Oleh Arvin Syahputra Nasution
Di kala pandemi, kuliner dengan brand Pempek Nabil miliknya malah naik daun. Betapa tidak, ia meraup untung hingga 200 persen. Ia bisa menjual 8.000 – 10.000 pack produk olahan pempek per bulan.
Widy, begitu disapa, sama sekali tidak membuka jualannya secara offline. Ia tidak memiliki gerai ataupun toko. Sejak awal, ia memutuskan untuk jualan secara online. Uniknya lagi, saat pertama kali merintis usaha kuliner, di Medan, Widya hanya memiliki modal Rp 500.000. Namun ia nekat orangnya. Untuk menjalankan pemasarannya, ia mengandalkan ponsel pintar agar bisa menjangkau ribuan pembeli.
Andalkan Media Sosial
Wanita kelahiran 1984 itu mengaku mampu mendulang untung hanya dengan mengoptimalkan pemanfaatan media sosial (medsos) dan marketplace (lokapasar) seperti Blibli, Shopee, Lazada, Tokopedia dan lainnya.
Memanfaatkan medsos dan lokapasar ternyata membawa banyak keuntungan dan kemudahan. Bahkan, gara-gara aktif memasarkan produk kulinernya di media sosial, belakangan nama Widyawati dengan “Pempek Nabil” nya tenar di jagad maya. Setiap hari permintaan pesanan kirim barang mengalir ke deras dari berbagai pemilik akun di media sosial.
“Alhamdulillah sejak di masa pandemi Covid-19 penjualan kami meningkat. Seluruh pesanan masuk dari lokapasar dan media sosial seperti Instagram,” kata Widyawati ketika ditemui di kediamannya di Perumahan Menteng Indah Blok C2, No.40, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan, Sabtu (6/10/2021).
Akan tetapi, kesuksesannya itu bukan tanpa hambatan. Seperti yang lain, Widy juga pernah mengalami jatuh bangun dalam mengelola bisnis. Ia pernah mencoba beragam usaha dan gagal. Namun karena ia sosok pembelajar yang tangguh, dan memiliki tekad serta kemauan kuat, ia bisa melewati proses demi proses secara tekun hingga sukses.
Widy memulai karier menjajal kuliner Pempek sejak tahun 2015. Sebelumnya di tahun 2009, ia pernah mencoba peruntungan dengan berjualan pakaian. Ketika itu, ia dan suami tinggal di Jakarta. Dari jualan pakaian inilah, Widy belajar berjualan secara online. Dari mulai mencari-cari jenis pakaian dari Tanah Abang, lalu memotret setiap helai pakaian sampai memostingnya di medsos. Ketika itu, Widy gencar mengenalkan jualannya dengan berkirim pesan via Blackberry dan facebook. Ia cukup duduk manis di rumah untuk memasarkan jualannya dari ponsel.
Ya meski hasil jualan pakaian tak begitu menguntungkan, namun berdagang secara online itu memberinya banyak pembelajaran berharga. Pengalaman itu pula yang menginspirasinya untuk melanjutkan bisnis dengan model serupa yaitu jualan secara online. “Untungnya pas-pas, hanya bisa buat jajan. Terus saya pikir, kayaknya jiwa dagang saya tak ada di pakaian atau fesyen,” imbuhnya.
Lalu terbersitlah ide brilian di benaknya, saat mengamati teman-temannya jualan kue di Jakarta. Jualan itu laris-manis. Orang ternyata doyan makan. “Kenapa tak jualan makanan saja, kan lebih praktis. Kalau jualan pakaian banyak kain gak terjual, stok menumpuk ya itu rugi karena modal kita tidak berputar,” pikir Widy.

Di tahun 2015, ibu anak satu ini pun nekat menjual makanan dengan brand Pempek Nabil. Meski tidak pernah sekolah masak-memasak, Widy tetap percaya diri untuk mencoba. “Yang penting, yakin dan mau belajar. Saya orangnya gitu,” tukasnya.
Widy tak menampik jika awalnya sama sekali tak memiliki keahlian memasak. Namun, sebagai anak yang terlahir dari keluarga wirausahawan, jiwa dagang Widy begitu menggebu-gebu. Orangtuanya di Palembang selama bertahun-tahun sampai hari ini masih membuka usaha toko sembako. Abangnya yang sulung menjalankan bisnis showroom dan bisnis restoran. Adiknya juga terlibat berbagai jenis bisnis. Jiwa wirausaha memang mengalir di darah Widy. “Saya kan asli Palembang. Kenapa gak jualan Pempek saja?” ujarnya.
Sejak ide itu muncul, Widy segera mengujicobakannya. Di Jakarta, ia memulai bisnis penjualan pempek. Namun hasilnya tidak begitu menggembirakan. Meski demikian, Widy senang karena perlahan tapi pasti brand Pempek Nabil mulai diterima masyarakat Jakarta. Usahanya sempat terhenti sejenak lantara mereka harus hijrah ke Medan. Sebab, suaminya yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dipindahtugaskan ke Kuala Namu. Widy pun ikut suami terbang ke Medan.
Di kota Medan, Widy mulai dari nol lagi. Beberapa bulan di Medan, wanita yang tak betah berdiam diri di rumah ini mencari solusi kesibukan yang bisa membantu ekonomi keluarga. Dia mulai berpikir pekerjaan, namun suami melarangnya bekerja di luar rumah. “Kenapa nggak jualan pempek lagi, kan setiap saya pulang ke Palembang membawa pempek, teman-teman dan saudara saya senang karena rasanya gurih dan lezat. Lalu suami saya juga mendukung dengan tetap berjualan di rumah dan tidak lupa mengurusi rumah tangga,” jelasnya.
Akan tetapi, dengan pindah ke Medan dirasa Widy semakin besar tantangannya dalam berjualan, apalagi di bidang kuliner. Pasalnya, Medan adalah gudangnya kuliner. Banyak pesaing dalam bisnis kuliner. Tetapi besar pula potensi konsumennya. Tak ingin pusing berlama-lama, Widy ngotot melanjutkan bisnis pempeknya, tapi ia harus mencoba cara berbeda agar produk kulinernya bisa diterima dan diminati meski sebagai pendatang.
“Medan kan terkenal gudangnya kuliner, tapi ini semakin membuat saya tertantang. Terus suami juga membantu menjualkan di kantornya. Karena dukungan suami, saya jadi lebih semangat,” imbuhnya.
Memulai dari awal di kota yang baru ternyata tidak menyulitkan bagi Widy, selama ada kemauan yang kuat. Ia bahkan mandapat dukungan dari mertuanya, mulai dari mencarikan ikan untuk bahan pembuatan pempek sampai bisa berlangganan ikan tenggiri di Belawan. Setelah mendapatkan itu semua, Widy mulai meracik adonan di rumah kontrakannya yang awalnya di kawasan Jalan Utama, Medan Kota. Setahun di sana, mereka pindah di kawasan Menteng Indah, kompleks perumahan tempat tinggalnya yang sekarang, namun kala itu mereka masih mengontrak. “Saya dibantu mertua mulai dari cari bahan ikan tenggiri dan membuat adonan. Awalnya itu hanya 1 kg ikan dan paling banyak 2 kg, malah kadang sampai nggak jualan karena sepi,” tuturnya.

Belajar Manajemen Pemasaran
Wanita penuh senyum ini mengaku selain terus memperbaiki rasa, ada yang kurang dalam pengelolaan pemasarannya. Ia terus belajar mencari tahu agar resepnya jitu. Soal rasa, Widy menerangkan Pempek Nabil sama sekali tidak memakai penyedap rasa, MSG (Mono Sodium Glutamat). Hanya memakai daging asli dari ikan tenggiri. “Soal rasa, kan semua pedagang pasti mengklaim mereka yang paling enak. Saya tidak. Yang saya prioritaskan adalah mutu layanan. Tentu saja, soal rasa, saya tetap kerja mutu. Saya tidak main-main soal menciptakan cita rasa pempek. Kalau enggak enak kan gak laku,” terangnya.
Widy pun mulai aktif belajar pemasaran secara digital. Sistem jual beli melalui medsos ia kembangkan. Ia juga rela merogoh kocek mahal ikut kelas-kelas online untuk materi pemasaran digital. Semua itu ia kejar semata agar usaha pempeknya makin berjaya di jagad digital ini.
Beruntungnya, di saat orang-orang baru belajar beralih memasarkan produknya secara digital, Widy sudah melakoninya belasan tahun lalu. Ia sudah terbiasa dengan pemasaran digital. Sehingga ia seperti mendapat “durian runtuh” di masa pandemi Covid-19 ini. Sampai sekarang, peminat kulinernya lewat pemasaran online terus bertambah. “Karena prospeknya menjanjikan, saya ikuti pembelajaran tentang digital dan memasak juga. Setiap pulang kampung saya belajar membuat pempek yang enak,” tutur Widy.
Agar cita rasa pempeknya enak dan bisa diterima konsumen, suaminya acap kali jadi korban percobaan untuk mencicipi. Memang tak ada yang sekali coba, langsung jadi. Pempek Nabil pun begitu. Awal-awal, rasanya pahit, keasinan bahkan lembek. Tetapi Widy, terus mencoba. Jika masih kurang enak, ia terus perbaiki lagi, hingga berhasil. “Saya berpikir bagaimana jualannya laris dan bisa diterima masyarakat dengan baik, jadi marketing digitalnya saya perbaiki. Ini saya mulai benar-benar di 2017,” terangnya.
Menurutnya, Pempek yang dijual semua enak. Penjual pempek lainnya juga bisa mengklaim paling enak, bahan juga dari ikan tenggiri. Tapi, bagi Widy, ia punya pelayanan dengan cepat, bisa menjangkau ke seluruh Indonesia, kemasan menarik dan keren, ongkos kirim yang murah, tahan dibawa kemana-mana. Bahkan Widy merasa, mulai dari pengolahan sampai jadi dilakukan dengan higienis.
“Misalnya ada paket yang busuk sampai ke customer akan kita ganti. Jadi pelayanan kita utamakan. Kepuasan konsumen itu kita jaga. Bahkan pesanan yang sampai itu kita tanyakan apakah ada yang rusak? Bagaimana rasanya? Apa yang kurang? Itu semua kita tanyakan ke costumer. Sehingga langganan kita dari 5 tahun lalu masih ke kita,” imbuhnya.

Berdayakan Perempuan
Satu hal yang sangat disyukuri Widy, kehadiran Pempek Nabil telah membawa keberkahan bagi banyak orang. Persis seperti impiannya. Nabil. Pembawa kemuliaan. Pembawa berkah. Dari Pempek Nabil ini, Widy menjadi saluran berkah bagi banyak perempuan. Ia membuka sistem reseller bagi ibu-ibu. Tujuannya agar ibu-ibu rumah tangga juga ikut membantu ekonomi keluarga meski hanya di rumah. Sepasti dirasakan Widy.
“Awalnya cuma ingin mengisi kekosongan di rumah saja. Soalnya suami dari awal tidak mengizinkan saya bekerja di luar rumah, jadi saya berpikir untuk membantu ekonomi dengan jualan online,” sebutnya.
Perekrutan reseller pun diumumkannya lewat iklan yang dipasang di medsos. Banyak ibu yang kepincut ingin berjualan ingin menambah pemasukan. Alasannya lagi karena tidak lagi repot meracik, hanya tinggal jual saja. Karena banyak yang mau ikut bergabung menjadi reseller, Widy lantas berpikir bahwa ia bisa meningkatkannya lagi dan memimpin semua itu.
“Ternyata ini banyak manfaatnya juga ya. Saya langsung berpikir bahwa bisnis ini harus diperjuangkan karena sudah bisa membantu orang lain. Dengan makin bertambahnya reseller, otomatis income kita bertambah juga,” aku Widy dengan senyum.
Edukasi Reseller
Menurutnya para reseller banyak berminat dikarenakan senang dengan sistem yang ditawarkan Widy. Ia mampu memberi diskon dari 20-40 persen yang tergantung dari pesanan.
Padahal Widy tak menawarkan barang dulu laku baru bayar. Sistem yang diterapkannya adalah beli putus. Ibu-ibu yang ingin jadi reseller minimal harus beli 20 pack. “Mereka order 20 pack langsung kita kasih diskon dengan harga reseller. Sekarang jumlah reseller kita sekitar 200-an dan 90 persen resellernya itu adalah perempuan,” bebernya.
Bukan itu saja, reseller Widy itu makin terus bertambah, mereka senang dan dapat untung memasarkan produk Widy. Para reseller juga diberikan edukasi mengenai penjualan dan berjualan di sosmed dengan bijak. Reseller yang 90 persen kaum ibu-ibu itu dibimbing dan diberikan pelatihan oleh Widy. Widy tak pelit membayar pendidik untuk memberikan pelatihan itu kepada resellernya.

Hingga kini, pencapaian penjualan Pempek Nabil miliknya tak putus orderan dan meningkat. Sekarang ia juga tak lagi mengontrak. Widy telah memiliki rumah tinggal sekaligus rumah produksi sendiri di Perumahan Menteng Indah Blok C2, No.40, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan. Dalam memproduksi Pempek Nabil, Widy telah memperkerjakan 12 orang pekerja di rumah produksinya. Dan itu lain dari orang yang mempromosikan (artis iklan) mengenai rasa kulinernya melalui video di medsos.
Para pekerja itu punya tugas tersendiri. Mulai dari memasak, menggoreng, mengepak, mencetak, bagian pemasaran, hingga bagian melayani orderan yang masuk di instagramnya Pempek Nabil. “Setiap hari sekitar 200-an pesan melalui chat dari konsumen yang saya layani. Kami kerjanya dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Saya tugasnya terus memantau agar pemesan tidak lama menunggu, saya langsung meresponsnya dengan cepat,” kata Putri, salah satu karyawati Widy.
Putri sudah tiga tahun bekerja di rumah produksi Pempek Nabil milik Widy. Selama itu ia mengaku belum pernah menerima komplain dari konsumen ataupun reseller. “Belum ada komplain untuk kita. Paling pernah ada masalah pengirimannya yang telat dan itu di jasa pengirimannya,” tuturnya yang terlihat sibuk berkutat di layar komputer rumah produksi.
Beberapa pekerja lain juga sibuk dengan tugasnya masing-masing. Di bagian pengolahan bahan hingga memasak, para pekerja Widy juga mengedepankan kebersihan. Tempat yang bersih dan pengadon juga dipersiapkan sarung tangan khusus agar kulinernya lebih higienis.
Di rumah produksi yang berdampingan dengan rumah utama itu, sudah lengkap alat masak pembuatan jenis kuliner brand Pempek Nabil. Bahkan beberapa mesin mengemas pun sudah dibeli. Dua mesin pendingin berukuran besar terlihat dipenuhi kuliner siap edar. Selain itu, Widy juga sudah memiliki gudang di Jakarta yang bisa mengkover penjualan ke seluruh Jabodetabek. “Pengiriman kita sudah menjangkau ke seluruh Indonesia,” kata Widy.
Untuk brand Pempek Nabil sendiri sudah ada 20 item yang telah dipasarkan melalui media sosial dan lokapasar. Ada Pempek Lenjer, Pempek Adaan, Pempek Kapal Selam Kecil, Kapal Selam Besar, Pempek Keriting, Pempek Kulit Hitam, Pempek Lenggang, Bakso Tenggiri, Siomay Tenggiri, dan berbagai macam Dimsum. Kemudian ada menu pelengkap seperti Risol, Siomay, Nugget ada Bitterballen, dan banyak lagi.
Ia menyimpulkan, selain adanya pandemi Covid-19 perkembangan zaman di era internetlah yang membuatnya mendulang. “Jadi justru kita disuruh di rumah pas pandemi ini menjadi berkah sama saya, terus reseller kita yang di PHK di masa pandemi mereka bisa berpenghasilan,” ungkapnya.
Pun begitu, Widy cerita kalau kunci usahanya itu juga dimodali dengan niat yang kuat. Sebab nyalinya teruji begitu masuk pangsa pasar di gudangnya Medan. Hal itu mengharuskan dirinya untuk terus mengikuti kelas dan pembelajaran di jejaring agar sistem marketing yang dilakukannya berjalan.
“Jadi belajar itu penting. Skill up. Belajar bisnis itu tidak gampang. Apalagi di masa pandemi ini jualan lewat online makin banyak. Sehingga kita perlu belajar marketing. Sehingga mengharuskan saya ikut kelas berbayar,” ucapnya.
Selain unggul di jangkauan, penjualan online menurutnya lebih praktis dan bisa diterima orang menengah ke atas. Di awal pandemi yang membuat dagangannya laris di pasar online sempat membuatnya berpikir membuka restoran. “Saya berencana akan buka restoran, namun saat pandemi banyak restoran tutup jadi niat itu diundur, tapi ke depan tetap,” tegasnya dengan yakin.
Dengan 200-an reseller, Widy juga sudah merambah ke ritel agar bisa meng-cover setiap penjuru di daerah. Di Sumut, ritel Widy sudah ada di beberapa Kota. Kesemuanya itu sudah diurusi karyawannya. Sehingga orderan yang masuk dengan cepat dilayani. “Respon cepat itu sangat penting, kita nggak mau konsumen sampai menunggu lama. Setiap mereka yang nge-chat langsung dibalas cepat. Jadi HP selalu dipegang karyawan,” jelas Widy lagi.
Modal Kecil Untung Besar
Widy mengungkapkan, berjualan lewat online itu sangat menguntungkan. Menurutnya dengan modal seadanya setiap orang bisa memasarkannya ke media sosial melalui Android.
Widy ingat betul bagaimana awalnya ia hanya memasarkan 1 produknya di medsos dengan modal pas-pasan. “Awalnya itu hanya modal Rp 500 ribu sampai 1 juta paling banyak. Daging ikannya pun cuma 2 Kg. Sekarang sudah 20 kg per hari. Jadi pemasaran online itu bisa dibilang modal kecil tapi bisa untung besar,” ucapnya.
Widy menyadari masih banyak para pelaku UMKM atau pelaku usaha lainnya terpuruk di masa Pandemi Covid-19 ini. Untuk itu ia tak segan membagikan pengalamannya. Bahkan ia kerap diundang menjadi narasumber dari instansi pemerintah seperti Bank Indonesia dalam memaparkan awal berdikari hingga sukses berbisnis pempek. Untuk itu pesan Widy agar terus belajar dan tetap semangat.

Pelaku UMKM Penggerak Ekonomi Bangsa
Menyikapi banyaknya UMKM yang terdampak pandemi Covid-19, pemerintah menyiapkan trik untuk Perbaikan Ekonomi Nasional (PEN). Pemerintah telah berkolaborasi dengan seluruh instansi maupun lembaga dalam menata PEN. Salah satunya melalui pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Kepala OJK Kantor Regional 5 Sumatera Bagian Utara Yusup Ansori menyebut, selain kolaborasi lembaga, instansi serta media, dalam mendongkrak pemulihan ekonomi sangat perlu membangkitkan pelaku usaha. Sebab, pelaku UMKM dianggap menjadi penggerak perekonomian bangsa di masa pandemi Covid-19.
“Faktanya sekitar 59,7 juta adalah pelaku UMKM yang pada tahun 2019 menyerap hampir 95 persen dari total seluruh tenaga kerja, sekaligus memberikan kontribusi sebesar 61 persen terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto di Indonesia,” kata Yusup Ansori.
Senada juga disampaikan Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatera Utara Soekowardojo. BI Sendiri punya banyak program dalam hal membantu pemerintah untuk perbaikan ekonomi nasional. Salah satunya juga mendongkrak para pelaku UMKM. Salah satu program BI Sumut yaitu pagelaran Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU) di Tahun 2021. KKSU dilaksanakan BI Sumut berkolaborasi bersama pemerintah Sumatera Utara selama 4 hari yang dimulai sejak 16-19 September 2021. “Kita mendorong UMKM dalam memanfaatkan peluang untuk bertransformasi dan berinovasi di era,” ungkapnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Dr. Muhammad Yafiz mengakui pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia dan dunia telah menyebabkan dampak ekonomi yang serius. Sejumlah pelaku usaha mengalami kebangkrutan dan terancam gulung tikar akibat kehilangan pasar. Berbagai kebijakan pemeritah untuk membatasi penyebaran Covid-19 menyebabkan aktivitas ekonomi masyarakat secara fisik mengalami kelesuan dan bahkan tutup.
Namun demikian, sambungnya, tanpa disadari Covid-19 ini telah membuka pasar bisnis baru yang disebut pasar digital. Berdasarkan data yang diperoleh saat ini ternyata perkembangan pasar digital di Indonesia berkembang cukup cepat. Dari 270-an penduduk Indonesia, 125.6 persen pengguna seluler, 73.7 persen pengguna internet, 61.8 persen pengguna media sosial.
Yafiz menambahkan, pasar digital ini terbentuk selain karena kehadiran Covid-19 juga merupakan konsekuensi Revolusi Industri 4.0. Sederhananya, Covid-19 secara tidak langsung telah memaksa masyarakat dan pelaku usaha untuk melek digital. Sehingga tentu saja bagi pelaku usaha yang memahami keadaan ini akan memanfaatkan kondisi ini sebagai peluang bisnis dengan menjadikan pasar digital sebagai sasaran produknya. Persis dengan apa yang dilakukan Widy dengan produk pempeknya yang telah go digital.
“Di sinilah peran penting pemerintah untuk ikut mengedukasi masyarakat dan pelaku usaha agar melek dan mampu memanfaatkan digitalisasi dalam menjalankan dan mengembangkan usaha mereka,” ungkap Yafiz yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINSU itu.

Senada juga diungkapkan Praktisi Digital Marketing, Evan Budi Iswandi Siregar yang secara tegas menyatakan, pelaku UMKM mesti mengoptimalkan pasar digital. Sebab, di pasar digital, pelaku UMKM mendapatkan pasar yang lebih luas mengenalkan produknya kepada masyarakat (calon pembeli) dengan lebih baik, sehingga produk maupun personal branding pemilik UMKM tersebut juga akan lebih cepat terbentuk.
Sayangnya, lanjut Evan, terbilang masih banyak UMKM yang ogah go online dengan berbagai alasan. “Ada sekitar 70 persen penduduk indonesia sudah go online. Sementara data yang saya dapat terakhir dari situs kemenkopukm.go.id UMKM yang go online baru sekitar 19 persen,” sebutnya.
Selain karena keharusan di zamannya dan kebiasaan menggunakan online di masa pandemi, para pelaku UMKM menurutnya harus mampu go digital. Apalagi menurutnya produk para UMKM sekarang sudah sangat bagus.
“Namun kebanyakan dari mereka masih bingung bagaimana memasarkannya dan kepada siapa memasarkan produknya. Padahal, pasar digital ini sangat potensial. Jadi, bukan karena UMKM kita kalah saing dengan produk luar, produk UMKM Indonesia sangat bagus, dan unik,” pungkasnya. (*)











