EKBIS  

BI Sumut, Ajak Akademisi dan Praktisi Dalam Mendorong Ekonomi Sumut

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara bersama dengan Dewan Riset dan Inovasi (DRIN) Provinsi Sumatera Utara kembali menyelenggarakan Webinar Nasional 2 nd Sumatranomics, Kamis (15/7/2021).

Webinar Nasional 2 nd Sumatranomics ini dilakukan secara virtual dengan turut mengundang beberapa pembicara expertise di bidangnya, yaitu David Sumual selaku Chief Economist BCA dan Prof. Iwan Jaya Aziz, guru besar di Universitas Cornell dan Universitas Indonesia.

Kegiatan diawali dengan opening speech oleh Dr. Danilsyah selaku Sekretaris DRIN Provinsi Sumatera Utara yang mengaku memberikan dukungan terhadap kegiatan Sumatranomics dan mengajak serta masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam mensukseskan acara tersebut.

DRIN juga menyambut baik dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara karena telah dua tahun berturut mempercayai DRIN terlibat dalam Sumatranomics, dengan harapan kemitraan ini dapat membantu Provinsi Sumatera Utara dalam memperkuat ekonomi daerah dengan kebijakan berbasis riset.

Sejalan dengan upaya DRIN tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Soekowardojo menyampaikan bahwa kinerja perekonomian global terus mengalami perbaikan, meskipun di negara berkembang magnitudenya tidak sekuat di negara maju.

2 nd Sumatranomics menjadi salah satu langkah yang ditempuh oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara untuk memperoleh rekomendasi kebijakan untuk pemulihan ekonomi nasional khususnya di Sumatera. Maka dari itu, BI Sumut mengajak masyarakat, khususnya para akademisi dan praktisi dalam mendorong perekonomian di Sumut. Tuangan ide itu dapat dijaring melalui karya tulis.

“Tujuan penyelenggaraan 2 nd Sumatranomics 2021 ialah menjaring karya tulis dari akademisi dan praktisi khususnya terkait strategi mendorong percepatan pemulihan ekonomi wilayah Sumatera, khususnya pada era new normal,” kata Soekowardojo.

Kegiatan ini juga ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang perkembangan ekonomi dan isu strategis yang terjadi di wilayah Sumatera, sekaligus menggali rekomendasi dan solusi kreatif untuk mengatasi berbagai kendala yang ada di Sumatera.

“Hasil pemikiran yang dituangkan dalam paper dapat mendukung rekomendasi kebijakan kepada Pemerintah baik di tingkat regional Sumatera maupun Pemerintah Pusat,” ungkap Soekowardojo.

David Sumual, Chief Economist BCA menyampaikan bahwa beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia di tengah pandemi Covid-19 saat ini meliputi herd immunity yang masih rendah, permintaan yang lemah namun likuiditas meningkat, pasar modal di sektor teknologi yang masih tergolong lemah, serta ketersediaan SDM yang expertise belum memadai.

Namun di tengah tantangan tersebut, kata David, terdapat beberapa peluang emas yang dapat diambil, antara Iain relokasi industri yang akan dibangun di Indonesia sehingga diharapkan mampu meningkatkan investasi dan penyerapan tenaga kerja domestik, serta energi terbarukan yang saat ini menjadi boom baru di dunia termasuk Indonesia yang menjadi salah satu negara penghasil nikel terbesar di dunia.

Menurut dia, terpilihnya Sumatera Utara sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2024 tentunya menjadi potensi peluang untuk mendorong sektor konstruksi dan ekonomi Sumatera Utara. Sektor Iainnya seperti sektor pertanian, perdagangan, hingga pembangunan infrastruktur diprakirakan juga dapat memberikan multip/ier effect di Sumatera Utara.

Sejalan dengan peluang ekonomi yang telah disampaikan David Sumual, Prof. Iwan Jaya Aziz dari Cornel University dan Universitas Indonesia menyampaikan tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemulihan ekonomi di Indonesia, yaitu pandemic Shock, starting condition, dan post-pandemic prospect.

Dari sisi pandemic Shock, Prof. Iwan berpendapat bahwa krisis yang dihadapi saat ini bersifat unik, dimana tidak hanya berkaitan dengan aspek keuangan melainkan juga pada aspek kesehatan. Di sisi Iain, kondisi eksternal serta perkiraan kemiskinan yang cenderung meningkat juga perlu menjadi perhatian.

Dengan berbagai kondisi tersebut, Prof. Iwan menyatakan starting condition Indonesia antara Iain ketidakmerataan pendidikan yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai indikator pengukuran aspek human capital.

“Faktanya, secara kuantitas, kondisi pendidikan di Indonesia tidak terlalu berbeda dengan negara berkembang Iainnya. Namun, ditinjau dari aspek kualitas, pendidikan Indonesia masih perlu ditingkatkan,” urai Prof Iwan.

Aspek human capital Iain, kata Prof. Iwan tidak kalah penting dari tingkat pendidikan adalah sisi kesehatan, mengingat hal tersebut sangat berpengaruh terhadap produktivitas terutama di tengah kondisi pandemi saat ini.

Pada akhir pemaparannya, Prof. Iwan berpendapat pemulihan di Indonesia akan mengikuti K-Recovery Shape, sehingga untuk meminimalisir efek yang cukup besar. “Pemulihan Indonesia dapat difokuskan pada konteks yang lebih luas dan menyeluruh, yakni dengan mempertimbangkan ekonomi dari Sisi kesejahteraan manusia,” tuturnya.

Terakhir sebagai penutup kegiatan webinar, diinformasikan kembali bahwa 2 nd Sumatranomics Call for Paper telah berlangsung. Terdapat dua jenis kategori paper yang dilombakan yakni General Paper dan Regional Economic Mode/ling Paper. Batas penerimaan fu// paper pada 3 1 Agustus 2021 yang hasilnya akan diumumkan pada acara puncak di akhir Oktober 2021. Lomba terbuka untuk umum. Adapun informasi lebih detil dapat dilihat melalui website sumatranomics.com. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *