Oleh: Mardi Panjaitan*)
Remaja dengan disabilitas sering kali kita pandang hanya dari keterbatasannya. Karena mereka tuna netra, tuli, atau memiliki hambatan intelektual, kita lupa bahwa mereka juga manusia biasa yang mengalami pubertas, memiliki rasa ingin tahu soal tubuh mereka, dan bisa tertarik pada lawan jenis.
Sayangnya, pembicaraan soal kesehatan reproduksi masih dianggap tabu, apalagi di lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB).
Padahal, mereka sangat membutuhkan informasi yang tepat, aman, dan mudah dipahami soal tubuh mereka dan bagaimana menjaga diri. Ini bukan soal “mengajari anak-anak hal yang belum waktunya,” tapi soal menyelamatkan mereka dari risiko yang lebih besar.
Kenapa Pendidikan Kespro Itu Penting di SLB?
Ada beberapa alasan mendesak mengapa pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) penting untuk siswa di SLB:
- Mereka lebih rentan terhadap kekerasan seksual. Karena keterbatasan dalam berkomunikasi dan membela diri, mereka bisa menjadi target empuk pelaku kejahatan. Dengan pendidikan kespro, mereka bisa belajar mengenali sentuhan yang tidak pantas dan tahu harus bicara ke siapa jika terjadi sesuatu.
- Akses informasi terbatas. Tidak seperti anak-anak di sekolah umum yang bisa lebih mudah mengakses informasi, siswa SLB sering kesulitan memahami atau mencari tahu sendiri soal perubahan tubuh mereka.
- Mereka juga mengalami pubertas. Menstruasi, mimpi basah, perubahan fisik—semuanya mereka alami. Tapi tanpa bimbingan yang benar, perubahan ini bisa membingungkan dan menakutkan.
- Mencegah kehamilan dan infeksi menular seksual (IMS). Mereka juga harus tahu apa itu hubungan seksual yang sehat dan aman, meskipun hanya sebatas pemahaman untuk melindungi diri.
- Membangun kemandirian dan pemenuhan hak. Anak disabilitas juga punya hak tahu soal tubuh mereka dan bagaimana menjaganya. Ini adalah bagian dari hak atas pendidikan dan kesehatan.
SLB Harus Aktif, Tapi Siapa Bertanggung Jawab?
Di SLB Negeri Pembina Medan, kami sudah mulai bergerak. Kami bentuk Tim Penanggulangan dan Pencegahan Kekerasan (TP2K) di sekolah yang secara rutin mengedukasi siswa soal bullying dan kekerasan seksual.
Kami juga rutin menyisipkan edukasi kespro dalam apel pagi dua kali seminggu—dengan lagu dan gerakan yang membuat anak lebih mudah mengerti. Bahkan saat orientasi siswa baru, kespro jadi salah satu materi wajib.
Untungnya, beberapa guru di sekolah kami juga sudah jadi Duta Kespro. Tapi, semua ini belum cukup. Ini bukan hanya tugas guru atau sekolah. Orangtua, masyarakat, dan pembuat kebijakan juga harus ambil bagian. Karena kalau anak-anak tidak mendapatkan informasi dari lingkungan yang aman, mereka bisa mencarinya sendiri—dan itu bisa berbahaya.
Yuk, Jangan Tutup Mata!
Pendidikan kespro di SLB adalah tanggung jawab bersama. Jangan biarkan anak-anak hebat ini jadi korban karena kita lalai memberikan mereka bekal yang sangat mereka butuhkan.
Sudah saatnya kita akui: remaja disabilitas juga punya hak atas masa depan yang aman, sehat, dan bermartabat. Mari lindungi mereka dengan pengetahuan, bukan dengan pembatasan. (*)
*) Penulis adalah Kepala SLB Negeri Pembina Medan, dan saat ini sedang menempuh pendidikan Magister di Pasca Sarjana Jurusan Pendidikan Khusus Universitas Negeri Padang (UNP).











