NEWS  

MARGAMBIR: Menyulam Hidup dari Dedikasi dan Daun Gambir

Share

Phakpak Barat, ArmadaBerita.com – Di tengah kesejukan desa Bandar Baru – Panggegean, Kecamatan STTU Hehe, Phakpak Bharat, pertanian gambir menjadi sentra kehidupan bagi masyarakatnya. Tanaman gambir, atau Uncaria gambir, bukan sekadar flora yang tumbuh subur di antara pohon durian dan karet; itu adalah benang yang menjalin kehidupan sehari-hari mereka.

Gambir, dengan kandungan katekinnya sebagai antioksidan alami, bukan hanya menjadi elemen penyirih, tetapi juga pelindung gigi, penyembuh sakit mulut, dan bahkan obat mujarab untuk luka bakar dan diare. Keajaiban ini menjadi semakin nyata ketika daun gambir diolah melalui praktik margambir di desa ini.

Setelah satu tahun tumbuh, pohon gambir disambut dengan tangan telaten para petani. Rantingnya dipangkas dengan hati-hati, dan daunnya dikumpulkan untuk proses selanjutnya. Ritual perebusan dalam dandang besar dengan kayu bakar menciptakan aroma yang khas, menciptakan getah gambir lembut yang berwarna coklat merah muda.

Proses setelahnya, dari pemadatan dengan beban kayu hingga pengeringan di bawah sinar matahari, menggambarkan perjalanan keringat dan kerja keras. Masing-masing keluarga, dengan keahlian turun-temurun, mampu menghasilkan 5-10 kg gambir setiap hari. Harga per kilogramnya, berkisar antara 30-40 ribu, bukan hanya menentukan nilai produk tetapi juga kesejahteraan masyarakat desa ini.

Pendapatan dari margambir menjadi tulang punggung kehidupan sehari-hari dan pendidikan anak-anak di desa Pangegean. Namun, di balik keharmonisan proses ini, doa dan harapan melekat. Harapan agar Tuhan terus memberkati para petani gambir dengan kelimpahan hasil pertanian. Harapan juga agar pemerintah menjaga stabilitas harga, memastikan keberlanjutan mata pencaharian ini.

Margambir, lebih dari sekadar kegiatan pertanian. Ia adalah simbol dedikasi, kearifan lokal, dan ketahanan sebuah komunitas. Dalam setiap daun yang direbus dan setiap kilogram gambir yang dikeringkan, terpahat cerita kuat akan kehidupan yang bersatu dan menghadapi tantangan dengan semangat yang tak tergoyahkan.

Semoga, melalui tangan-tangan mereka, tanaman gambir dan kehidupan di desa ini terus berkembang, menjadi semakin subur dan bermakna. (Sakiben Sinaga) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *