BRT Mebidang Mulai Diuji, 30 Bus Listrik Disiapkan Layani Medan-Binjai-Lubukpakam

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution menghadiri Launching Angkutan Umum Massal Bus Rapid Transit (BRT) Medan, Binjai dan Deliserdang (Mebidang) di Terminal Lubukpakam Kabupaten Deliserdang, Rabu (19/8/2026). Ist
Share

Deli Serdang, ArmadaBerita.Com — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mulai menguji operasional Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi sekaligus mengatasi kemacetan di kawasan metropolitan Medan, Binjai, dan Deli Serdang.

Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution mengatakan, keberadaan BRT harus diarahkan bukan sekadar menghadirkan armada baru, tetapi membangun sistem transportasi publik yang terhubung antarkawasan.

“Ini bukan launching bus, tapi transportasi yang terkoneksi dan terintegrasi,” kata Bobby saat meresmikan operasional BRT Mebidang.

Menurut dia, pemerintah perlu menyediakan transportasi umum yang nyaman, aman, terjangkau, dan tepat waktu seiring terus bertambahnya jumlah kendaraan pribadi. Integrasi antardaerah juga dinilai penting agar layanan BRT dapat menjadi alternatif mobilitas masyarakat yang benar-benar efektif.

Bobby bersama rombongan kemudian menjajal bus listrik dari Terminal Lubukpakam menuju Pos Blok Lapangan Merdeka Medan.

Kepala Dinas Perhubungan Sumatera Utara Yuda Pratiwi Setiawan mengatakan, pada tahap awal uji coba sebanyak dua bus listrik dioperasikan untuk mengevaluasi kondisi teknis, waktu tempuh, sekaligus mengenalkan layanan kepada masyarakat.

Operasi penuh ditargetkan dimulai pada 8 Desember 2026 dengan total 30 bus listrik.

Sebanyak 14 bus akan melayani Koridor 11 rute Teladan–Terminal Lubukpakam, 13 bus untuk Koridor 12 rute Simpang Barat–Binjai, sementara tiga bus disiapkan sebagai armada cadangan.

Selama masa uji coba, masyarakat dapat menggunakan BRT Mebidang secara gratis. Setelah memasuki tahap operasional penuh, tarif yang direncanakan sebesar Rp4.300 untuk penumpang umum dan Rp3.000 untuk kelompok khusus, seperti pelajar, penyandang disabilitas, dan lanjut usia.

Tekan kemacetan dan emisi

Direktur Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Muiz Thohir mengatakan, pembangunan BRT Mebidang merupakan bagian dari agenda pemerintah untuk mengembangkan sistem transportasi perkotaan yang lebih modern dan terintegrasi.

Ia menyoroti tingkat kemacetan Medan yang berdasarkan TomTom Traffic Index mencapai sekitar 54,2%. Kondisi tersebut membuat perjalanan yang semestinya dapat ditempuh dalam waktu singkat menjadi lebih lama akibat kepadatan lalu lintas.

Karena itu, transportasi publik dinilai memiliki peran penting dalam mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, sekaligus menekan konsumsi energi dan emisi karbon.

“Pembangunan bukan semata proses fisik. Ada investasi bagi kualitas hidup masyarakat, produktivitas ekonomi serta masa depan yang lebih hijau,” ujar Muiz.

Program BRT Mebidang juga menjadi bagian dari program BRT Transit yang dikembangkan Kementerian Perhubungan di kawasan Medan dan Bandung Raya sebagai proyek percontohan dengan dukungan Bank Dunia.

Dengan pengoperasian BRT listrik tersebut, pemerintah berharap masyarakat di kawasan Mebidang memiliki pilihan mobilitas yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Tantangan berikutnya adalah memastikan layanan berjalan konsisten, tepat waktu, aman, serta terintegrasi sehingga masyarakat benar-benar tertarik beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *