NEWS  

Soal Pedagang Pasar Gambir Dianiaya, Istri Beni dan Pedagang Kelapa Beberkan Kesaksian

Share

Percut, ArmadaBerita.Com

Kasus saling lapor terkait penganiayaan antara pedagang cabai di Pasar Gambir, Pasar 8 Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan dengan Beni Saputra yang dituding sebagai Preman semakin menegang dan berbuntut panjang.

Polsek Percut Sei Tuan, bahkan sempat kewalahan, sampai-sampai Polrestabes Medan dan Polda Sumatera Utara turun tangan melakukan penyelidikan terhadap kasus yang sempat viral tersebut.

Dibalik kasus yang terjadi di Pajak Gambir Pasar 8, Desa Tembung, Kecamatan Percutian Sei Tuan, Deli Serdang, Sumut pada Minggu (5/9/2021) sekiranya pukul 09.00 WIB tersebut, ada fakta yang mencuat. Kali ini pengakuan dari Nurhalimah (31) istri dari Beni Saputra (39), serta pengakuan pedagang Kelapa bernama, Hendri (31) yang melihat langsung keributan di lokasi kejadian.

Dihadapan wartawan pada Minggu (10/10/2021) sore, istri Beni, menuding apa yang dituduhkan kepada suaminya tidak sepenuhnya benar soal dia menganiaya pedagang wanita di Pasar gambir bersama anak perempuannya yang bernama, Liti Wari Iman Gea (37) dan Tiara Ratna Sari (13) warga Jalan Persatuan, Gang Ramlan, Dusun 2 Tembung, Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan.

Dikatakannya bahwa, suaminya tak sedikitpun ada keterkaitannya dengan pengurus di Pajak Gambir, apalagi meminta iuran bulanan sebesar Rp 500 ribu seperti yang diutarakan Liti Wari Iman Gea (37) dan anaknya Tiara Ratna Sari (13).

Sebab, Beni bekerja mocok-mocok dan membantu istrinya berjualan Sop Buah di rumah kontrakan mereka di Jalan Kesuma 6, Pasar 10, Desa Bandar Khalipah, Percut Sei Tuan.

Kejadian itu bermula saat Nurhalimah mengajak suaminya Beni untuk berbelanja ke Pajam Gambir. Disana, Nurhalimah masuk ke pajak, sementara Beni menunggu di pinggiran jalan. Saat menunggu istrinya berbelanja, Beni melihat becak bermotor (Betor) milik Hato Ada Hura alias Pak Endang Hura (40) suami dari Liti Wari Iman Gea, dianggap mengganggu penggunan jalan karena parkir di bada jalan.

“Suami saya menyuruh becak mereka dipinggirkan karena terlalu ke tengah jalan dan menyebabkan macet. Suaminya (Hato Ada Hura) gak senang. Lalu ibu Gea itu mendatangi suami saya sambil marah-marah,” ungkap istri Beni.

Nurhalimah juga menyebut bahwa pedagang cabai itu (ibu Gea) sempat mendorong tubuh suaminya sampai terjatuh sehingga memicu adu mulut. Kesaksian sebenarnya itu diketahui Nurhalimah dari para pedagang di Pasar Gambir yang menyebutkan bahwa Beni tidak seperti yang dituduhkan Gea.

Menurutnya, keributan antara suaminya dengan ibu Gea baru diketahuinya begitu dirinya keluar dari dalam Pak Gambir. Sedangkan suaminya ribut dengan pedagang yang berjualan di emperan jalan.

“Suami saya di dorang sampai jatuh. Pas bangkit, dan suami saya mau melawan dilerai sama orang disitu. Badan suami saya dirangkul dan dipegangi. Keduanya terus cekcok dan Gea terus mengejar suami saya. Kalian boleh tanya kejadian sebenarnya kepada seluruh pedagang disana, siapa sebenarnya duluan yang salah,” tutur Nurhalimah lagi.

Hal senada juga diutarakan Hendri (31) selaku pedagang Kelapa yang mengaku mengetahui awal keributan di lokasi kejadian. Sebab, kata Hendri, keributan itu persis di depan tempatnya berjualan.

“Gara-gara becak awalnya bang. Lapak jualan mereka (Gea) ditambah lagi ada becaknya parkir disitu membuat kemacetan. Jadi, si Beni tadi menegur mereka agar becaknya dipindahkan, itulah mulanya,” aku Henri ketika ditanyai wartawan di tempat nya berjualan.

Hendri juga mengaku persoalan becak tadi berujung jadi keributan besar. Ibu Gea yang tak senang lantas mendatangi Beni. Keduanya terlibat cek-cok mulut berujung saling serang.

“Dari adu mulut sampai saling ludah meludahi. Jadi si ibu Gea ini mendatangi si Beni sambil memegang kunci diarahkannya ke si Beni. Lalu si Beni mau membalas tapi dipegangi oleh warga. Karena dipegangi, si Beni pakai kaki menendang dan kena bagian perut ibu Gea,” ungkapnya lagi.

Sementara pihak Beni juga mengaku cedera dibagian wajah dan dadanya akibat benda seperti kunci sepeda motor atau betor yang dipegang ibu Gea sehingga Beni membuat laporan aduan dengan bukti laporan STTLP/1740/IX/2021/SPKT Percut.

“Suami saya (Beni) luka goresan di bagian wajah dan dada. Itu sebabnya kami melapor dan kami duluan yang membuat laporan baru menyusul ibu itu. Kami kalahnya karena soal viral itu ajanya, padahal bukan sepenuhnya Beni yang bersalah. Soalnya kemana-mana Beni sering mengajak saya dan anak-anaknya,” ungkap Nurhalimah ibu dari tiga orang anak ini.

Nurhalimah juga mengakui jika ibu Gea juga melaporkan abang kandung Beni yang bernama Ferry dan adik kandungnya yang bernama Dedek dalam kasus itu. Ketiganya dianggap mengeroyok ibu Gea.

“Padahal saya dan suami saya yang ke pajak itu untuk berbelanja. Kalau abang ipar dan adik ipar saya dikabari karena adanya keributan itu dan keduanya berniat melerai. Bahkan mereka juga sempat luka karena kunci yang dipegang ibu Gea,” jelasnya.

Atas yang menimpa suaminya dan yang mebyudutkan suaminya itu, Nurhalimah berharap agar polisi benar-benar berlaku adil terhadap suaminya.

“Harapan kami untuk minta titik terangnya. Video yang beredar itu tidak sepenuhnya seperti itu (kesalahan suami saya). Kami minta sama penegak hukum, tunjukkan keadilan buat suami saya,” harapnya.

Seperti yang diberitakan, seorang wanita pedagang cabai di Pasar 8 Tembung sempat viral karena mengaku dianiaya oleh 4 orang preman. Pedagang cabai yang berma, Liti Wari Iman Gea (37) dan anaknya Tiara Ratna Sari (13) itu mengaku dipalak sebesar Rp 500 ribu oleh Beni Saputra.

Video yang sempat viral itu mempertontonkan seorang wanita pedagang di Pasar 8 Pajak Gambir nangis terisak-isak sambil terduduk dan menjadi perhatian banyak warga termaksud pedagang disana.

Dari video yang diunggah itu, netizen ramai mengecam aksi yang dilakukan Beni. Alhasil, beberapa elemen masyarakat turut mendesak polisi meringkus pelakunya hingga persatuan masyarakat Nias turut menggiring kasus itu. Sekitar dua hari dari kejadian itu, Beni Saputra akhirnya ditangkap Polsek Percut Sei Tuan, dari salah satu rumah makan di Pasar 10 Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang Senin (6/9/2021) malam.

“Tim saat ini sedang mengejar dua pelaku lainnya yaitu DD, dan FR. Kami menghimbau kepada kedua pelaku tersebut agar segera menyerahkan diri,” himbau Kabid Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Hadi Wahyudi didampingi Kapolrestabes Kombes Pol Riko Sunarko, Wadirkrimum AKBP Alamsyah dan Kasat Reskrim Komplo Rafles di halaman Mapolrestabes Medan, Sabtu (9/10/2021) malam. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *