerjakan belasan karyawan,” kata Widy saat ditemui di kediamannya di Perumahan Menteng Indah Blok C2, No.40, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, tempo hari.
Widy mengaku memilih berjualan online bukan tanpa alasan. Pertama, selain bisa dengan modal seadanya, namun bisa meraup untung gede. Hal itu dirasakan Widy sejak bisnis kuliner Pempek Nabil dirintis di Jakarta, 2015 silam. Meski kala itu Pempek Nabil belum tenar, namun masyarakat Jakarta sudah mulai menerimanya. Hingga akhirnya, Widy harus ikut suaminya hijrah ke Kota Medan karena menjalankan tugas dinas. “Soalnya suami saya pindah tugas ke Medan, jadi kami sekeluarga ikut pindah,” tutur Widy.
Di Kota Medan, Widy merasa tidak betah hanya berdiam di rumah tanpa aktivitas yang produktif. Ia merasa perlu melakukan sesuatu yang bisa menghasilkan duit. Meski gaji suaminya cukup untuk menafkahi mereka, Widy tetap bertekad ingin punya bisnis sendiri.
Widy pun mengutarakan rencananya ke suami, untuk melanjutkan bisnis kuliner yang dia rintis di Jakarta. “Syukurnya suami mendukung, karena tetap saya bisa mengurusi anak di rumah. Suami saya malah menyarankan kenapa nggak berjualan Pempek saja? Suami saya justru ikut membantu memasarkan di kantornya,” ungkap Sarjana Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya ini.

Sejak dimulai kembali, bisnis kuliner Pempek Nabil perlahan menemukan pelanggannya di Medan. Dipromosikan secara daring, kuliner ini serupa magnet, mampu menarik perhatian warganet. Tak butuh lama, Pempek Nabil mendapatkan banyak peminat. “Pempek ini dibuat dari bahan ikan tenggiri awalnya hanya 2 kg, tetapi sekarang memerlukan 20 kg per hari,” jelas Widy.
Tidak hanya dibantu suami, ibu mertuanya juga turut membantu Widy. Sang mertua yang bersusah payah mencarikan bahan baku berupa ikan tenggiri dari Belawan. Sekarang, mereka sudah memiliki langganan ikan tenggiri. Dengan adanya langganan itu, Widya tidak lagi kesulitan mendapat bahan baku. Ia tetap bisa memproduksi pempek tanpa harus kuatir kekurangan bahan.
Widy mengaku, sempat cemas ketika mendadak banyak pesanan masuk dari luar Kota Medan. Khususnya pemesan yang berasal dari daerah-daerah yang sulit dijangkau. Tak ingin mengecewakan konsumennya, ia pun menjalin kerja sama dengan jasa pengiriman logistik JNE.
“Kebetulan peminat Pempek Nabil itu banyak karena saya dulu dari Jakarta udah mulai jualan, jadi pas saya pindah ke Medan customer saya itu banyak di Jakarta dan untuk kirim ke Jakarta kami selalu pakai JNE karena bisa satu hari dah sampai,” ungkapnya.

Lebih Nyaman dan Murah
Widy mengaku sejak memulai bisnis jualan di ibukota, ia pernah mengirimkan barang ke daerah pelosok dan sampai tepat waktu. Ketika itu ia menggunakan jasa JNE. Ia merasakan betul keunggulan dari jasa pengiriman JNE ini. Sehingga untuk memenuhi permintaan para pelanggan yang jauh hingga ke pelosok daerah lainnya, Widy memilih memakai jasa JNE.
Kekhawatiran Widy agar bisa menjangkau para pelanggan di seluruh kota di Indonesia akhirnya terjawab. “Kenapa pakai JNE? karena hanya JNE yang waktu itu bisa menjamin satu hari sampai dan mereka bertanggung jawab,” ungkapnya.
Selain itu, ungkap Widy, keunggulan lain dari JNE adalah ongkos kirimnya (ongkir) yang murah, yaitu hanya 9.000 rupiah untuk seluruh wilayah Pulau Jawa, per kilo gram paket pengiriman dari gudang yang ada di Jakarta. Begitu pula dari gudang yang di Medan itu 9000 rupiah se-Sumatera. “Jadi JNE itu udah paling murah, mereka juga yang menjemput barangnya sehingga nggak perlu kita keluar duit lagi, terus kita bisa cetak resi sendiri,” urainya.
Ditambah lagi, sambung Widy, JNE siap rugi untuk pelanggan setianya. Widy mengaku ketahanan kulinernya saat itu hanya bertahan selama 2 hari, namun hingga kini dengan menggunakan alat modern yakni mesin pengepakan, pempek buatannya mampu bertahan selama 3 hari.
“Pernah sih barang kita rusak atau busuk karena lama sampainya di konsumen, padahal kita sudah pakai program JNE yang dinamakan “Yes” (Yakin Esok Sampai). Nah, itu diganti semua lho oleh JNE. Cukup kita foto barang yang rusak lalu kita kirim untuk diklaim. Jadi JNE itu benar-benar tanggung jawab,” pujinya.
Bahkan, menggunakan jasa JNE, Widy jauh dari rasa cemas bila barang pesanannya tak sampai atau rusak begitu diterima konsumen. “Kalau misalnya pun nggak sampai dalam 1 hari, JNE mengembalikan dan mengganti senilai paket yang kita kirim karena kan kita makanan frozen food yang waktu itu harus satu hari sampai,” imbuhnya.

Banyak Promo
Widy pun makin betah berlangganan dengan JNE, sebab perusahaan jasa logistik satu ini kerap memberikan promo kepada setiap pelaku UMKM, bahkan mereka merangkulnya melalui penerapan- penerapan kerja sama simbiosis mutualisme.
“Ada beberapa kerja sama juga yang kita buat melalui JNE itu, kayak di arveoli.com yang bisa langsung buat kreasi sendiri dan itu sangat nyaman. Jadi kita seperti punya aplikasi JNE itu sendiri. Di sini kita dipermudah sekali. Bayarnya juga nggak cash, karena kita seperti ada deposit gitu. Melacak dan melihat resi, ongkir semua tertera di arveoli.com,” beber Widy.
Bahkan JNE sendiri menyediakan sistem jemput bola, terkhusus bagi para pelaku UMKM langganannya seperti Widy. Kurir JNE sendiri datang ke rumah untuk menjemput barang setiap hari. “Kita nggak perlu ngantar ke loket mereka, karena JNE langsung datang. Jadi nyaman kita pakai JNE,” jelasnya.
Berkat kecerdasannya mengolah makanan, Pempek Nabil kini memiliki beragam menu yang tak kalah nikmat diantaranya: Pempek Lenjer, Pempek Adaan, Pempek Kapal Selam Kecil, Kapal Selam Besar, Pempek Keriting, Pempek Kulit Hitam, Pempek Lenggang, Bakso Tenggiri, Siomay Tenggiri, dan berbagai macam Dinsum. Kemudian ada menu pelengkap seperti Risol, Siomay, Nugget ada Bitterballen, dan lainnya.
Dari JNE Widy juga diperkenankan bekerja sama dengan sebuah situs yang dinamakan Yubi.id. Dimana Yubi.id merupakan sebuah situs kerja sama antara JNE dengan Smesco. Dia membuka gudang khusus produk UMKM di berbagai kota di Indonesia.
“Nah, kelebihannya kita UMKM gratis melakukan pengiriman di situ, asalkan kita memakai jasa pengiriman JNE. Di Sumatera, Palembang Jakarta, Bekasi, Solo, dan lainnya gudang Yubi atau Guyub itu juga ada,” terangnya.
Dengan angka penjualan pempeknya yang terus meroket, Widy mengaku akan terus bekerja sama dengan JNE. Merayakan dirgahayu #JNE31tahun dan #JNEcontentcompetition2021, Widy mendoakan agar JNE semakin jaya, karena berkat #JNEMajuIndonesia. “Untuk daerah-daerah terpencil, mudah-mudahan lebih cepat lagi sampainya. Dan layanannya, semoga semakin baik walaupun program-program sekarang ini sudah sangat baik dan banyak programnya bersama UKM, semoga program-program itu terus berlanjut,” harap Widy.

Dukung UMKM
Media Relation JNE Medan, Nur Fatiha Utami mengatakan, ada program promo JNE yang dibuat untuk mendukung UMKM dan para pemilik brand dalam memasarkan produk mereka. Namanya Promo Gajian. JNE juga aktif mempromosikan produk-produk pelanggannya melalui akun-akun media sosial UMKM dan pemilik brand-nya serta memberikan voucher gratis ongkir bagi pembeli yang ingin membeli produk mereka.
Khusus JNE Medan, kata Tami, dukungan kepada UMKM tidak hanya dilakukan melalui webinar, tetapi juga secara offline, diantaranya memberi pelatihan desain grafis, program pendampingan, dan tarif khusus pengiriman bagi pelaku UMKM yang Go Online. Selain itu, ada pengembangan komunitas.
JNE Medan bahkan menyediakan beberapa konsultan “Dengan adanya konsultan ini, diharapkan dapat membantu UMKM mengatasi masalah dan mencarikan solusi untuk usaha yang dijalani dengan program layanan berupa training, coaching, dan consulting,” imbuh Tami.
Kepala Cabang JNE Medan Fikri Alhaq Fachryana menambahkan, penting bagi para pelaku UMKM itu mengetahui siapa, apa produk atau jasa yang ditawarkan, bagaimana izinnya, siapa yang perlu tahu produk dan jasanya, bagaimana cara masyarakat tahu produk tersebut dan kemudian mengapa masyarakat harus peduli dengan produk atau jasa yang ditawarkan.
Setelah memiliki produk yang akan dijual, langkah selanjutnya menurut Fikri adalah membuat deskripsi singkat, padat, jelas, dan mudah diingat orang. Mesti ada pembeda antara produk kita dengan UMKM lain. Di era digital ini penting spesifikasi.
Menurutnya, tampilan visual juga harus menarik. Ketika sudah masuk ke dunia online, produk yang ditawarkan pasti bersaing dengan produk lain. Jika tidak memiliki visual yang menarik, bakal terdepak. “Untuk memenuhi itu semua, UMKM tidak bisa sendiri, harus ada yang mendampingi, hanya saja banyak UMKM yang tidak sanggup untuk membayar jasa pendampingan,” lanjut Fikri.
Bisnis yang go digital memang membawa banyak berkah, karena mampu menjangkau segmen pasar yang lebih besar. Seperti disampaikan Praktisi Pemasaran Digital Evan Budi Iswandi Siregar, mengoptimalkan pasar digital berkontribusi terhadap peningkatan omzet usaha. Para UMKM akan mendapatkan pasar yang lebih luas dengan mengenalkan produknya kepada masyarakat calon pembeli secara lebih baik, sehingga produk akan lebih cepat terbentuk.
“Para UMKM sekarang produknya sudah bagus, namun kebanyakan dari mereka bingung soal memasarkannya. Padahal, pasar digital ini sangat potensial,” tandasnya. (*)











